Featured

Beauty

Tampilkan postingan dengan label Realigi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Realigi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2016

Panwascam Meral Barat

Kisah Nenek Pemetik Daun

    Tidak ada komentar:

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?

Kamis, 29 September 2016

Panwascam Meral Barat

Hukum Alam : Dimana-Mana Mayoritas yang Mendominasi




"Melindungi minoritas adalah keharusan - tapi terus melemahkan mayoritas adalah kebodohan."

Majority (kelompok terbesar) dalam suatu wilayah sudah sepatutnya mengambil alih tampuk kekuasaan dalam bidang apapun, termasuk dalam menjalankan roda pemerintahannya. Tidak ada ceritanya di dunia ini minoritas bisa memimpin mayoritas, apapun itu alasannya sebab sudah menjadi hukum alam (sunnatullah).

Di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka wajib hukumnya untuk mengangkat pemimpin di sana adalah umat Islamnya. Demikian pula jika di negeri atau wilayah yang mayoritasnya non muslim, maka berlakulah hukum yang sama (azaz keadilan).

Tidak bisa diabaikan dan tak bisa dibolak-balik. Pengabaian terhadap “hukum” ini sama saja artinya dengan melakukan pelecehan dan merendahkan suara kaum mayoritas, akibatnya tentu saja akan menimbulkan konflik yang cukup fatal. Makanya di Bali dan Papua tak mungkin dipimpin gubernur muslim.Keseimbangan itulah yang tetap membuat kehidupan sosial berjalan dengan aman dan damai.




Panwascam Meral Barat

Tanda Hitam di Dahi, Benarkah Pertanda Rajin Sholat?


Namun ada hal yang perlu digaris-bawahi secara hati-hati. Sebab banyak di antara umat Islam yang kemudian memahami ayat ini secara harfiyah.

SAAT ini sudah tidak asing bagi kita melihat orang-orang yang memiliki noda hitam di dahi mereka. Banyak yang mengatakan, noda tersebut timbul karena seseorang sering melakukan sujud. Benarkah hal itu?
Istilah ‘Bekas sujud’ di dahi yang bisa dilihat dalam surat ke-48, yaitu Surat Muhammad dan perhatikan ayat yang ke-29.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,” (QS. Muhammad: 29).
Jika diperhatikan isi informasi ayat di atas, istilah ‘bekas sujud’ bukan hanya populer di dalam Quran, melainkan juga ada di dalam kitab sebelumnya, seperti Taurat dan Injil, yang asli tentunya. Dan ‘bekas sujud’ itu menjadi ciri khas para shahabat nabi Muhammad SAW.

Namun ada hal yang perlu digaris-bawahi secara hati-hati. Sebab banyak di antara umat Islam yang kemudian memahami ayat ini secara harfiyah. Bekas sujud itu kemudian dipahami sebagai warna kulit yang kehitaman di dahi seseorang.

Apakah memang benar? Dan apakah warna kehitaman di dahi itu selalu menunjukkan keimanan dan ketaqawaan seseorang?

Nah, di sini kita harus sedikit lebih cermat. Memang bisa saja karena seseorang banyak melakukan shalat, termasuk shalat malam, maka secara tidak sengaja, dahinya jadi berwarna kehitaman. Tentu hal ini baik, bukan sekedar karena dahinya berwarna hitam, tetapi karena memang banyak shalat.

Namun kalau secara sengaja ditekan-tekannya dahinya ke lantai, agar bisa membekas dan akhirnya berwarna kehitaman, tentu lain urusannya. Sebab esensi ayat itu bukan para warna hitam di dahi, melainkan karena banyaknya shalat.

Dan banyak shalat itulah yang ingin dikemukakan oleh ayat ini, yakni bahwa mereka adalah orang yang sering dan banyak melakukan shalat. Dan disebutkan dengan istilah bekas sujud, karena sujud itu identik dengan shalat, ditambah lagi sujud itu selalu dilakukan 2 kali dalam satu rakaat. Padahal semua gerakan yang lain hanya dilakukan 1 kali saja.

Kita harus hati-hati dalam masalah dahi hitam ini, sebab alih-alih mendapat pahala, boleh jadi kalau diiringi dengan rasa sombong dan riya’, malah akan jadi bumerang.

Bukankah Allah SWT telah berfirman tentang celakanya orang yang shalat namun lalai dan berperilakuriya’. Dan salah satu pintu riya’ dari ibadah shalat ini adalah memamerkan dahi yang berwarna kehitaman itu di depan manusia. Lalu seolah berbangga bahwa dirinya adalah orang paling dekat kepada Allah serta selalu paling benar dalam semua hal.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al-Maun: 1-3)

Bekas Sujud Akan Nampak di Akhirat
Kita menemukan hadits yang shahih terkait dengan fungsi ‘bekas sujud’ ini. Namun manfaatnya bukan untuk dikenal orang di alam dunia ini, melainkan untuk bisa dikenali Allah SWT di akhirat nanti.
Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka, maka Dia memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allah. Lalu malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenali karena ada bekas sujud pada wajahnya. Dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka keluar dari neraka. Seluruh anak Adam bisa dimakan api neraka, kecuali bekas sujud. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa orang yang shalatnya baik di dunia ini dan punya bekas sujud, nanti di akhirat kalau sudah terlanjur masuk neraka, akan dikeluarkan dari dalamnya. Dan cara untuk mengenalinya adalah dari cahaya bekas sujud yang memancar dari dahinya.
Dan bahwa cahaya bekas sujud itu tidak akan hilang termakan oleh panasnya api neraka.
Adapun bekas sujud yang sifatnya seperti cahaya di akhirat nanti, kita dapati keterangannya dari hadits lainnya berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari kiamat kelak.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, bagaimana anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?” Beliau menjawab, “Tidakkah kamu lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya? Bukankah kamu dapat mengenalinya?” “Ya”, jawab shahabat. “Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudhu’. (HR Ahmad dan Tirmizy)

Semoga Allah SWT menjadikan dahi kita ini memancarkan cahaya di akhirat nanti, sehingga termasuk orang yang akan dibela oleh Rasulullah SAW.

Sumber: Rumah Fiqih

Rabu, 21 September 2016

Panwascam Meral Barat

Upload Foto di Sosmed. Haramkah?


Assamualaikum Wr. Wb

Judul diatas tergolong ekstream, ya kata haram sebenarnya tidak pantas dilekatkan pada judul tersebut pada zaman sekarang. Sebaiknya kata "berdosakah" yang tepat judul di atas, namun bukan demi sesuatu yang menarik hal semacam ini wajar di dunia literasi. Judul yang menarik dan unik dapat mengunggah jiwa seseorang untuk membacanya. Apalagi judul yang berkaitan dengan cinta, jodoh, nikah dan serba-serbi dunia anak muda masa kini. Tetapi, memang benar adanya bahwa para ulama telah sepakat tentang haramnya mengambar makhluk hidup yang bernyawa. Syaikh Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqih Sunnah Juz 3 Hal 369 beliau mengatakan, “Telah jelas hadits mulia yang shahih tentang larangan memahat patung dan mengambar makhluk yang bernyawa. Baik itu manusia, hewan atau pun burung, adapun menggambar sesuatu yang makhluk yang tak bernyawa seperti tumbuhan atau bunga dan semisalnya maka hal itu di perbolehkan.”

Senada dengan Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam kitabnya Mausuu’ah Al Manaahisy syar’iyah Fi Shahiihis Sunah An Nabawiyyah ia juga mengaharamkan Gambar bernyawa, “Haram hukumnya gambar dan lukisan (makhluk yang bernyawa karena termasuk menyaingi ciptaan Allah). 

Adapun dalil –dalil tentang Haramnya gambar dan memasang di dalam rumah, diantaranya sebagai berikut.

“Jibril ‘alaihis salam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. An-Nasai no. 5365. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

“Bahwa tatkala Nabi melihat gambar di (dinding) Ka’bah, beliau tidak masuk ke dalamnya dan beliau memerintahkan agar semua gambar itu dihapus. Beliau melihat gambar Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas ssalam tengah memegang anak panah (untuk mengundi nasib), maka beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka, demi Allah keduanya tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah sekalipun. “ (HR. Ahmad  1/365. Kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan periwayatnya tsiqoh, termasuk perowi Bukhari Muslim selain ‘Ikrimah yang hanya menjadi periwayat Bukhari)

“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupakan makhluk Allah.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107 dan ini adalah lafazh Muslim).

Sudah dibaca? Nah, sekarang kita tahu hadistnya mengenai maksud mengapa dilarang. Namun ada ulama juga yang mentolerir ini semua seperti yang dikemukakan oleh Syaikh rahimahullah. 

Beliau menjawab, “Gambar yang mesti dihapus adalah setiap gambar manusia atau hewan. Yang wajib dihapus adalah wajahnya saja. Jadi cukup menghapus wajahnya walaupun badannya masih tersisa. Sedangkan gambar pohon, batu, gunung, matahari, bulan dan bintang, maka ini gambar yang tidak mengapa dan tidak wajib dihapus. Adapun untuk gambar mata saja atau wajah saja (tanpa ada panca indera, pen), maka ini tidaklah mengapa, karena seperti itu bukanlah gambar dan hanya bagian dari gambar, bukan gambar secara hakiki.”

Oke, sekarang kita paham tujuan dilarangnya memajang foto dirumah dan dimana saja. Tetapi dalam konteks dunia yang modern ini, hal semacam ini boleh di toleransi. Menurut sebagian ulama. Bahwa Selain pendapat-pendapat ulama tentang gambar tadi diatas, ada pula ulama berpendapat bahwa yang terlarang itu adalah patung-patung dan gambar-gambar yang sempurna rupanya. Adapun gambar yang dipotong kepalanya atau badannya hanya separuh, maka itu tidak terlarang, dengan hadits sebagai berikut:

Barangsiapa membuat satu shurah, maka di hari Kiamat ia akan dipaksa untuk memberikan ruh kepadanya, padahal ia tidak bisa. (H.S.R. Bukhari)

Adapun shurah di sini pengertiannya ialah rupa, Gambar, Patung dsb, dari manusia ataupun yang lainnya.

Demikian penjelasan ilmiah ini, jika ada yang salah maka dimaafkan dan beri kritikan yang sopan. Perlu diketahui saya dan para ulama di atas hanyalah manusia biasa, jadi salah dan khilaf adalah bagian dari manusia yang penuh kewajaran.

Wallahu a'lam

Selasa, 13 September 2016

Panwascam Meral Barat

Berilmu Hanya Usaha Mendekatkan Kepada Allah Swt


Allah swt. memerintahkan kepada umat manusia agar berpengetahuan luas supaya manusia dapat memanfaatkan potensi yang terkandung di dalam alam semesta yang telah Allah swt. sediakan kepada manusia.

Perintah Allah swt. supaya manusia berpengetahuan sangat jelas sekali di dalam Al-Qur’an surah Al-‘Alaq ayat pertama, yaitu, Iqra’ (bacalah). Bacalah apa yang perlu dibaca, bacalah dengan hati, pikiran, dan pengamatan. Dengan banyak membaca seseorang akan menjadi banyak tahu, dengan banyak tahu ia akan menjadi berilmu dan bahkan menjadi ilmuan.

Dalam sejarahnya, ayat Iqra’ tersebut turun kepada Muhammad saw. yaitu, kepada masyarakat yang masih belum banyak mengenal baca dan tulis, namun demikian, Muhammad saw. sudah mempunyai daya pikir serta analisa yang tajam atas berbagai kejadian serta fenomena yang ada di masyarakatnya.

Kecintaan Muhammad saw. akan ilmu serta supaya ummatnya menjadi ummat yang berpendidikan salah satunya ia tunjukkan dalam kasus perang badar. Dalam perang badar kaum muslimin memperoleh kemenangan yang besar. Pasukan yang berjumlah kecil yaitu kaum muslimin dengan jumlah 313 tentara dapat mengalahkan pasukan kaum musyrikin yang berjumlah besar, yaitu 1000 tentara pasukan perang.

Banyak dari tentara kaum musyrikin yang ditawan oleh pasukan kaum muslimin. Muhammad saw. sebagai komandan tertinggi pasukan kaum muslimin dengan budi pekertinya yang luhur serta sifatnya yang lembut memerintahkan kepada kaum muslimin agar memperlakukan tawanan secara manusiawi. Para tawanan yang mempunyai harta bisa bebas dengan menebus dirinya dengan hartanya. Bagi mereka yang tidak mempunyai harta juga bisa bebas dengan ilmunya, syaratnya mereka yang pandai membaca harus mengajarkan cara baca kepada anak-anak kaum muslimin, sedangkan mereka yang pandai menulis harus mengajarkan ilmu tulisnya kepada anak-anak kaum muslimin.

Kasus di atas merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dibantah. Muhammad saw. sangat menghargai orang-orang yang berilmu serta mencintai ilmu. Ia sangat bercita-cita agar ummatnya menjadi ummat yang berpendidikan. Begitu pentingnya ilmu dalam salah satu sabdanya ia mengatakan, man salaka thariqan yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalallohu lahu thariqon ilal jannah, barang siapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menggapai ilmu maka Allah mempermudah baginya jalan menuju ke surgaNya.

Ilmu dalam hal ini tidak terbatas kepada ilmu tertentu tetapi mencakup ilmu-ilmu apa saja, ilmu-ilmu eksakta atau noneksakta (ilmu-ilmu umum atau ilmu-ilmu agama). Kaum muslimin harus menguasai ilmu dalam berbagai bidang. Sebab kemajuan tidak akan bisa tercapai tanpa ilmu. Sejarah membuktikan kemajuan dan kejayaan Islam masa lalu karena kaum muslimin menguasai ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

Di dalam ajaran Islam, ilmu apapun itu haruslah berupa ilmu yang membawa kepada pendekatan diri kepada Allah swt. Seseorang harus insaf bahwa, potensi, minat, dan bakat merupakan karunia dari Allah swt. Maka ilmu apapun yang sudah dikuasainya haruslah dibawa kepada kesadaran akan ke-Maha Besaran dan kekuasaan Allah swt.

Dengan ilmu yang dikuasainya seseorang tidak boleh sombong dan angkuh. Kemudian meremehkan orang lain dan berbuat semena-mena di alam semesta, seperti membuat kerusakan demi keuntungan pribadi. Sekali lagi ia harus ingat bahwa, potensi, minat, dan bakat yang melekat dalam dirinya hanyalah pemberian Allah swt. semata-mata. Bahkan, ilmu itu sendiri adalah milik Allah swt., sedangkan manusia hanya sekedar memakainya saja.

Seperti inilah yang dikhawatirkan oleh Muhammad saw. Manusia dengan ilmunya menjadi angkuh dan sombong, mereka merasa bahwa ilmu yang ada pada dirinya merupakan hak miliknya, ia menganggap bahwa dengan ilmunya ia menganggap sudah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya serta mampu menjawab berbagai permasalahan dalam kehidupannya, ia telah melupakan Allah swt. Ia dengan ilmunya bukan menjadi dekat kepada Allah swt. tetapi malah semakin jauh dari Allah swt.

Sumber dari : Media Portal Pks (Dakwatuna.com)

Senin, 05 September 2016

Panwascam Meral Barat

Cerita Simbolik Mengenai Pengharaman Babi


Ada persamaan babi dan manusia. Yaitu bahwa ia tidak dapat dikuliti kecuali dengan memotong sebagian dari daging yang menyertainya, berbeda dengan binatang-binatang lain. Binatang yang satu ini sangat kotor, konon lalat saja enggan hinggap di dagingnya. Sifatnya yang buruk dan nafsunya sungguh begitu besar.

Memang, makanan dan minuman dapat mempengaruhi manusia. Pengaruhnya bagi fisik sudah tidak asing lagi. Bahkan ada minuman yang juga mempengaruhi manusia, minuman keras misalnya. Jiwa manusia akan berdampak buruk dengan memberinya semangat tanpa perhitungan untuk melakukan aktivitas. Karena itu banyak penjahat meminumnya sebelum beraksi.

Jika kita tidak menemukan jawaban yang memuaskan nalar kita menyangkut pandangan agama tentang babi, maka katakanlah bahwa pengharaman babi oleh agama islam -dan sebelumnya oleh agama Yahudi- adalah berdasar satu sistem dimana rincian sistem itu tidak harus selalu dipahami nalar.  Katakanlah ia seperti sistem lalu lintas.

Di Indonesia dan di Inggris misalnya, kemudi mobil diletakkan di sebelah kanan kendaraan berbeda dengan di Amerika, Jerman, atau Timur Tengah dan banyak negara lain selain itu. Mengapa demikian? Kita tidak harus memperoleh jawaban, tetapi bila kita berada di Indonesia atau Inggris, kita harus mematuhi ketentuan yang berlaku di kedua negara tersebut. Dan juga berada di negara Amerika, Jerman atau Timut Tengah dan lainnya. Nah, demikian juga bila kita menganut agama islam, kita harus mematuhi ketetapan Allah yang menggaramkan babi, baik kita ketahui atau tidak.

Di sisi lain, perlu di ingat kisah simbolik yang dikemukakan oleh Imam Ghazali.
Seseorang ayah berpesan kepada anaknya, agar setelah kematiannya ia boleh merenovasi rumah mereka, tetapi sang ayah melarangnya menebang sebuah pohon. Setelah kematian sang ayah, anak itu merenovasi rumah. Ketika itu dia berfikir tentang pohon yang dipesankan ayahnya. "Ayah melarangku menebangnya, karena aroma kembangnya yang harum. Kini ada pohon yang beraroma lebih harum yang belum diketahui ayahku." Lalu ia menebang pohon terlarang itu. Beberapa hari kemudian, muncul seekor ular yang menyerangnya yang berasal dari pohon yang telah ditebang tersebut. Ketika itu barulah sang anak sadar, bahwa aroma pohon yang ditebang, di samping sedap dihirup manusia, dia juga menangkal datangnya ular. Demikian, nalar sabg anak terbatas dan hanya mengetahui sebagian dari tujuan larangan ayahnya. Begitu ilustraaj Imam Ghazali.

Jika demikian, tak mengapalah kita tidak mengetahui rahasia larangan Allah, bukankah masih amat banyak makanan lain yang lebih lezat dan sehar yang dapat dimakan ?
Panwascam Meral Barat

Aneka Makhluk Allah


Beraneka ragam makhluk Allah di permukaan bumi ini di alam raya, dan bertingkat-tingkat keadaan mereka. Di bumi yang kita huni ini kita melihat batu serta mengenal manusia. Batu adalah benda keras dari kumpulan benda-benda kecil yakni mineral, bewarna warni dan memiliki kualitas yang berbeda-beda, sehingga dikenal istilah batu mulia dan batu bata. Demikian juga manusia, mereka bertingkat-tingkat kualitasnya, bahkan semua mahluk memiliki peringkat kualitas.

Makhluk-makhluk ciptaan ada yang bersifat bendawi dan ada pula yang tidak demikian. Makhluk yang bersifat bendawi bertingkat-tingkat juga dan sejalan dengan sifat terpuji (baik) yang disandangnya.
Tumbuhan lebih tinggi tingkatannya dari pada batu-batuan. Karena, yang ini merasa dan bergerak -bahkan boleh jadi tahu- sedang batu-batuan tidak demikian, paling tidak demikianlah pandangan kita sebagai manusia.

Baca artikel sensasional : Rokok Haram Atau Mubah

Selanjutnya mutiara, walau dapat dinilai benda tak hidup, tetapi dia memiliki sedikit kehidupan yang menjadikannya memperoleh peringkat tinggi dari bebatuan, walau tidak setinggi tumbuhan.
Pohon zaitun atau kurma memiliki peringkat lebih tinggi lagi. Ia di nilai kehidupannya mendekati kehidupan terendah binatang sebab memiliki keistimewaan.

Binatang pun bertingkat-tingkat. Ada yang melahirkan dan menyusukan anaknya dan ini lebih tinggi dari pada yang tidak demikian. Lalu ada yang dapat dididik dan ada yang tidak dapat. Yang dapat dididik betingkat-tingkar lagi, hingga mencapai tingkatnya yang tertinggi -seperti monyet misalnya- dan dari sana beralih tingkatan itu ke tingkat manusia.

Lalu, manusia juga bertingkat-tingkat. Tingkatannya antara lain ditentukan oleh pengetahuan, kepekaan dan geraknya. Semakin dalam, haus dan bebas geraknya, maka semakin tinggi tingkatannya. Pengetahuan menuntut tanggung jawab. Karena itu, semakin tinggi tanggung jawab seseorang semakin tinggi pula kedudukannya. Contohnya perbandingan orang dewasa dengan anak-anak.

Di sisi lain, siapa yang tidak bertanggung jawab -walau dewasa dan berpengetahuan, orang gila misalnya- maka tidaklah dia memiliki kedudukan yang tinggi. Demikianlah, sehingga pada akhirnya kita menemukan bahwa keberhasilan mempertanggung jawabkan tugas adalah poko tolok ukur kedudukan manusia. Karena itu, manusia dewasa dan waras tetapi tidak bertanggung jawab, kedudukannya sangat rendah, bahkan boleh jadi lebih rendah dari pada binatang.

Rasul saw. mengibaratkan manusia dengan batu (tambang). Ada tambang emas, ada perak, batu bara dan lain-lain. Semakin tinggi nilai dan kualitasnya semakin mulia ia. Nilai dan kualitas itu -bagi manusia- adalah penyerapan nilai-nilai agama serta penghayatan dan pengalamannya. Menurut ulama di abad 21 itu adalah Takwa dalam bahasa Al-Qur'an.

Demikian, Wa Allah A'lam

Kamis, 25 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Tidak Eksisnya Tuhan Berarti Keadilan Untuk Seluruh Manusia Di Dunia

    Tidak ada komentar:

Bagi manusia yang beragama ungkapan bahwa Tuhan itu maha adil sudah menjadi salah satu roh dalam berkehidupan mereka, mencari jodoh, rezeki, maupun nilai kuliah semua berpatokan dengan ungkapan “ah Tuhan itu pasti adil”. Kemudian korelasi dengan perkataan “tiada hasil yang mengkhianati usaha” yang telah menjadi hits dalam status di media sosial anak ABG kini kian menjadi suatu tolak ukur yang baik untuk menilai rasa adil Tuhan, selalu bersemangat menjalani hidup baik susah maupun senang. Itu la Adil sebuah kata yang berarti sama (tidak dibeda-bedakan).

Di salah satu artikel, saya pernah mengungkit rasa keadilan yang diberikan oleh Tuhan jauh melebihi dari hakim (manusia).  Mengingat manusia adalah tempat salah dan khilaf yang artinya tidak ada yang namanya sempurna di mata Tuhan karena hanya-Nyalah yang patut kita berikan kata sempurna. Nabi-nabi besar sekali pun di setiap agama tidak pantas dikatakan sempurna di hadapan-Nya, namun tidak menutup kemungkinan di mata kita.

Kembali ke rasa adil, mencermati keadilan di dunia ini indah rasanya bila kita menyinggung keadilan yang diberikan oleh Tuhan. Dalam konteks agama ingin saya katakan. Adilkah tuhan bila berwujud? lalu bagaimana dengan manusia yang buta, apakah ia bisa melihat sebagaimana temannya yang dapat melihat Tuhan? Ada 4 indera berada di tubuh manusia –Indra perasa tidak termasuk- yang semuanya sampai zaman modern ini tidak dapat manusia kembangkan menjadi alat untuk melihat, mendengar, mencium dan meraba zat-Nya. Bayangkan saja bila dari manusia diciptakannya terdapat yang tidak memiliki salah satu dari indra tersebut? Sangat logika jika tujuan Tuhan tidak ingin eksis adalah untuk mengisyaratkan bahwa maha adil yang dimiliki-Nya adalah keadilan yang paling Agung (Tinggi dari segala keadilan yang ada di dunia).

Minggu, 10 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Pacaran ? Nabi Muhammad Juga Mengalaminya (Tetapi Secara Islami)

    Tidak ada komentar:

Sejumlah orang masih belum mengerti mengenai pacaran dalam Islam. Mereka menyangka: “Islam hanya mengenal ta’aruf sebelum pernikahan.” Lantas untuk menolak islamisasi pacaran, mereka pun mengajukan pertanyaan: “Apakah pernah Siti Khadijah pernah pacaran dengan Nabi Muhammad SAW sebelum menikah? Apakah pernah salah satu sahabat Rasullah SAW pernah pacaran sebelum menikah? Bukankah pacaran itu merupakan produk Barat?”

Tri Minarni
Berikut adalah tanggapan dan jawaban saya :
Pacaran bukanlah produk Barat. Pada zaman Nabi Muhammad SAW pun sudah terdapat budaya “pacaran” (dalam arti “saling ekspresikan cinta”). Beliau tidak melarangnya, tetapi justru merestuinya. 


Tidaklah benar bahwa Islam mensyariatkan “ta’aruf sebelum pernikahan”. Yang disyariatkan adalah tanazhur, yang kami sebut sebagai pacaran islami. 
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pun pernah “pacaran” (dalam arti “bercinta pra-khitbah“) sebelum menikah. Metode “pacaran” yang mereka gunakan adalah tanazhur (saling menaruh perhatian). 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku telah diberi karunia dengan cintanya Khadijah kepadaku.” (HR Muslim, Bab “Keutamaan Khadijah”)

Ibnu al-Atsir menceritakan dalam Tarikh-nya bahwa setelah mendengar kabar tentang sifat-sifat Muhammad SAW, Siti Khadijah menawarkan kesempatan kepada beliau untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Tawaran ini diterima dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar (daripada bila dibawa oleh orang lain). Lantas, Ibnu al-Atsir mengungkapkan “Siti Khadijah sangat gembira menerima keuntungan yang besar itu, tetapi kekagumannya kepada orang yang telah diujinya itu jauh lebih mendalam.” (Kekaguman yang mendalam inilah yang kita kenal sebagai rasa CINTA. Sedangkan ekspresinya kita sebut sebagai “bercinta“.)

Kamis, 07 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Apa Itu Islam Moderat ?

    Tidak ada komentar:
Paham Islam yang Moderat pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan paham Islam-Liberal, Islam-Nusantara, dan paham lain yang mencoba menggandengkan istilah Islam dengan istilah yang asing dengan Islam. Bahkan istilah tersebut bertolak belakang secara diametral dengan Islam. Hakikat dari semua paham ini sesungguhnya  mencoba adalah memalingkan umat Islam dari pemahaman Islam yang sesungguhnya.
Selain untuk memalingkan pada pemahaman Islam yang sesungguhnya, umat juga dihantui dan didikotomikan dengan paham Islam radikal (menurut versi Barat) dan paham Islam-terorisme.  Semua upaya ini memiliki tujuan satu, menjauhkan umat Islam dari hakikat Islam yang akan sesungguhnya, yang akan membawa rahmat lil alamin  dengan penerapan Syari’ah dan Khilafah.
Ide Islam yang Moderat  sesungguhnya bukan pemahaman orisinil dari Islam dan  tidak memiliki historis keilmuan di kalangan fuqaha (ahli fikih). Mereka yang menggagas ide ini hanyalah orang-orang plagiat  yang terpengaruh dengan pemikiran Liberal Barat.
Tahun 1998, Hizbut Tahrir dalam kutayyib (buku kecil) dengan judul “Mafahim Khathirah li Dharbil Islam  wa tarkiizil Hadharatil Gharbiyyah”  (Pemahaman-pemahaman berbahaya untuk memukul Islam, dan menancapkan peradaban Barat), menjelaskan  akar persoalan dan kebatilah ide Islam moderat ini.
Istilah moderat (jalan tengah) adalah istilah asing yang bersumber dari trauma Barat atas agama –Kristen–. Ide ini sebagai jalan tengah konfrontasi berdarah antara kubu gereja dan pemikir (filosof).
Pihak Kristen (gereja) memandang bahwa agama –kristen– layak untuk mengatur seluruh urusan kehidupan, sementara pihak filosof memandang bahwa agama Kristen tidak layak turut campur mengatur urusan kehidupan. Bahkan dengan ekstrim para pemikir/filosof ini meyakini bahwa turut campurnya gereja dalam urusan kehidupan justru sebagai penyebab kehinaan dan ketinggalan Barat. Hanya akal manusialah yang mampu menciptakan peraturan yang layak untuk mengatur segala urusan kehidupan.
Hasil dari pertarungan sengit ini adalah kompromi, moderat, yakni jalan tengah. Artinya mengakui eksistensi agama Kristen untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhan, tetapi agama Kristen (Tuhan) tidak diberi hak untuk turut campur dalam kehidupan.  Pengaturan urusan kehidupan sepenuhnya diserahkan kepada akal manusia.
Atas dasar pemahaman ini Barat kemudian menjadikan ide pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) sebagai akidah bagi ideologi mereka. Dan atas ideologi (sekuler) ini pula Barat kemudian bangkit dan menyebarluaskan paham ideologinya –termasuk paham moderat dalam beragama– melalui jalan penjajahan (imperialisme).
Barat kemudian melakukan legitimasi atas sikap moderat ini. Mereka membuat kesimpulan filosofis bahwa segala sesuatu itu memiliki dua ujung dan titik tengah. Titik tengah adalah daerah aman, dan kedua ujung selalu dipahami dengan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan kerusakan. Dari pola berpikir seperti ini, mereka juga menganggap pemahaman radikal dalam beragama adalah sesuatu yang berbahaya.
Celakanya, filosofi  ini  kemudian dianalogkan juga ke agama Islam. Padahal antara agama Islam dan agama Kristen memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Umat Islam akan maju, memiliki identitasnya, dan bangkit saat memegang teguh dengan pemahaman radikal (kuat dan berakar) atas agamanya. Berbeda dengan Barat yang maju dengan melepaskan agama –Kristen– nya (prinsip sekuler).
Oleh muslim pengikut Barat,  titik tengah atau jalan tengah (moderat) ini dipahami memiliki keistimewaan-keistimewaan.  Maka tidak aneh jika kemudian sikap moderat dijadikan solusi dalam ajaran agama Islam.  Mereka juga menyimpulkan beberapa premis bahwa Islam adalah pertengahan antara keyakinan dan peribadatan, Islam itu adalah antara hukum dan akhlak, dan yang lainnya.
Berikutnya dicari  ayat Al Qur’an untuk  melegitimasi pendapat ini. Semisal mamaknai dengan gegabah ayat Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 143.
(وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ٌ)
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.”
Atas ayat di atas, mereka menyatakan bahwa kedudukan pertengahan umat Islam diambil dari metode (manhaj) dan peraturan hidup (nizham) umat yang bersikap tengah-tengah. Di dalamnya tidak ada sikap berlebih-lebihan ala Yahudi atau sikap meremehkan ala Nasrani. Mereka mengatakan bahwa kata “wasath” artinya adalah adil. Adil menurut sangkaan mereka, adalah pertengahan antara dua ujung yang saling bertentangan. Dengan demikian mereka mengartikan adil dalam konteks “perdamaian” (shulhu) demi mendukung prinsip jalan tengah (moderat).
Padahal makna yan sahih untuk ayat itu adalah bahwa umat Islam itu merupakan umat yang adil.  Sementara itu keadilan (al ‘adalah) adalah termasuk salah satu syarat seorang saksi dalam Islam.  Dengan kata lain, ayat di atas mengandung makna bahwa umat Islam kelak akan menjadi saksi yang adil bagi umat lain (di hari kiamat) karena umat Islam telah menyampaikan risalah Islam kepada mereka.
Jadi dalam Islam sesungguhnya tidak ada yang namanya kompromi (moderat) atau jalan tengah. Sebab Allah SWT –yang menciptakan manusia dan mengetahui hakikat yang tidak mungkin diketahui oleh manusia– adalah Zat yang satu-satunya mampu mengatur kehidupan manusia secara cermat dan teliti yang tidak mungkin dicapai oleh manusia.
Hukum-hukum Allah datang dengan batas-batas yang tegas, dan tidak ada kesan sedikitpun bahwa di dalamnya ada kompromi atau jalan tengah.  Sebab memang tidak ada kompromi atau jalan tengah dalam nash-nash atau hukum Islam. Bahkan sebaliknya, berbagai nash dan hukum Islam sangatlah teliti, rinci, terang, dan jelas batasan-batasannya. Al Qur’an menyebutnya dengan istilah (hudud/batasan) Allah. Firman Allah.
(وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ)
“itulah hukum-hukum Allah; diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui” (Al Baqarah 230).
Karenanya, ide Islam yang moderat, kompromi atau jalan tengah adalah ide yang sangat asing dalam pandangan dan sejarah intelektual Islam.
Ide seperti ini disusupkan ke dalam ajaran Islam oleh orang-orang Barat dan agennya dari kalangan kaum muslimin. Mereka memasukkan ide ini atas nama keadilan dan toleransi. Tujuanya adalah untuk menyimpangkan dan menjauhkan kaum muslimin dari ketentuan dan hukum Islam yang jelas batasannya.
Sekaligus juga ide Islam Moderat ini akan berupaya menjauhkan Umat dari upaya penerapan Islam yang akan memberi rahmat seluruh alam, yakni dengan pelaksanaan syari’ah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj Nubuwwah.

Kamis, 23 Juni 2016

Panwascam Meral Barat

Kenapa Allah Mengutus Beberapa Nabi ?

    Tidak ada komentar:

Salah satu manifestasi kemurahan (lutfh) Allah Swt atas para hamba-Nya adalah bahwa tidak satu pun umat pada setiap masa yang menjalani hidupnya tanpa seorang pembimbing dan pemberi petunjuk. Lantaran manusia adalah seorang pengelana, yang telah mengarungi beberapa alam dan sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju alam-alam berikutnya. Dan ketika melalui alam ini ia tidak mampu berjalan dan mengarungi samudera kehidupan tanpa bimbingan Ilahi, darimana ia datang, bagaimana dan kemana ia harus melangkah. 

Hal ini semua menegaskan kebutuhan manusia terhadap seseorang yang disampaikan wahyu kepadanya. Untuk menjawab kebutuhan ini Allah Swt berfirman: "Wa laqad ba'atsnâ fî kulli ummatin rasûlan" (Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul bagi setiap kaum, Qs. Al-Nahl [16]:36); "Wa in min ummatin illa khala fiha nadzir" ( Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan , Qs. Al-Fathir [35]:24);"Tsumma arsalnâ rusuluna tatrâ." (Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) para rasul Kami berturut-turut , Qs. Al-Mukminun [23]:44) . " Kesemua ini diadakan guna memberi petunjuk dan membimbing manusia.

[1]Berdasarkan ayat-ayat Ilahi, riwayat para maksum dan argumen-argumen rasional yang menegaskan bahwa bumi sekali-kali tidak akan pernah dibiarkan tanpa hujjah (para nabi atau imam), penjaga dan penyampai agama Ilahi. " Orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan) bahwa mereka (tidak akan meninggalkan (agama mereka) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata ." (Qs. Al-Bayyinah [98]:1) Pada hakikatnya, ayat ini menyinggung kaidah lutfh yang dibahas dalam ilmu Kalam, bahwa Allah Swt akan menurunkan dalil-dalil nyata pada setiap kaum dan umat untuk menyempurnakan bukti dan hujjah bagi mereka.

[2] Kendati agama-agama Ilahi tidak berada pada level dan tingkatan yang sama dari sudut pandang kesempurnaan, namun kandungan dakwah dan seruan utama seluruh nabi Allah As (meski berbeda ruang, waktu, dan situasi sosial) adalah satu. Seluruh nabi Allah menyeru dan mengajak manusia untuk hanya menyembah Allah dan menjauhi thagut. "Wa laqad ba'atsnâ fii kulli Ummatin Rasâlan ani'budulâh wajtanibu Thâgut." Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu ” (Qs. Al-Nahl [16]:36) .Mengapa Demikian? Karena selama fondasi Tauhid belum kokoh dan thagut tidak jauhi oleh manusia maka tidak satu pun program perbaikan (islah) yang diusung para nabi ini dapat terlaksana dengan baik. 

[3]Lalu mengapa Tuhan tidak menurunkan agama secara sempurna sejak semula dan menjaga agama tersebut melalui para nabinya melainkan menurunkan banyak agama kepada manusia? Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa sebagaimana ayah dan ibu dalam proses pendidikan dan tarbiyah anak-anak kecil mereka tidak menekankan seluruh masalah moral dan aturan-aturan pendidikan kepada mereka dan keduanya tidak terlalu berharap bahwa anak-anaknya menjalankan seluruh aturan yang disampaikan kepada mereka, melainkan setahap demi setahap, secara perlahan kedua orang tua menyampaikan segala aturan dan taklif kepada mereka. Dan pada setiap tahapan, kedua orang tua menyampaikan pesan-pesan pendidikan dan tarbiyah sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu, hingga anak-anak mereka mencapai usia baligh dan akal mereka mencapai kematangan dan kedewasaan. Ketika usia dan akal mereka telah matang, maka pada masa-masa inilah seluruh aturan dan masalah moral disampaikan kepada mereka dan mereka dituntut untuk menjalankan seluruh aturan dan masalah moral tersebut. 

[4] Ketika hal ini dikaitkan dengan manusia maka kita jumpai demikian adanya. Artinya syarat-syarat untuk menurunkan agama sempurna semenjak permulaan pengutusan para nabi (masa kenabian Nabi Adam As) itu tidak tersedia dan mustahil. Karena manusia memiliki beberapa ragam periode pikiran dan semakin berkembang dan matang pikirannya, dari satu sisi, maka kebutuhan pikirannya dan psikologisnya juga semakin bertambah dan semakin pelik. Dari sisi lain, manusia telah memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menerima dan mengamalkan aturan dan juklak yang lebih tinggi dan lebih sulit. Kalau tidak demikian, manusia tidak memiliki kemampuan dan potensi semacam ini semenjak permulaan.

Atas dasar ini, semenjak permulaan syariat-syariat yang diturunkan kepadanya berisi ma'ârif (plural dari makrifat) dan hukum-hukum yang lebih ringan dan mudah dipahami sehingga pada tingkatan dan tahapan selanjutnya ia telah siap untuk menerima ma'ârif Islam.

Oleh itu, Nabi Adam As sebagai nabi pertama menunjukkan aturan-aturan kepada masyarakatnya berdasarkan kapasitas mereka sebagai manusia generasi pertama. Pada masa-masa selanjutnya dan zaman nabi selepasnya, seiring dengan perkembangan dan kematangan manusia berikut semakin luasnya kapasitas wujudnya, maka aturan-aturan yang lebih sempurna disampaikan kepada mereka dimana dengan perbuatan ini agama sebelumnya juga menjadi sempurna hingga pada masa Rasulullah Muhammad Saw agama paling sempurna dan pamungkas dipersembahkan kepada manusia dan setelahnya tidak akan ada lagi agama yang akan diturunkan.

Meski seluruh nabi Allah menyeru dan mengajak manusia kepada Tuhan Yang Esa, akan tetapi syariat suatu agama berlaku hingga datangnya syariat baru yang dibawa oleh seorang nabi baru yang telah diwartakan pada agama sebelumnya. Setelah datangnya agama baru dari sisi Tuhan dan pengutusan nabi baru disertai mukjizat dan tanda-tanda, seluruh pengikut agama-agama sebelumnya harus mengikut agama yang baru diturunkan kepada mereka.

Karena itu, seiring dengan datangnya Islam maka seluruh agama sebelumnya teranulir (mansukh) dan para pengikutnya berkewajiban untuk menjalankan seluruh aturan Islam sebagai agama paling pamungkas dan paling sempurna di antara agama-agama Ilahi.

Dengan penjelasan ini menjadi terang bahwa pertama, masalah pelurusan distorsi agama-agama sebelumnya merupakan salah satu dalil pengutusan nabi-nabi baru, bukan seluruh dalil. Kedua, setelah turunnya agama sempurna dan siapnya orang-orang dengan kemampuan untuk menerima pelbagai hakikat, maka tersedia ruang untuk menjaga dan memelihara agama ini di antara masyarakat melalui sebagian orang yang memiliki kemampuan untuk sampai pada substansi dan mutiara agama kemudian mempersembahkan keduanya kepada masyarakat.[]

Untuk telaah lebih jauh silahkan Anda merujuk pada beberapa item di bawah ini:
1. Indeks: Dalil-dalil Kebenaran Islam, pertanyaan No. 6862(Site: 6941)
2. Indeks: Kebenaran Syiah, pertanyaan No. 1523 (Site: 2011)
3. Mahdi Hadawi Tehrani,Mabâni-ye Kalâm Ijtihâd, hal. 61 dan seterusnya.
4. Mahdi Hadawi Tehrani, Bâwar-hâ wa Pursesy-hâ, Sirr Khatamiyat, hal. 33.
[1] . Tafsir Nemune, jil. 14, hal. 245.
[2] . Silahkan lihat, Jawadi Amuli,Tafsir Maudhu'i Qur'an, jil. 6, Sirah Payambarân dar ur'ân. Tafsir Nemune, jil. 27, hal. 202
[3] . Tafsir Nemune, jil. 11, hal. 221. 
[4] . Silahkan lihat, Syahid Muthahhari,Islâm wa Muqtadhiyât-e Zamân, jil. 1, hal. 563.
Panwascam Meral Barat

1 Agama 1 Dunia

    Tidak ada komentar:

Sepertinya umat sekarang harus banyak-banyak belajar dari umat terdahulu, nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Kesenjangan di beberapa persoalan sangat sulit bila merujuk pada seseorang selain rasulullah, namun beliau wafat pada 632 M. Berbagai ulama besar menjadikan semua orang untuk merujuk kepada mereka dalam segala hal, karena tak di pungkiri bahwa allah mengatakan di dalam al-quran "Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya." (Yunus: 47)

Allah maha adil, dia tak mungkin meletakkan satu kaum tanpa seorang rasul yang berguna sebagai pembimbing guna kaum di eranya. Namun hanya sebagian orang yang mengikuti mereka hingga kepercayaan yang awalnya satu ini menjadi berpecah-pecah seperti sekarang. Lalu sang rasulpun tidak tampak ke permukaan, bukan di sebatkan oleh sedikitnya pengkitu mereka melainkan allah swt-lah yang mengkhendaki semuai ini.

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil. (Surat al mu'min ayat 78)

Bila menatap langit zaman, di setiap kurun, waktu, senantiasa didapati para pembela al-haq. Mereka adalah bintang gemilang yang memberi petunjuk arah dalam kehidupan umat. Mereka memancarkan berkas cahaya yang memandu umat di tengah gelap gulita. Kala muncul bid’ah Khawarij dan Syi’ah, Allah Subhanahu wa Ta’ala merobohkan makar mereka dengan memunculkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Begitupun saat Al-Qadariyah hadir, maka Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhum dari kalangan sahabat yang utama melawan pemahaman sesat tersebut. Washil bin ‘Atha’ dengan paham Mu’tazilahnya dipatahkan Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan lain-lainnya dari kalangan utama tabi’in. Merebak Syi’ah Rafidhah, maka Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam Syafi’i, dan para imam Ahlus Sunnah lainnya menghadapi dan menangkal kesesatan Syi’ah Rafidhah. Jahm bin Shafwan yang mengusung Jahmiyah juga diruntuhkan Al-Imam Malik, Abdullah bin Mubarak, dan lainnya. Demikian pula tatkala menyebar pemahaman dan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk bukan Kalamullah. Maka, Al-Imam Ahmad bin Hanbal tampil memerangi pemahaman dan keyakinan sesat tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memunculkan para pembela risalah-Nya. Mereka terus berupaya menjaga as-sunnah, agar tidak redup diempas para ahli bid’ah. Bermunculan para imam, seperti Al-Imam Al-Barbahari, Al-Imam Ibnu Khuzaimah, Al-Imam Ibnu Baththah, Al-Imam Al-Lalika’i, Al-Imam Ibnu Mandah, dan lainnya dari kalangan imam Ahlus Sunnah. Lantas pada kurun berikutnya, ketika muncul bid’ah sufiyah, ahlu kalam dan filsafat, hadir di tengah umat para imam, seperti Al-Imam Asy-Syathibi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta murid-muridnya, yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Abdilhadi, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dan lainnya rahimahumullah.

Sosok Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sendiri bagi sebagian umat Islam bukan lagi sosok yang asing. Kiprah dakwahnya begitu agung. Pengaruhnya sangat luas. Kokoh dalam memegang sunnah. Sebab, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sesungguhnya tidak ada kebahagiaan bagi para hamba, tidak ada pula keselamatan di hari kembali nanti (hari kiamat) kecuali dengan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Itu sederet perbedaan keyakinan masih dalam koridor kepercayaan yang sama, setelah itu semua orang mulai menyimpang dari ajaran tauhid yang mengesakan allah.

Misalnyadi India..?! tentunya juga harus ada Nabi, tentu disana juga banyak manusia yang hidup. Mereka juga butuh keselamatan dunia dan akhirat

Yang jelas, pasti ada jika menilik ayat di atas dan keyakinan kita bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Maha Adil serta sangat menyayangi seluruh hamba-hambaNya tanpa pandang bulu.
Menurut penafsiran beberapa ulama dan ahli sejarah, di India pernah dikirim pemberi peringatan (Nabi), menurut beberapa penafsiran Budha Gautama adalah Nabi Idris ditilik dari sejarah yang kemudian didapatkan persamaan-persamaan sejarah hidupnya. Hanya dalam beberapa decade, terjadilah penyimpangan-penyimpangan yang terjadi hingga Buddha Gautama dianggap Tuhan atau Dewa yang diagungkan.

Tuhan Yang Maha Esa (Tauhid) dalam agama Buddha adalah “ Atthi Ajâtam Abhûtam Akatam Asankhatam “ (dalam bahasa Pâli), yang artinya “Suatu yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan, Yang Mutlak”. Sedangkan istilah Asankhata dalam bahasa Pâli berarti Yang Maha Esa atau Yang Mutlak. Hampir semakna dengan kalimat di dalam QS Al Ikhlas yang berisi bahwa Tuhan adalah Ahad (Esa), tempat bergantung setiap makhluq-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada yang serupa dengan-Nya (tidak dijelmakan)

Hal ini tidak berbeda dengan yang terjadi di tanah Arab, Latta, Uzza dan Manat menurut sejarah mereka adalah orang-orang shalih yang mendapatkan kemuliaan dan karomah dari Tuhan. Begitu hormatnya orang-orang terdahulu pada mereka, sehingga terjadilah penghormatan yg kelewat batas alias berlebihan, sehingga setelah beliau meninggal, mereka dianggap sebagai anak-anak Allah. (baca QS 53;19-20) dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah).

Pada tahap selanjutnya dibuatlah patung-patung sebagai wujud mereka, untuk disembah-sembah dan dianggap perantara mereka dengan Tuhan dalam berdoa. Tidak berbeda juga dengan Nabi Isa AS, saat beliau sudah meninggal, terjadi penyimpangan-penyimpangan. Penghormatan yang berlebihan sehingga mengangkat beliau menjadi anak Tuhan, bahkan akhirnya diangkat menjadi Tuhan itu sendiri dalam konsili Nicea.

Tidak berbeda juga dengan keadaan saat ini, beberapa orang shalih (misal para wali), saat beliau sudah meninggal dunia, banyak yang menghormati beliau semuanya secara berlebihan. Mereka menganggap para wali dapat menjadi perantara mereka dengan Allah, hingga kuburan mereka dijadikan tempat sembahyang. mereka menganggap para wali tersebut dapat menyampaikan doa mereka pada Allah, menganggap keramat kuburan para wali Allah, bahkan mereka takut pada kuburan melebihi takutnya pada Allah, takut kuwalat, dan juga menganggap berdoa dan beribadah di kuburan lebih afdhol dan terkabul daripada beribadah dan berdoa di Masjid.

Saat ditanya, alasan mereka sama dengan alasan yang diberikan orang Qurais jaman dahulu saat ditanya mengapa mereka menyembah berhala :
QS 39;3 “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.”
QS 10;18. "Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.”

Penyimpangan-penyimpangan terjadi saat para pemberi peringatan atau orang-orang shalih tersebut sudah meninggal, ini adalah sejarah yang berulang dari jaman ke jaman.
Bagaimana dengan Hindu..?! Sehingga tidak salah juga jika ada penafsiran yang mengatakan, bahwa penyebar Hindu pertama adalah seorang Nabi Allah juga, yang pada periode-periode berikutnya mengalami penyimpangan-penyimpangan. Hal ini dapat diketahui dari kitab suci agama Hindu yang mengajarkan ajaran Tauhid, walau kemudian hari disimpangkan menjadi Tuhan yang banyak (Dewa).
(Shevatashvatara Upanishad Ch 4: V.19)

Tuhan itu tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia
Bhagavad Gita Ch.10:V.3)
Allah Tuhan yang tidak dilahirkan, tiada permulaan, Tuhan Seru Sekalian Alam.
(Rigveda Book 1 Hymn 164:V.146)
Allah Maha Esa. Panggilah dengan berbagai nama. (asmaul husna)
(Rigveda Book 8 Hymn 1:V.1)
Kami tidak menyembah seseorang kecuali Allah yang satu.
(Chandogya Upanishad Ch.6 Sek.2 V.1)
Tuhan hanya satu tidak ada sekutu dengan-Nya
(Shevatashvatara Upanishad Ch 6: V.9)
Allah itu tidak beribu bapa.

Sama bukan dengan ajaran ke-Tauhidan Islam..?! persis sama dan tidak geser dikit pun. Hanya dalam prakteknya, terjadi banyak penyimpangan-penyimpangan, banyak sesembahan-sesembahan, banyak sesajen, dan sebagainya dalam praktek pelaksanaan agamanya yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Tauhid kitab yang aslinya.

Bahkan Nabi Muhammad pun di sebut dalam kitab suci Hindu, silahkan baca hasil copasan berikut di bawah ini :

Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul “KALKY AUTAR” (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.

Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah SAW adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.

Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri “KALKY AUTAR” sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.

Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN.

Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya “ABDULLAH”. Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya “AMINAH”. Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya AMINAH.

Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebiuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasulullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam.

Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra’ Mi’raj dimana Rasullah mengendarai Buroq
Jadi, tidak salah jika Allah telah berfirman bahwa setiap umat akan diturunkan para Nabi atau pemberi peringatan.. Sinolog (pakar per-China-an—penj) terkemuka, James Legge, mengklaim, “Lima ribu tahun silam bangsa China adalah monoteis—bukan henoteis, tapi monoteis” (“Konfusianisme dan Taoisme menerangkan dan sebanding dengan Kristen”). Kristen Syria, serta rekan terkemudian mereka dari Gereja Katolik, melihat kemiripan antara Shandi/Tian dan Tuhan Ibrahim, dan oleh sebab itu menjadikan “Shangdi” sebagai nama “Tuhan” Kristen dalam bahasa China. Beberapa akademisi Kristen China, nyatanya, juga menegaskan bahwa Tuhan Ibrahim dan Shangdi China merupakan entitas yang sama.

Jadi, sebenarnya, semua ajaran berasal dari satu sumber yang sama.. tetapi kemudian terkontaminasi dengan kepercayaan2 lainnya, sehingga mulailah terjadi berbagai macam penyimpangan-penyimpangan.. semakin lama, penyimpangan akan terasa semakin jauh, tetapi jika ditelusuri dari sumber yang asli, maka akan kita dapatkan sebuah keyakinan yang sama, yaitu ajaran Tauhid, hanya satu Tuhan yang Esa, tempat bergantung setiap makhluq-Nya,tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang menyamaiNya (ringkasan QS Al Ikhlas..
Wallahu a’lam…

Kamis, 26 Mei 2016

Panwascam Meral Barat

Tidak Melafadzkan Niat? Jangan Khawatir Tetap Sah Puasanya

    Tidak ada komentar:

BALI (Batu Lipai) - Puasa Ramadlan dan puasa-puasa lainnya, baik itu puasa wajib maupun  puasa tathawwu’ (sunnah) tidaklah sah kecuali dengan adanya niat. Hal ini merupakan pandangan para ulama secara umum berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam :
  إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى
“Sesungguhnya seluruh amal tergantung dengan niat, dan bagi setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkan”

Imam Al-Nawawi didalam al-Majmu' mengatakan: “Sesungguhnya madzhab kami (Syafi’iyah) menyatakan bahwa puasa Ramadlan tidak sah kecuali dengan niat pada malamnya, ini dipegang oleh Imam Malik, Ahmad, Ishaq, Daud dan jumhur ulama salaf maupun kholaf, sedangkan Imam Abu Hanifah menyatakan sah meskipun niat dilakukan pada siang hari sebelum tergelincir matahari (seperti pelaksanaan puasa sunnah, penj)”

Pengertian niat sendiri adalah al-qashdu  / menyengaja. Sedangkan menurut syara’ adalah Qashdu al-Syai’ Muqtarinan bi-fi’lihi (Menyengaja sesuatu berbarengan/bersamaan dengan pekerjaannya)”

Contoh dari muqaranah adalah semisal ketika hendak memulai sholat, takbiratul ihram yang diucapkan dengan lisan bersamaan dengan niat didalam hati. Demikian juga dengan wudlu’ ketika hendak membasuh muka dan lain sebagainya.

Namun, berbeda halnya dalam masalah puasa. Niat puasa tidak disyaratkan muqaranah dengan pekerjaannya. Imam al-Suyuthi didalam Asybah wan Nadhair mengatakan ; “Pada dasarnya waktu niat adalah pada awal setiap ibadah dan semisalnya, pengecualian dalam masalah puasa, maka boleh mendahulukan niatnya dari awal waktunya karena sulitnya mengawasi/memantaunya, kemudian terus berlanjut hingga menjadi wajib (yaitu wajib mendahulukan niat dari awal waktunya, penj). Seandainya berniat bersamaan dengan fajar maka itu tidak sah berdasarkan qaul yang Ashoh”  

Zainuddin Zakariyya Yahya al-Anshori didalam al-Ghurrar al-Bahiyyah berkata: “Sesungguhnya ulama tidak mewajibkan adanya muqaranah didalam puasa karena sulitnya memantau fajar dan mengaplikasikan niat padanya”.

 Mengucapkan Niat Puasa

Niat merupakan amaliyah hati, tempatnya tentu saja didalam hati. Puasa tidak sah kecuali dengan adanya niat, sedangkan mengucapkan niat puasa (al-nuthq) tidaklah disyaratkan tanpa ada perselisihan diantara ulama. Artinya adalah mengucapkan atau pun tidak mengucapkan, maka sama sekali tidak akan berpengaruh pada puasanya, sebab itu bukan syarat didalam niat puasa.

Imam Taqiyuddin al-Hishni didalam Kifayatul Akhyar berkata : “Tidak sah puasa kecuali dengan niat untuk kebaikan, sedangkan tempatnya didalam qalbu, dan tidak disyaratkan mengucapkan niat tanpa ada perselisihan pendapat diantara ulama”.

Oleh karena itu, niat puasa cukup didalam hati. Jikalau niat diucapkan melalui lisan seraya berniat didalam qalbunya maka puasanya sah, bahkan ada ulama yang menganjurkan mengucapkan niat dengan lisannya untuk membantu hati dalam mengingat niat. Namun, jika hanya sebatas mengucapkan dengan lisan tanpa berniat puasa didalam qalbu maka itu tidak sah, sebab yang wajib adalah niat didalam hati.

Wallahu A’lam

Baca juga : https://irudnews.blogspot.co.id/2016/05/siapa-penggagas-niat-mari-kita-kembali.html

Panwascam Meral Barat

Siapa Penggagas Niat ? Mari Kita Kembali Ke Fitrah Sebelum Fitri Menjelang

    Tidak ada komentar:

Assalamualaikum wr.wb

Banyak berita gunjingan pemuda kini yang membahas masalah niat, baik itu niat sholat, puasa, haji, dan ibadah lainnya. Sebelum ramadhan tiba sebaiknya kita pelajari dulu bersama-sama apa makna niat dari pendapat ulama dulu.

Ibn Abi Izz Al Hanafi berkata : “Tidak ada seorang ulamapun dari imam 4 (madzhab), tidak juga Imam Syafi’i atau yang lainnya yang mensyaratkan lafaz niat. Menurut kesepakatan mereka, niat itu tempatnya dihati. Hanya saja sebagian ulama belakangan mewajibkan seseorang melafazkan niatnya dalam shalat. Dan pendapat ini dinisbatkan sebagai mazhab Syafi’i. Imam An Nawawi rahimahullahu berkata :”Itu tidak benar” (Al Itbaa’ :62)

Ibn Qoyyim berkata :”Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam jika hendak mengerjakan shalat,maka dia mengucapkan Allahu Akbar.dan beliau tidak mengucapkan lafaz apapun sebelum itu dan tidak pernah melafazkan niat sama sekali.

 Beliau juga tidak mengucapkan:
“ushali lillah shalaata kadzaa mustaqbilal qiblah arba’a raka’at imaaman aw ma’muuman (artinya :aku berniat mengerjakan shalat ini dan itu karena Allah,menghadap kiblat sebanyak 4 raka’at sebagai imam atau makmum).

Pendapat ini muncul akibat sebagian ulama belakangan yang terkecoh dengan perkataan Imam Syafi’I radhiallahu anhu didalam masalah shalat. Redaksinya sebagai berikut:

“Sesungguhnya shalat tidak sama dengan puasa. Tidak ada seorangpun yang akan memasuki shalat kecuali dengan DZIKIR. ”Kata dzikir disini dikira pe-lafaz-an niat oleh orang yang shalat. Padahal yang dimaksud oleh Imam Syafi’i dengan kata dzikir disini adalah TAKBIRATUL IHRAM. Bagaimana mungkin Imam Syafi’I mensunahkan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, tidak juga oleh para khulafa’nya, dan para shahabatnya. Demikianlah jalan hidup dan petunjuk yang mereka ajarkan,jika memang ada seseorang membawa berita satu huruf saja yang berasal dari beliau,maka kita akan menerimanya karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk mereka dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam [Zaadul Ma’aad I/201;Ighatsatul Lahfaan I/136-139;I’laamul Muwaqqi’iin II/371;Tuhfatul Maulud :93]

Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail Sulaiman al-Mishri [2] berkata : “Perbuatan seperti ini tidak benar. Tidak ada dalil dari Qur’an dan Sunnah,tidak pula dari ijma’ dan qiyas jali (qiyas yang jelas dan benar) untuk perbuatan tersebut sebab tempat niat adalah di dalam hati. Adapun anjuran Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadirkan niat di dalam segala amalan, yaitu hadist beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seluruh amal shaleh hanya diterima dengan niat yang ikhlas dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan.”

Maksudnya bukan melafalkan niat dengan lisan kita, baik dengan melirihkan ataupun mengeraskannya. Tidak ada satu riwayat pun yang dinukil dari beliau bahwa beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam melafalkan niat ketika hendak shalat dan berpuasa. Tidak pernah beliau mengucapkan : “Sengaja aku berpuasa di bulan ramadhan pada tahun ini secara sempurna tanpa kekurangan” dan mengulang-ngulanginya setiap malam ketika bersahur atau setelah shalat tarawih. Demikian pula dalam ibadah zakat dan lainnya.

Untuk lebih jelasnya, baiklah kita coba simak uraian pendapat para ulama salaf, sebagai orang-orang yg mengerti dan paham ttg sunnah dan perkataan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta mereka adalah para mufassirin(penafsir) makna ayat qur’an maupun hadist, mengenai LAFADZ NIAT (makna lafadz niat ini secara umum meliputi niat sholat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya).
Hakekat Niat

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’atur Rasaaili Kubra I/243 : Tempatnya niat itu di hati tanpa (pengucapan) lisan berdasar kesepakatan para imam Muslimin dalam semua ibadah : bersuci (thaharah), shalat, zakat, puasa, haji membebaskan budak (tawanan) serta berjihad dan yang lainnya. Meskipun lisannya mengucapkan berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati, maka teranggap dengan apa yang ia niatkan dalam hati bukan apa yang ia lafadzkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, dan niat itu belum sampai ke dalam hatinya, hal ini belu mencukupi menurut kesepakatan para imam Muslimin. Maka sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang tetap.

Sehubungan dengan masalah niat, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan di dalam kitab ‘Ighasatul Lahfan’ bahwa : “Niat artinya ialah menyengaja dan bermaksud sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Dan tempatnya ialah di dalam hati, dan tidak ada sangku pautnya sama sekali dengan lisan. Dari itu tidak pernah diberitakan dari Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam , begitu juga para sahabat, mengenai lafadz niat ini.” [3]

Sedangkan hakikat niat itu sendiri BUKANLAH UCAPAN ‘NAWAITU’ (saya berniat). Ia adalah dorongan hati seiring dengan futuh (pembukaan terhadapnya),tetapi kadang-kdang juga sulit. Barangsiapa hatinya dipenuhi dengan urusan dien, akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk berbuat baik. Sebab ketika hati telah condong kepada pangkal kebaikan, ia pun akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan. Barangsiapa hatinya dipenuhi dengan kecenderungan kepada gemerlap dunia, akan mendapatkan kesulitan besar untuk menghadirkannya. Bahkan dalam mengerjakan yang wajib sekalipun.Untuk menghadirkannya ia harus bersusah payah. [4]
Panwascam Meral Barat

Sifat Pemuda Yang Selalu Menunda-nunda Dalam Mencari-Nya

    Tidak ada komentar:

Assalamualaikum Wr. Wb

Mempelajari ilmu agama sangat penting bagi seluruh umat beragama, tidak heran bila di pendidikan Perguruan Tinggi ilmu agama maspih tetap di pelajari. Mahasiswa dituntut untuk benar-benar memahami dasar-dasar agamanya agar tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif, sesuai dengan rumusan para pahlawan kita yang mereka tanam pada point pertama di pancasila yang berbunyi ‘Ketuhanan yang maha Esa.’

Sangat sedikit pemuda generasi bangsa ini memikirkan nasib agamanya di indonesia sekarang, apa lagi berkarya dengan mengkritisi berbagai persoalan agama yang berhubungan dengan kemajuan suatu bangsa terhadap perkembangan pemuda di zaman ini. Artinya semangat pemuda yang berlandaskan Islam. Hanya segelintir pemuda dan mahasiswa yang terjun di dunia ini, mereka yang ada itu pun berasal dari kampus islam indonesia yang ternama. Apa salahnya kita mahasiswa Universitas Karimun –bukan kampus islam- membahas persoalan yang terjadi sekarang, banyak sekali persoalan yang berkaitan pelanggaran-pelanggaran terhadap agama. Khususnya para mahasiswa dominan yang memeluk agama islam di kampus almamater kuning ini.

Pada dasarnya permasalaan agama bukanlah kita sebagai mahasiswa yang menyelesaikannya, ada ulama dan para ahli theology serta pakar pendidikan islam yang bisa menjelaskan bahkan bisa menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Tapi bukan itu satu alasan sehingga kita sebagai mahasiswa tidak ikut andil dalam masalah tersebut. Kita bisa membantu –walau tidak menyelesaikannya- mereka dengan melakukan berbagai diskusi dengan dosen-dosen yang berpotensi, atau juga melakukan diskusi umum melalui organisasi-organisasi islam, kuliah umum, membuat forum diskusi di media sosial serta lain-lainnya, akan tetapi kegiatan tersebut harus sesuai dengan tuntunan Al-quran dan Sunnah. Bukankah kita yang ingin menyandang gelar S1 sebelumnya harus melakukan penelitian?? Maka tidak salah bila hal ini saya wacanakan untuk program BEM Universitas Karimun kedepannya.

Sangat sulit untuk memulai kegiatan yang baik dengan hal yang mudah agar menarik perhatian orang ramai, perlu bukti nyata dan proses yang lama serta penuh cobaan agar keinginan ini bisa terwujud. Fasilitas yang ada memang tidak memadai, animo mahasiswa terhadap program ini sangat kurang, bahkan pihak ke tiga yang harusnya menfasilitasinya saja belum terniat untuk melakukan ini karena berbagai pertimbangan. Namun ini bukan sifat pesimis tetapi ini sifat yg cenderung untuk berwas-was dalam betindak. Di mana kita harus mengetahui rintangan-rintangan yang di lalui agar program ini mulus dan kedepannya terus berlanjut.

Dewasa ini bukan saja kalangan mahasiswa, tapi kalangan pemuda-pemudi juga sudah jauh dari ajaran-ajaran agama islam, banyak kasus-kasus yang dilatarbelakangi oleh dasar-dasar agama yang tidak dipahami oleh mereka. Contohnya tidak bisa mengerjakan sholat karena tidak hafal bacaannya, tidak bisa baca tulis bahasa arab dan lebih parahnya lagi tidak bisa bershalawat sekali pun. Boleh jadi ini terjadi karena pola fikir mereka yang masih terlalu muda untuk beribadah kepada sang pencipta. Kemungkinan ini bisa terjadi mengingat sedikit sekali sumber yang mengingatkan pada mereka di lingkungan luar sana, ini bebeda sekali dengan mahasiswa yang ada di setiap kampus dimana sumbernya selain dosen, ada perpustakaan, mading, seminar, disukusi, dan lain-lain.

Fenomena seperti ini sangat mengkhwatirkan sekali bila pemikiran pemuda-pemudi masih seperti itu. Bisa-bisa suatu organisasi atau kelompok yang disisipi oleh paham-paham yang berbau radikal serta sesat bisa diterima oleh akal mereka karena kurangnya imam dan cenderung menginginkan ajaran yang instan, lalu dengan mudahnya musuh manusia yaitu syaitan merasukinya.

Alih-alih ingin belajar sholat serta mengaji setelah menikah atau setelah memasuki usia tua, mereka malah terjerumus ke lubang syaitan, sebab terlambatnya niat mereka untuk belajar dan berubah menjadi yang lebih baik. Kekhawatiran semacam inilah yang menjadi landasan saya untuk menulis karya ilmiah yang sedang anda baca. Agar tulisaan ini bisa di muat di mading/majalah atau pun tempat yang baik supaya tersebar kebaikan-kebaikan di tulisan ini pada mahasiswa Universitas Karimun. Serta bisa menjadi sebuah awal dalam segala kebaikan di jiwa mahasiswa lainnya akan pentingnya menyebarluaskan ilmu agama.

Proses untuk merubah akhlak sesorang memang tidak mudah, apa lagi dengan karya tulisan semacam ini yang jauh dari kata sempurna. Tapi ini semoga saja membawa manfaat dan mudaratnya untuk siapa pun, karena segala sesuatu perbuatan yang berniat baik pasti tidak ada yang sia-sia dan pasti punya dampak yang baik pula.

MEMAHAMI DASAR-DASAR ISLAM
Budayakan membaca sampai tuntas.

Setiap orang-orang mempunyai batasa-batasan pemikiran yang tidak bisa disamakan bila membahas Tuhan, tetapi saya berusaha menjelaskan secara irasional sesuai tingkat pemahaman di kalangan mahasiswa dan pemuda yang condong lebih menginginkan contoh dan tidak berkepanjangan dalam menjelaskan sesuatu.

Di dalam menjelaskan pemahaman agama memang dibolehkan secara panjang agar pesan yang di dapat benar-benar dihayati dan diamalkan, tetapi hanya untuk manusia yang khusus dan tidak untuk orang yang  hanya berstatuskan agama islam di KTP-nya, terlebih pemuda yang ingin mengerti bila dijelaskan hanya mau secara instan.

Mencontohi sesuatu makhluk atau ciptaan Tuhan untuk menjelaskan pemahaman tentang agama sah-sah saja, kecuali memahami tentang keTuhanan yang tidak bisa mengacu pada makhluk tersebut. Akan tetapi yang ingin ditekankan disini, pemahaman yang saya berikan tentang keTuhanan tidak terlepas dari kepercayaan kita semua bahwa Tuhan itu maha Esa, artinya Ia tidak membutuhkan apa pun, tidak beranak, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Ia satu/tunggal. Saya hanya mencontohi ciptaan-Nya untuk memahami keesan-Nya, bukan untuk meyakinkan bahwa Tuhan seperti makhluk ciptaan-Nya itu.

Saya sadar sangat berdosa bila salah mengartikan maksud dari kata-kata yang sulit untuk dijelaskan dalam karya tulisan ini, tetapi inilah upaya seorang hamba-Nya untuk menyebar-luaskan ilmu agama terlebih pengetahuan keTuhanan secara irasional di zaman modern ini. Kekhawatirkan akan adanya hujatan atau semacamnya membuat saya awalnya sedikit goyah, tetapi demi membantu menyelamatkan generasi umat serta ketakutan akan dikatakannya seorang yang menyembunyikan ilmu, atas dasar tersebut saya menghiraukan itu semua.

Kini saatnya saya berusaha menjelaskan pemahaman tentang keTuhanan agar kita bisa lebih mengenal Tuhan agamanya Islam. Di pancasila Tuhan disebut maha Esa, artinya satu/tunggal/tidak beranak/tidak makan dan tidak membutuhkan apapun maupun tempat. Esa-Nya tuhan memiliki 3 jenis yang harus di pahami. Yaitu Esa menurut Dzat, Esa menurut Sifat, Esa menurut perbuatan. Ini adalah pendapat dari seorang pakar tafsir terkemuka, yaitu Prof. Dr. Qurasih Shihab.

Tuhan itu satu dan tidak membutuhkan unsur apapun, bisa kita pahami dengan mencontohkan ciptaan dari makhluk-Nya sendiri. Misalnya, sebuah jam tangan tidak bisa dikatakan sebuah jam tangan bila (tali, jarum, batrai) tidak ada. Otomatis sebuah jam tangan wajib memiliki unsur-unsur tersebut sehingga dapat dikatakan sebuah jam tangan. Jika untuk Tuhan, Ia tidak terdiri dari unsur/tidak membutuhkan apapun hinga membutuhkan manusia sekali pun, tidak mungkin Tuhan membutuhkan langit untuk bertempat tinggal padahal langit adalah ciptaan-Nya. Maka Ia pantas disebut Tuhan yang tunggal dan pantas juga Ia menyombongkan diri-Nya sendiri dengan mengatakan Aku Tuhan yang maha esa, serta didukung dengan pernyataan dari Al-quran,”Tiada sekutu baginya.”

Jika pertanyaannya kenapa kita harus memahami sifat Tuhan? Maka saya menjawab agar kita bisa membedakan yang mana Tuhan yang mana karya-Nya. Allah memiliki sifat melihat, begitu juga dengan manusia. Tetapi apakah sama sifat melihat-Nya dengan sifat melihat manusia? Tentu ini sudah menjadi jawaban yang lebih tepat untuk memaknai keesaan Tuhan dalam sifat-Nya.

Semua yang terjadi pada alam raya ini tidak terlepas dari campur tangan-Nya, daun yang kering tidak akan jatuh tanpa seizin-Nya, hal kecil seperti daun saja diaturnya apa lagi manusia. Jin, iblis dan manusia bila bersatu tidak akan bisa meruntuhkan kekuasaan-Nya, karena perbuatan mereka tersebut telah di atur dan dibatasi oleh-Nya. Penjelasan ini amat singkat bila anda tidak memahaminya berarti Tuhan telah ikut campur dalam proses bernalar anda.

Ketika kita telah usai membahas keesaan Sang Pencipta maka tidak salah jika kita membahas ciptaan-Nya yang terlalu agung untuk bisa ditiru. Beberapa hari yang lewat terjadi gerhana matahari telah di berbagai belahan bumi, tak terkecuali di indonesia. Bukan proses terjadinya gerhana matahari yang ingin disampaikan, tapi ketakjuban dan ketidakberdayaan untuk berlama-lama dalam melihat sinarnya setelah selesai terjadi gerhana matahari.

Fenomena ini mengingatkan kita kepada tulisan diatas tadi, sifat Tuhan dalam perbuatan-Nya. Tidak ada yang bisa menandinginya meski jin, iblis dan manusia bersatu sekalipun. Pertanyaannya. Melihat hasil karya ciptaan Tuhan saja manusia tidak mampu, bagaimana kita ingin melihat Tuhan??

Dahulu Nabi Musa pernah ingin melihat Tuhan, setelah dialog Tuhan lantas menjawabnya. Ia menyuruh nabi Musa untuk mengahadap ke gunung, dan didapatinya sinar terang yang mengalahkan sinar dari matahari, seketika itu Nabi Musa tersungkur lalu pingsan saat melihat gunung tersebut hancur dan berantakan.

Jadi, tulisan di awal tadi tidak menjelaskan tentang sebuah upaya untuk melihat Tuhan dengan mencontohkan makhluk ciptaan-Nya. Melainkan menjelaskan -hanya sebatas mengenal- Tuhan dari segi pemahaman yang mudah agar bisa diterima dikalangan mahasiswa dan pemuda. Lalu di bagian akhir saya berusaha memperkenalkan kejadian masa sekarang dan peristiwa masa lalu yang saya anggap bisa menambah keimanan kita terhadap Allah Swt dan lebih giat lagi dalam beribadah pada-Nya.

Semoga bermanfaat :)
Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq. Salam Pergerakkan!