Featured

Beauty

Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Diskripsi Novel Kisah Cinta Laksmana

    Tidak ada komentar:

Berawal dari pertemuan di pintu get kampus Universitas Karimun, Tomy seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana menyukai seorang wanita yang ternyata kakak tingkat semesternya sendiri, kegiatan OSPEK mempertemukan dua sedjoli ini. Tomy sejak kecil menyukai kapal, laut, dan sebagainya sehingga memantapkan hatinya kampus UK menjadi tempat yang layak untuk menimba ilmu, dengan mengambil jurusan kelautan ia siap menerima perlakuan yang di berikan oleh panitia.

 Dalam kesehariannya pada masa OSPEK berlangsung, Tomy disibukkan mencari data diri wanita tersebut, walhasil informasi lengkap ia dapati. Namanya Gayatri Rajapatni, jurusan keguruan semester 3 dan termasuk anak orang kaya. Awal kisahpun terjadi, dengan perbedaan status yang mencolok tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menjalin kasih.

Berbagai cobaan mereka hadapi bersama, tidak jarang percekcokan sering menyelimuti hari-hari mereka. Sampai saat sebuah tragedi yang tidak diharapkan terjadi. Berasal dari sebuah pesan masuk di HP Tri membuat akhir dari segalanya, orang ketiga hadir kembali dalam kehidupan mereka, ini masalah baru setelah masalah klasik yakni orang tua Tri tidak menyukai Tomy karena berbagai factor diantaranya status sosialnya. Padahal hubungan mereka telah memakan waktu 3 tahun lamanya. Sebuah drama yang tegang didukung suasana yang mencekam mewarnai akhir perjalanan mereka di sore itu.

Kenangan bersama Tri telah usai, Tomy selalu disibukkan dengan menyendiri. Banyak tempat di susurinya untuk menghidupkan kembali hidupnya yang ceria. Namun apa sangka, beban hidup tetap saja menghantuinya. Ekonomi keluarga selalui defisit, tidak pernah cukup, keadaan keluarga yang tidak layak menjadi suatu keharusan ia harus wisuda di tahun ini. Tetapi lagi-lagi rupiah berperan penting dalam kesuksesan Tomy demi mendapat gelar sarjana kelautannya.

Hari berlalu semakin laju, beban hutang dan moral seolah dilupakan Tomy begitu saja. Apa lagi Tri yang sudah tidak tahu dimana rimbanya. Namun, tanpa diduga keajaiban terjadi. Ketika berteduh dari rintihan hujan ia berkenalan dengan pak Ali sastrowidjodjo di toko SALEMBA. Beliau merupakan seorang penulis handal dan memiliki toko buku yang laris. Perkenalan tersebut berujung manis, masa inilah Tomy meniti karir sebagai penulis dengan berbagai genre yang ia tuangkan ke dalam karyanya.

Menulis telah menjadi pekerjaannya, bahkan telah bisa untuk mencukupi keluarga dan dirinya sendiri. Di tambah lagi kini Tomy bukan saja seorang penulis, terlebih ia ditunjuk menjadi direktur penerbit dalam perusahaan yang di geluti oleh keluarga pak Ali. Hartanya berlimpah riuh, dengan kelebihannya ini ia tidak luput untuk berbagi pada orang-orang yang membutuhkannya.

Sementara hidup Tri di Lingga amat berbeda terbalik dengan apa yang di alami oleh Tomy, awalnya berjalan mulus dengan mendapatkan laki-laki bernama Juar yang merupakan seorang pelaut. Tri bagaikan ratu yang mempunyai segalanya di dalam istananya. Tetapi sebuah karma terjadi, suaminya seorang captain kapal tersebut ternyata telah memiliki istri terlebih dahulu. Dan kehidupan Tri kacau berantakan akibat ulahnya yang telah salah memilih untuk mencari pendamping hidup.

Dan tomy akhirnya bahagia dengan kisah pilunya dahulu, setelah mendapatkan Maryati ia telah memenuhi sunnah rassul. Hidupnya bertambah bahagia ketika hadiah berupa sepasang bayi yang mungil hadir di keluarga kecil mereka. 
Ingin lihat kisahnya ? di bawah ini ada link per babnya.

Kisah Cinta Laksmana
Sabtu sore di pantai pelawan
Tomy menjalin kasih dengan Tri selama 3 tahun
Seminggu berselang ..
Setelah 1 Bulan belajar bersama Pak Ali


Jumat, 15 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Seminggu Berselang ..

    Tidak ada komentar:
Seminggu berselang ..

Sehabis pulang dari rumah sang mantan, keseharian Tomy dilalui dengan menyendiri di tempat-tempat kesunyian, guna mengisi kegundahannya. Lokasi seperti pantai, perpustakaan, lapangan futsal menjadi pilihannya.

Selain diterpa masalah yang cukup hebat yang membuatnya galau yang tiada berujung, ia juga sedang dilanda kegelisahan yang tidak ada habis-habisnya sampai sekarang, yaitu krisisnya perekonomian keluarga. Menjadikan Ayahnya sibuk mencari pekerjaan lain setelah bangunan yang dikerjakan telah siap. Belum lagi tunggakan uang semester yang harus dilunasi, mengingat ini tahun terakhir ia duduk di bangku kuliah dan menuju wisuda.

Seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi, siang ini langkah kakinya tidak jelas akan kemana melangkah,  -seperti dedaunan yang berterbangan mengikuti arah angin- kadang kala berhenti sejenak, menghirup udara sambil melihat langit, sesekali menatap sepasang burung yang memang dari tadi bertengger di ranting pohon. Tomy sang arjuna yang ditinggal cinta, masa kelam sedang dilaluinya, siang malam masalah ini menghantui, membuat batinnya terusik seakan ingin berteriak “Mengapa aku sebodoh ini?? bodohkah aku memutuskan semua ini?? kenapa tidak aku perjuangkan saja cintaku ini? aku bodoh!”

Lalu jawaban dari langit datang, yaitu suara gemuruh yang diiringi awan pekat petanda hujan akan turun. Burung dan dedaunan saling bertebrangan, akibat hembusan angin yang kencang itu. Tomy yang menyadari akan turunnya hujan besar segera bergegas ke tempat teduh, tapi sepanjang jalan, tidak satu pun yang ia nilai cukup untuk melindungi tubuhnya dari rintikan hujan yang semakin lebat.

Ketika puas berlari mencari tempat teduh, tibalah Tomy di tempat yang diharapkan. Sebuah toko buku tiga lantai, di dalam kondisi ramai pengunjung, bahkan ada yang hanya sekedar berteduh menunggu hujan reda. Toko tersebut bernama ‘Salemba’, letaknya di persimpangan tiga menjadikannya ramai pengunjung karena strategis.

Masuklah Tomy ke toko buku itu, sambil melihat-lihat bangunan tempo dulu. Tempat ia dulu mencari buku tulis bersama ayahnya saat masa SD. Kini, dindingnya telah di cat warna putih, bangunan ini telah berubah , dahulu hanya satu lantai kini sudah bertambah dua lantai, decak kagumnya terhenti kala ia menemukan buku yang sangat bagus untuk dibaca dan dijadikan rujukan untuk kehidupannya, terlebih sekelumit masalah yang tengah dihadapinya. Judul sampul itu ialah ‘tatanan kehidupan harus sejalan dengan syariat islam’ dan hanya tersisa satu buku. Sewaktu ingin mengambil, Tomy terkejut ketika di sampingnya terdapat lelaki tua separuh baya, yang menatap sama apa yang Tomy tatap, lantas ia mengurungkan niat untuk membaca dan mempersilahkan kepada Bapak tua tadi.

“Silahkan Pak, mau ambil buku ini ya?“ sambil menunjukkan buku yang dari tadi ia inginkan.
“Terima kasih nak.“
“Iya Pak sama-sama“ benar dugaan Tomy.
Ketika ingin pergi dan mencari buku lain, tiba-tiba saja Pak tua tadi memanggil dan menanyakan sesuatu.
“Adik pernah membaca buku ini?“
“Belum Pak, jusru baru kali ini saya melihat buku yang berjudul seperti itu.“
“Kalau begitu ambillah, saya sudah tua dan selalu sakit. Sudah tidak layak untuk membaca buku ini. Saya merasa kamu yang lebih pantas dan semoga bisa kamu amalkan dan sebarkan setiap kebaikan di dalam buku ini.“
“Aminn..“Tomy sedih ketika melihat bola mata Pak tua itu yang mulai kemerah-merahan, antara ingin menangisi keluhannya atau memang sudah seperti itu akibat usianya.
“Siapa namamu nak? Sambil menyodorkan tangan arti sebuah perkenalan dengan jabatan tangan.
“Nama saya Tomy Mandala Putra, kalau nama Bapak siapa?“
“Saya Ali Sastrowidjodjo, orang-orang di toko buku ini hanya memanggil Pak ali saja.“
“Oh Pak Ali namanya, terimakasih ya pak? Sambil tersenyum.
“Iya, sama-sama nak” Pak Ali pun menjawab dengan senyum simpulnya
.

Buku yang menjadi pengobat hati Tomy telah menjadi sebuah bacaan yang terus-terus diulanginya, karena tulisan yang disuguhkan begitu mendalam, sehingga membuat Tomy terkadang pusing hingga harus browsing ke internet guna mengetahui maksud dari tulisan-tulisan tersebut. Takjub akan isi buku itu membuat Tomy bertanya, siapa gerangan yang mengarang buku tersebut. Alangkah terkejutnya Tomy saat membaca halaman di mukadimah, diluar dugaan, ternyata pengarangnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah bapak yang berada disampingnya tadi. Pak Ali Sastrowidjodjo.

Hari mulai gelap, rembulan mulai menunjukkan sinarnya, rencana esok untuk bertemu beliau disusun. Sampai seputar pertanyaan-pertanyaan dari yang mudah hingga tersulit, dan rasa penasaran berasal dari mana redaksi-redaksi yang beliau himpun.

Setiba di dalam toko, Tomy mulai menunjukkan kehausannya akan ilmu. Di kesempatan langka ini banyak yang ditanyakannya seputar rencana yang ia susun sore itu, diskusi mereka cukup alot. Alih-alih ilmu yang di dapat belum puas, Tomy diajak untuk ikut bergabung dalam bisnis yang digarap oleh Pak Ali dan keluarga, sekaligus belajar ilmu agama oleh bimbingannya. Pak Ali merasa Tomy adalah pemuda yang berbakat dengan hanya melihat gelagat dan gaya bicaranya yang cukup intelek, berbanding terbalik usianya yang muda.

Mendapat tawaran semacam itu, membuat Tomy merasa bahagia luar biasa dan segera menerima ajakannya, ia sangat tertarik untuk mengikuti jejak Pak Ali sebagai penulis hebat dan pebisnis yang sukses. Dahulu hanya 1 lantai kini telah berubah menjadi 3 lantai. Serta menjadikan tokonya sebagai penerbit yang selalu mengeluarkan karya-karya tulisan hebat orang lain.

Teruskan membaca Setelah 1 Bulan belajar bersama Pak Ali
Panwascam Meral Barat

Setelah 1 Bulan Belajar Bersama Pak Ali

    Tidak ada komentar:
Setelah 1 Bulan belajar bersama Pak Ali

Tomy berhasil mencuri sebagian ilmu dari Pak Ali yang ahli dalam bidang agama, satu bulan bukanlah waktu yang cukup, untuk menyerap ilmu agama yang terkandung di dalam jiwa Pak Ali. Tapi satu bulan cukup untuk menjadi seorang penulis ulung, ditambah peralatan yang memadai dan guru yang mempuni. Serta tidak diragukan lagi akan kehebatan Pak Ali dalam merangkai kata-kata indah nan menyejuk kalbu.
Ketajaman nalar pak Ali kini sudah mengalir ke Tomy, pernah suatu hari Pak Ali bertanya pada Tomy tentang kecerdasannya. “Dari mana kamu memperoleh otak yang cerdas itu nak?“ Tomy menjawab dengan gamblang “Kedua orang tuaku selalu menyuruhku sholat tepat waktu“ lalu Tomy diam dan mulai belajar menulis lagi.

Pak Ali menyadari bahwa kecerdasan yang ia dapat pantas didapati dari sholat, tapi Tomy belum menyadari arti dari sholat. Hakekat dari sujud, dimana gerakan sujudlah yang membuat otak menjadi cerdas, aliran darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika sujud dalam sholat.

Tomy ibarat emas yang hanya tinggal dipoles untuk menjadi bermacam-macam perhiasan.

Tomy kini sudah mahir dalam menulis dan menyusun, menurutnya inilah buku yang terbaik dalam hidupnya. Yaitu sebuah novel berjudul ‘Mantanku jodohku’ yang terilhami dari pengalaman Tomy sendiri, ditambah sedikit pengetahuan agama pak Ali pada bab akhirnya.

Satu bulan lebih sudah Tomy menulis, buku yang ia tulis kini sudah terbit dan siap dipasarkan ke pelosok kota, tak disangka untung yang ia raup melebihi yang diharapkan. Hasil penjualan di toko ‘Salemba’ sebagai buktinya. “Ini baru satu toko saja, belum lagi dari keuntungan toko yang lain,” ujar Tomy yang baru menyadari bakat alaminya. Kini ia lebih serius lagi mendalami setelah melihat hasil buah yang ia tanam lalu.

Mendekat dua bulan bukunya sudah menjadi best seller untuk daerah kotanya. Lebih dari cukup untuk membantu beban kedua orang tua, membayar tunggakan uang wisuda yang telah mendapatkan dispensasi. Dari kebutuhan pribadi, sampai kebutuhan keluarga, hingga kebutuhan teman, sahabat, dipenuhinya semua. Semua itu ia lakukan semata-mata karena ibadah, beribadah kepada Allah. Tujuan akhir dari segala perbuatan baik.


Wisuda dan menuju puncak karir

Aktivitas kehidupannya kini berubah, setelah ia wisuda, sambil mencari kerja ia sempatkan untuk menulis novel dari berbagai tema dan bermacam judul. Ia begitu tekun menggeluti pekerjaan sampingannya ini, sampai pada akhirnya novelnya semua laku terjual. Hingga skala nasional, tak terkecuali 1 dan 2 buku mampu menembus pasar internasional. Tulisannya novel bertemakan islam yang menjadi favoritnya. Ia juga menulis artikel bertemakan ilmu agama, yang di cintainya setelah mengenal pak Ali. Lalu ia memutuskan penulis sebagai pekerjaan tetap.

Melihat perkembangan Tomy yang begitu pesat, Pak Ali merasa bangga. Kehidupan keluarganya tidak luluh lantak seperti dahulu lagi, ia menjadi orang sukses. Tak lupa ia selalu memberi infaq kepada anak yatim dan orang yang tak mampu, orang yang butuh pekerjaan pun tidak luput dari bantuannya. Begitu dermawannya Tomy, sampai-sampai pak Ali menyanjungnya dengan sebutan “Manusia bertangan emas dari bumi berazam.”

Dengan kepercayaan yang diberikan kepada Tomy, maka Pak Ali menunjuk Tomy untuk mengatur buku-buku yang layak untuk di terbitkan, ketimbang Ferry anaknya sendiri. Maka semakin tinggilah penghasilan Tomy sekarang, di tambah ia juga seorang penulis handal. Setelah cukup lama memegang jabatan di jasa penerbit ia mengganti nama penerbitnya menjadi ‘Tangisan Hujan’ sebuah nama yang saraf akan masa lalu.


Gayatri Rajapatni.

Disisi lain, Tri yang hidup di Lingga telah menjelma menjadi seorang guru TK yang  cantik dan menarik. Ia menggeluti profesi itu akibat peran ibunya sebagai kepala sekolah TK, ia telah menikah dengan Juar yang bekerja sebagai Captain kapal di salah satu perusahaan asing.

Selama menikah ia belum mempunyai anak, harinya pun dilalui dengan kesendirian dirumah, karena Juar selalu berada di atas kapal. Ia akan pulang bila selesai 3 bulan bertugas di laut, tapi kenyataan yang ada Juar pulang setelah 6 bulan bahkan lebih. Lalu, Tri menyewa seseorang untuk menyelidiki hal tersebut, kabar yang tidak mengenak pun tiba. Juar telah memiliki istri jauh sebelum mereka menikah, istrinya adalah warga Fhilipina. Ia pun meminta cerai dari Juar. Berita ini terdengar sampai ke telinga Tomy melalui rekan kerjanya. Hal ini tidak membuat Tomy merasa senang atau bahagia karena masalah yang dihadapi Tri. Ia telah menemukan cinta seutuhanya yang tidak pernah redam dan takut akan ditinggal lagi. Yaitu cinta kepada Allah SWT.

Terlalu baiknya Tomy membuatnya hiba terhadap Tri, Tomy mengirimkan sepucuk surat yang berisikan sebuah wejangan hidup, lalu di balas seminggu kemudian oleh Tri dengan sebuah penyesalan yang amat tinggi.


5 tahun kemudian ..

5 tahun berjalan, Tomy menjadi kaya raya. Dahulu hidupnya tunggang langgang, uang kuliah tersendat-sendat dan himpitan ekonomi selalu menerpa keluarganya. Kini, ia telah sukses, telah menyandang gelar Doctor. Menjadi kebanggaan bagi keluarganya, pengalaman pahitnya telah menjadi kenangan.

Sekarang ia semakin sibuk, bukan tempat penerbit saja yang di urusnya, toko buku salemba pun menjadi tugasnya, setelah meninggalnya Pak Ali. Ferry anaknya Pak Ali yang tidak mampu mengemban tugas yang diberikan oleh bapaknya, menjadikan Tomy mengendalikan semua bisnis Pak Ali. Walau untungnya di bagi beberapa persen ke Ferry.

Kehidupan Tomy terasa kurang lengkap tanpa sesosok wanita di sampingnya, ia bukan tidak ingin lagi mencari wanita setelah luka masa lalunya, melainkan hanya fokus ke karirnya.

Hingga akhirnya, setelah memasuki usia 28 tahun ia menemukan seorang wanita manis, sholeha lagi baik akhlaknya, dari keluarga ulama yang terpandang di Karimun. Namanya Maryati, yang kini telah menjadi istrinya dan dikaruniai sepasang anak yang cantik dan tampan. Akhirnya, Tomy dengan keluarga kecilnya hidup bahagia, dan Tri sang mantan yang melukainya juga bahagia dengan kesendiriannya.

Bersambung…
Panwascam Meral Barat

Sabtu Sore Di Pantai Pelawan

    Tidak ada komentar:
Sabtu sore di pantai pelawan

Lirih angin menghampiri Tomy, di tepi riuh deburnya air pantai menanti Tri yang tak kunjung tiba. Seketika, Tomy salah tingkah, ia terdiam. Matanya terpesona melihat Tri menghampirinya. decak kagumnya tak terelakkan, ayunya sungguh mempesona. Tomy tak habis fikir jadinya, melihat perbedaan Tri sewaktu di kampus. Dari segi busana yang di kenakan sungguh berbeda. Bedak dan bibir tipis merah merona melekat pada wajah putihnya, menjadikan satu nilai modal untuk mencuri perhatian pria yang berada dipantai tersebut. Termasuk Tomy yang mengaguminya.

Takut didahului oleh Tri, Tomy segera menyapanya duluan.

“Haii .. apa kabar?“
“Baik, siapa duluan ya yang sampai disini??“ tanya Tri.

Tri tidak mau kalah, kecantikan membuatnya percaya diri. Dia memang unggul dalam beretrorika -berbahasa secara efektif- terutama di depan pria, Tomy sudah dari awal menyadarinya.

“Mungkin kamu duluan.“
“Ooo..“
“Hari ni kamu cantik sekali,“ gombalnya.
“Hehehe makasih.”
“Tapi sayang statusnya kok single?“
“Kok tau,“ pipi Tri mulai memerah.”
“Liat di facebook kamu.“
“Oo ..“ Tri tersenyum malu.

Wanita bila ditanya selalu menjawab ‘oo’ adalah kewajaran, hal ini dikarenakan wanita pada umumnya tidak suka mendramatisir.

“Kamu udah makan?“ lanjut Tomy.
“Belum, kenapa? Mau ajak Tri traktir ni?“ dengan gelagat tidak menolak.
“Hehe.. ia, emang bisa? Apa teman Tri tidak marah bila kita berdua saja yang pergi?“
“Haha.. tidak, jangan khawatir mereka udah dewasa semua. Pengertian lagi, terus Tri kesini bawa sepeda motor sendiri, jadi kalau mereka pulang tidak masalah.“

Tri memahami maksud isi hati Tomy. Tanpa fikir panjang, Tomy menarik tangan Tri yang putih dan lembut, tanpa menghiraukan kalau mereka baru saja berkenalan. Mereka menyusuri pasir putih sesambil melihat ke laut. Sejenak, terbesit di benak Tomy. “Sejak kapan aku berani menggandeng tangan wanita? kakak tingkat lagi. Akankah sikap yang tadi ialah diriku yang sebenarnya? Atau tadi itu setan yang merasukiku?“ ia bertanya-tanya keheranan seolah tak percaya apa yang barusan terjadi.

Tiba-tiba di sisi Tomy terdengar suara lembut dari bibir Tri “Aduuh .. dingin kalii, disini anginnya kencang.“
Tomy mendekat “Dingin ya, ya udah kita ke atas bukit,“ sambil mencari rumah makan ia mendekap Tri, memberikan rasa kehangatan. Jacket yang ia kenakan diselimuti ke tubuh Tri.

Di rumah makan mereka di kejutkan dengan sekawanan hujan, rupanya sudah terlihat sejak angin kencang tadi. Petir yang diselingi kilat menemani makan sore mereka yang sepi dari pengunjung. Sungguh menyeramkan pagi ini, betapa tidak. Pohon besar di belakang rumah makan itu mulai ingin rebah. B ila menimpa, maka tamat sudah mereka.

Situasi mencekam membuat Tri takut tapi tidak unutuk Tomy.

“Kita pulang jam berapa?” cemas Tri.
“Sebelum ashar. Tenang, hujan ini hanya sebentar, ini hanya hujan lewat.“ Cukup meyakinkan Tomy menjawabnya, menyadari Tri yang cemas dari tadi. Tiba-tiba Ibu pelayan datang, lalu mereka memesan 2 jus coconut milk.

Hujan tak kunjung reda sejak pagi. Obrolan sudah tidak ada, mulut mereka lelah untuk bebicara, kejenuhan mulai menginggap ketika hanya hujan yang didengar. Saat situasi seperti ini, Tomy sempat juga merayu Tri untuk melepas ketakutan yang dirasakannya.

”Tri, tau tidak srikandi di kayangan itu seperti apa?“
“Seperti apa?“
”Seperti kamu Tri, dan aku arjunanya,“ isyarat hati yang Tomy pancarkan mulai menyala.Tri mulai tersipu malu mendengarnya.”
“Haha, masak sih aku seperti srikandi yang di kayangan?“
”Enggak percaya? Lihat aja nanti di kaca setelah tiba dirumah. Lalu perhatikan wajahmu yang elok berseri itu, dan tatap busana yang kamu kenakan hari ini. Bandingkan dengan busana kuliahmu, pastilah hari ini lebih cantik dan sedap di pandang.“

Rayuannya tepat, hingga mengena di lubuk hati Tri, menjadikannya hanya membalas dengan senyuman manja.
“Tri, boleh aku mengatakan sesuatu yang selama ini aku rasakan?”
“Boleh, silahkan saja,“ Tri menyadari akan ada kejutan.

Tiba-tiba, sejenak Tomy diam sambil memejamkan mata. Sebab, ia takut bila tersendat di saat mengungkapkan isi hatinya, sesekali melirik kiri dan kanan memantau apakah sudah benar-benar sepi. Ia tidak bisa mengendalikan geroginya yang sudah tingkat atas, ini masa pertama kalinya Tomy ingin mengumbar cintanya secara langsung kepada wanita.

”Etttr… i , aku sukaa..“
“Terima kasih buk“ Ucap Tri, usai pesanan datang.

Tomy terkejut dengan kedatangan pelayan, ia pasrah dan menyerah dengan keadaan yang sudah berubah, padahal tadi keadaan sebaliknya -sudah berada diatas angin- kalaulah tidak lambat menyampaikannya.
Kini Tomy sudah tidak selera. Lalu, untuk menghilangkan kekesalannya ia menawarkan suapan manja ke Tri, sehingga membuat suasana menjadi romantis, ditambah lagi ornamen-ornamen rumah makan yang mendepankan sisi percintaan. Balon berbentuk love bewarna pink , bingkai-bingkai indah menyelimuti dinding disertai lukisan menara Eiffel. Sore yang langka bagi mereka, dunia seakan terasa milik berdua.
Tak sadar hujan telah reda, kini pukul 06:05. Dimana Tri harus pulang kerumah. Kemudian mereka pulang dengan mengendarai sepedar motornya masing-masing.

Peristiwa sore tadi tak akan terlupakan untuk Tomy, ia mendapat banyak jawaban, Tri adalah wanita yang tidak pemalu bila bermesra di muka umum, ia juga pengertian, tidak neko-neko dan juga manja. Ia selalu menurut akan larangan orang tuanya yang harus pulang sebelum magrib.
Sampai dirumah Tomy segera menelfon, ia khawatir Tri dimarah orang tuanya karena pulang hamper magrib.

“Hallo?“
“Ya, hallo ?” Jawab tri.
“Suara Tri terlalu halus, hampir tak terdengar, tadi dimarah ya?“
“Tidak tom, tapi hanya ditegur. Tri alasannya tadi hujannya lebat jadi berteduh dulu dirumah teman makanya pulang terlalu magrib.''

Tomy senang sekali, Tri menjawab dengan sebutan ‘tom’ , yang dari awal perkenalan sampai sekarang tidak pernah Tri menjawab seperti itu.

“Ooh syukur la. Suaranya kok pelan, ada apa. Tri pilek ya?“
“Biar tidak didengar sama Ayah, nanti ketahuan kalau kita tadi ke pantai“
“Hehe. Pintar Tri ya, oke deh. Eh tunggu dulu aku mau menanyakan sesuatu, apa boleh??“
“Boleh, mau nanya apa tom? Cepat ya nanyanya“ cemas Tri, takut ketahuan Ayahnya.
“Aku menyukaimu Tri, rasanya aku telah jatuh hati. Apakah kamu mau menjadi pacarku?“

Sejenak Tri terdiam 1 menit lamanya, membuat Tomy harap-harap cemas, apakah ditolak atau diterima atau juga lansung dimatikan sambungan telefonnya.


“Iya aku mau, Tri mau menjadi pacar Tomy. Tapi ada syaratnya.”
“Aduh, ada syarat segala, memang apa syaratnya?“ Keluh Tomy yang penasaran.
“Tom, kamu jangan mencintai aku melebihi cinta terhadap Allah, karena suatu saat nanti bisa saja kamu akan membenci aku. Dan bila membenci aku sewajarnya pula, karena kedepan bisa jadi kita saling mencintai. Bukankah allah maha membolak-balikan hati? Bukankah cinta yang sejati adalah cinta setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja. Maaf ya tom, aku bukan maksud menggurui tapi inilah yang diajarkan mama.“
“Ooh oke, tidak masalah. Aku senang kok mendengarnya. Ya udah tutup telefonnya, katanya bentar, nanti ketahuan.“
“Hi.. hi.. iya nih keasikan jadinya, oke daa .. Assalamualaikum.“
“Daa .. waalaikumsalam.“


Teruskan membaca Tomy menjalin kasih dengan Tri selama 3 tahun
Panwascam Meral Barat

Tomy Menjalin Kasih Dengan Tri Selama 3 Tahun

    Tidak ada komentar:
Tomy menjalin kasih dengan Tri selama 3 tahun

Mereka semakin mantap dalam menjalani hubungan ini, saling melengkapi dan jarang bertengkar walau hanya kecil-kecilan, terkadang pertengkaran itu dimulai dari kuatnya ego masing-masing. Terutama Tomy yang lebih muda dari Tri, ia jarang sekali ingin mengalah dalam segala hal, itu semua tidak serta merta menjadi masalah yang sulit untuk di atasi. Sebab, masih dalam kata wajar layaknya orang pacaran kebanyakan.

Setiap pulang kuliah , Tomy sempatkan untuk berdua bersama di rumah Tri. Malah, jam-jam kuliah yang tidak ada dosen pun ia rela cabut demi terpenuhnya rasa rindu yang selalu merebak dalam jiwanya. Tri sudah wisuda setahun yang lalu, hingga kini ia belum bekerja karena statusnya orang senang.

Jadulnya motor Tomy, yang bukan miliknya melainkan bapaknya, membuat Tri selalu menawarkan untuk menjemputnya. Terkesan memanfaatkan materi orang, membuat Tomy merasa hiba dan khawatir akan dicap sebagai laki-laki yang tidak bermodal atau kere.

Ini yang dinamakan tulus mencintai pasangan, tidak memandang status atau materi yang ada. Tapi, Semakin tinggi sebuah pohon semakin kuat anginnya. Walau seorang sudah merasakan begitu nikmatnya hubungan, pasti akan ada kendala yang siap kapan saja menerjang.

Tomy mulai was-was dalam mengkehendaki sesuatu dari Tri. Takut terjadi sesuatu diluar dugaannya. Konon, surga itu ada di bawah telapak kaki ibu, maka wajarlah bila seorang wanita bernama lengkap Gayatri Rajapatni ini menghormati ibunya, demi surga akhirat dibanding surga dunia yang hanya sebentar ini. Orang tua Tri tidak setuju anaknya menjalin kasih dengan Tomy yang keluarganya bukan dari golongan ternama, mapan, para alim, terlebih ulama. Lantas, hal ini menjadikan sebuah tembok raksasa yang nyata bagi Tomy.

Perekonomian keluarga Tomy memang pas-pasan, tapi semangatnya dalam pendidikan berbeda dengan anak konglomerat kebanyakan, yang hanya berfoya-foya. Bapaknya bekerja sebagai buruh bangunan hanya lulusan SMP, Ibunya tidak lulus SD hanya berfrofesi sebagai ibu rumah tangga, dan Abangnya yang bekerja sana sini hanya menggunakan ijazah SMP akibat putus sekolah semasa SMA. Ia tidak ingin nasibnya seperti mereka bertiga, baginya memegang gelar sarjana saja masih kurang, hingga dia bercita-bisa bisa lulus S3 agar status keluarganya bisa dirubah.sedert

Terkadang dibenakknya selalu bertanya, “Pantaskah aku seorang anak buruh mempunyai kekasih? Haruskah aku merelakan hidup ini hanya demi cinta yang dapat membunuh ku!?“

Hanya waktu yang  bisa menjawab semua pertanyaan Tomy ini. Semua terasa begitu cepat, jalinan kasih yang mereka lalui tanpa di sadari memakan waktu 3 tahun lebih. Tidak sedikit hati Tomy tersakiti akibat urusan asmara ini, namun selama 3 tahun pahit manisnya tetap mereka merasakan bersama.

Hari ni adalah hari ujian seminar, yang dilakukannya pagi tadi di kampus. Saat diperjalanan pulang tiba-tiba suara ponsel Tomy berbunyi, isyarat pesan masuk. Ia terperanjat membacanya, Tomy murka terhadapat Tri. Sebab pesannya berbunyi “ Tolong jangan ganggu Tri lagi, saya sahabatnya Juar pacarnya Tri.“

Kenyataan selama ini hanya fatamorgana. Tomy gusar, ia terbakar api cemburu, ia tidak sanggup berlama-lama di jalan raya, sudahlah panas lagi berdebu. Tidak ada di ayalnya ini perbuatan orang yang iseng, ia telah lama curiga setiap kali meminta password FB yang di selalu diganti Tri. Hatinya telah dirasuki oleh kegelapan, ia ingin segera secepat mungkin menemui Tri yang sudah mengkhianati cintanya. Laju sepeda motornya di atas 90 km, maut pun tak dihiraukannya lagi.

Siang menjelang sore, Tomy sampai di halaman rumah Tri. Entah kenapa sore itu awan hitam berarak melewati langit yang tadi begitu panas, dalam sekejap keadaan gelap dan hujan gerimis yang syahdu perlahan mulai melebat. Mungkinkah ini pertanda akhir dari segalanya. Sambil memasang muka masam, Tomy menyodorkan pesan yang mengejutkan itu.

“Kamu pasti tau arti pesan ini?”
“Iya, itu nomor Gio. Sahabatnya Juar.“
“Siapa Juar? Pacar kamu? Jadi aku ini siapa!?” Dengan nada yang tinggi.

Tomy tidak ambil pusing apabila suaranya didengar oleh keluarga Tri, sebab hujan di luar yang lebat membuat orang di dalam tidak kedengaran.

“Sebenar pacar aku, sedang kuliah di Jogja. Tapi aku bisa jelaskan Tom.”
“Kenapa kamu mau menerima cintaku sedangkan kamu sudah mempunyai pacar?” teriak Tomy.
Tangannya yang gemetar tanda ingin menampar pipinya, tapi ia masih teringat pesan ibunya. Di larang memukul perempuan kecuali istri sendiri.

“Aku butuh pendamping, bukan Juar yang jaraknya jauh. Tapi ingat Tom! Cintaku padamu lebih besar dari pada cintaku pada Juar. Aku ingin putus darinya, ia sekarang tidak peduli lagi.”
“Tidak peduli? Itu buktinya kenapa dia menyuruh temannya seperti ini? Dimana letak akalmu?? “ Merampas ponsel miliknya dari tangan Tri.
“Kalau kamu ingin putus dengannya, sampaikan sekarang juga!?“  Sejenak menarik nafas pendek untuk menenangkan jiwanya.
“Tapi aku tak bisa tom“ Tri menangis tersedu-sedu.
“Kenapa!!?” dengan perasaan curiga yang mendalam.
“Rasanya sulit untuk di jelaskan, jasanya begitu banyak. Aku hanya ingin dia yang memutuskan hubungan ini bukan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana tom selain cara ini.”
“Baiklah, ini seperti cinta segitiga yang tidak dapat diselesaikan jika tidak ada yang memilih diantara 2 pilihan. Ini pertanyaan ku yang terakhir. Sekarang, kamu ingin pilih Juar atau aku?“
“Aku tidak bisa jawab tom, maafkan aku tom ini salahku, aku memang bodoh.”
“Stooppp .. “ sambaran jari telunjuk Tomy tepat ke arah mulutnya Tri yang sedari tadi berusaha menjelaskan atas kesalahan fatalnya.
“Baiklah, aku yang akan menjawab. Kita putus dan silahkan kamu bersama Juar,” lanjut Tomy.
“Tidak, aku tidak mau putus aku sayang sama kamu tom, aku mencintaimu. Tega kamu ingin memutuskan aku? kita sudah 3 tahun tom! Sia-sia kita menjalaninya“
“Iya aku tega, apakah kamu tega tidak jujur padaku? Aku tidak akan mendekatmu sampai sejauh ini bila kamu jujur padaku, tapi kenyataannya kamu berkhianat. Apakah kamu tidak menyadari apa yang kamu tanam itulah yang di petik nanti? Tunggulah karma dari tuhan. Sesungguhnya kamu adalah cinta pertamaku. Akan tetapi, kamu jugalah orang yang pertama menyakiti perasaanku.”

Tatapan mata yang terakhir menyiksa batin Tomy yang mencintainya, walau begitu ia tetap merelakan Tri untuk orang lain. Sungguh ironi kisah cinta yang mereka alami, harus kandas karena orang ketiga disertai campur aduk dari orang tua.

Tomy pulang dengan sepeda motornya yang terparkir di rumah Tri, dalam keadaan basah sejak kedatangannya. Sepanjang jalan, hujan terus mengiringi kepergian Tomy menuju rumahnya. Tya yang dari tadi tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menangis sambil meratapi penyesalannya, ia kecewa dengan keputusan yang di ambil Tomy. Menyusulnya saja tidak mungkin, maka ia mulai mengetik pesan perpisahan yang tidak sempat disampaikannya tadi.

Walau kini kau tak lagi temani ragaku, akan ku pastikan bahwa cintaku hanya untukmu seorang sayang, dirimu akan ku kenang selamanya, meskipun kusadari tak mungkin bisa memelukmu lagi “

Semua telah terlambat, hati Tomy tidak bisa ditarik ulur lagi, tidak bisa menerima Tri lagi. Hatinya sudah beku kecuali atas izin yang di atas.

Jurang yang dalam telah memisahkan mereka yang tak mungkin untuk lalui, kini Tomy seperti lari dari kenyataannya.

Teruskan membaca Seminggu berselang ..
Panwascam Meral Barat

Kisah Cinta Laksmana

    Tidak ada komentar:
Senin di pagi hari, 9 April 2012

Karimun di pagi hari. Semua terasa lengkap, termasuk atribut ospek. Namun kekhawatiran muncul di perjalanan. Sebab. Sekarang pukul 07:15, ospek di hari pertama telah di di mulai 15 menit yang lalu. Alih-alih menunggu sanksi yang diterima, diluar dugaan, Tomy dipersilahkan masuk ke gerbang kampus. Ternyata hanya ia sendiri yang di persilahkan masuk. Sehingga hatinya betanya-tanya, siapakah dia?

Selama ospek berlangsung Tomy mencari orang tersebut. Ketika istirahat, wanita tersebut terlihat sedang makan siang sendirian di kantin. Ia lantas beranikan diri untuk mendekatinya.

“Menikmati mie ayam tanpa teh sosro dingin sepertinya kurang afdol, nih ambil satu.“ Tomy tawari dengan sebotol teh sosro.
“Eh kamu, terima kasih“ jawab wanita tadi. “Kok diam, kamu gak lapar? Jangan liatin terus, nih ambil kalau mau“ Wanita tersebut menawarkan. Sepertinya wanita itu bisa membaca fikiran Tomy yang sedari tadi hanya melihat wajahnya.
“Udah tadi barusan selesai, tidak kok.., dari tadi saya hanya melihat botol sosro ini,“ lanjut Tomy dengan sanggahannya.
“Melihat apa? Airnya sudah habis, kok dilihat?“ Pertanyaan yang menyudutkan. Mata itu berhasil melumpuhkan Tomy, menjerat nafsu jiwa dan mengurungnya kedalam gejolak cinta.

Nama wanita itu Gayatri Rajapatni, jurusan keguruan semsester 3. Hidungnya pesek namun cantik untuk seukuran wanita indonesia. Perkenalan mereka di kantin begitu singkat tetapi cukup berkesan, Tomy ingin berlama-lama, memandang Tri yang memikatku itu. Tapi, setelah menyantap mie ayamnya Tri pergi begitu saja ke ruang panitia ospek, kecewa jadinya Tomy.

Tiba waktu yang didambakan Tomy, yakni memamerkan puisi cinta ke semua orang di sesi terakhir ospek, isinya sebenarnya untuk seseorang. Orang itu tidak lain adalah kakak tingkat yang di taksirnya. Acara di kemas apik oleh panitia, puisi yang bertemakan asmara berlantunkan romantis, sedikit humoris, membuat semua yang hadir terbawa ke alunan kisah asmara yang menyegarkan, tak terkecuali gelak tawa juga mewarnai.

“Jadikanlah aku raja di istana hatimu“ sebuah bait penutup yang Tomy ucapkan.

Setiba dirumah, Tomy segara mencari data tentang Tri. Status, tempat tinggal, keluarga, hingga asal-usulnya dicari melalui media sosial. Tampaknya Tomy telah jatuh hati pada seorang wanita yang lebih tua darinya.
Matahari mulai meredupkan cahayanya di senja, menjelang malam, cahaya rembulan menemani Tomy disaat ia menuliskan catatan harian. Mimpinya malam ini adalah menyebut nama Tri, mimpi ingin memeluk erat tubuh Tri dan memilikinya.

16 April 2012, Senin kedua di kampus
Gelora merah langit pagi, bagai tersipu malu melihat tingkah Tomy sedang tergila-gila kepada seorang wanita. Pas seminggu sudah ia berkenalan dengan Tri, kini ia sudah akrab dengannya. Namun kebahagiannya terganggu. Ia gelisah. Sebab, Tri yang dapat meluluhkan hatinya tidak didapati pagi ini. Setelah lama mencari, siangnya Tri terlihat di parkiran, sedang berkutat dengan sepeda motor yang susah untuk keluar. Tomy menghampiri dan membantunya. Ia tak berdaya di samping Tri, hatinya seperti meronta ingin mengungkap hasrat tanpa bisa dikendalikan.

“Terima kasih sudah membantu ku.“
“Ia sama-sama, mau pulang ya kak?”
“Tidak, mau ke perpustakaan dulu baru pulang.“
“Boleh ikut,” lanjutnya. Tiba-tiba ia menawari Tomy.

Di jalan Tri mengatakan “Jangan memanggil kakak ya, anggap saja kita sebaya,“ Tomy mengangguk tanda mengerti. Kumis yang hitam, sedikit jenggot bergantung di dagu. Serta tubuh Tomy lebih tinggi darinya, memungkinkan Tri seperti itu.

Tomy juga menyukai buku, apa lagi tentang ilmu kelautan. Jurusan yang di gelutinya di Universitas Karimun. Ketika sedang asik sendiri, ia terkejut. “Aku mau pulang“ kata Tri. Kenapa? keluh Tomy dengan meletakkan kembali buku yang dipegangnya. Tri diam lalu menuju pintu keluar. Sesekali di perjalanan pulang ia sempatkan bertanya apa yang dicari Tri. Namun tidak di gubris. Andai rasa penasaran ini berakhir dengan bahagia, seribu satu cara akan kukerahkan untuk menggali isi kepalanya, agar terkuak segala permasalahan yang dihadapinya! Geram Tomy.

“Aku mau ke cafĂ©.“
“Aku ikut,“ sahut Tomy
“Tidak usah, aku lagi mau sendiri.“
Tomy segera mencari alasan agar bisa ikut.
“Aku kan mahasiswa baru, jadi aku ingin tahu apa itu SKS, IPK, BEM, HIMA.“
Tanpa harus menjawab Tri pergi begitu saja.

Rasa penasaran tomy mengalahkan rasa malunya, lantas ia menyusul Tri hingga tiba di cafe. Tri tersenyum sambil menggelengkan kepala, tanda tidak percaya apa yang dilihatnya.

Di sana mereka disuguhkan makanan dan minuman, Tri adalah orang kaya, laptop, gadget, dan dompet yang besar serta gelang emasnya yang mencolok sudah menyakinkan Tomy. Diskusi mereka begitu asyik, sehingga tak sadar suara orang mengaji terdengar, waktunya Tri pulang kerumah. Waktu Tri memang terbatas, tidak seperti Tomy yang bebas.

Agaknya, terlihat Tri berusaha membuat Tomy penasaran. Ia merupakan wanita yang berbeda, tidak semudah unutuk ditaklukkan oleh setiap pria, terlebih perkenalan yang baru seumur jagung. Hingga muncul beribu tanya dan sejuta rindu di benak Tomy, bila tidak turuti kehendaknya, hatinya meronta-ronta ingin mencari kebenaran demi meraih kenikmatan yang tiada berakhir (Cinta).

“Kecantikan sempurna yang tak terlukiskan telah melumpuhkan jiwa Tomy saat bersama Tri“


Hanya satu cara untuk mewujudkan hasrat Tomy. Bertemu langsung, mengajak Tri kencan dan bukan lagi merenung ditempat. Kemudian, kencan di sabtu senja Tomy sampaikan di kampus. Tri tertarik. Sebab, hari itu bertepatan ia dan teman-temannya melakukan refreshing ke pantai pelawan. Sebuah wisata alam andalan karimun.

Teruskan membaca Sabtu sore di pantai pelawan