Featured

Beauty

Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2017

Panwascam Meral Barat

Kenyataan Politik Yang Ada

    Tidak ada komentar:

Parizal, Ketua PC PMII Kabupaten Karimun 2015-1016

Tepatnya pada pasca reformasi tahun 1998 tentu menjadi masa dimana tongkat demokrasi di Indonesia resmi ditancapkan. Mundurnya Presiden Soeharto dari jabatannya di kursi kepresidenan menandakan telah dimulainya kehidupan baru dunia perpolitikan di negeri ini. Tentu harapan dari berbagai kalangan akan terciptanya kehidupan politik nasional yang demokratis begitu kuat tertanam dalam pikiran masyarakat. Semangat politik saat itu diwujudkan melalui pendirian partai politik yang jumlahnya puluhan. Semua berlomba untuk mengisi kevakuman pemimpin nasional.
Di dalam ilmu politik, partai politik ialah sekumpulan orang-orang yang terikat oleh ideologi tertentu dan mempunyai tujuan kolektif untuk memenangkan pertarungan kekuasaan melalui pemilihan umum.

Menjadi penguasa adalah utama didirikannya sebuah partai politik. Serta Menurut kutipan di Wikipedia Partai politik di Indonesia adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengertian ini tercantum dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.

Sebagai agen dari demokrasi, partai politik mempunyai tugas yang tidak mudah. Selain mempunyai tujuan pertama untuk memenangi pertarungan perebutan kekuasaan. partai politik mempunyai tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat banyak, mengawal dan mensosialisasi kebijakan-kebijakan pemerintah serta sebagai wadah kaderisasi pemimpin melalui tahapan rekrutmen politik. tanggung jawab ini memang penting untuk bisa dipikul dengan baik oleh partai politik. Jika proses demokratisasi di Indonesia benar-benar bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Akan tetapi dari pengamatan dan dugaan saat ini pada kenyataannya Partai sangat jarang melakukan pendidikan politik rakyat baik mengenai politik sebagai “Democratic Bargaining” yang memunculkan pemenang dan yang kalah dalam pembuatan keputusan atau pemilu. Akibatnya pasca pemilu kadang terjadi gesekan atau konflik di dalam masyarakat. Rakyat tidak diajari untuk menjadi partisipan politik yang sukarela, melainkan dimobilisasi, antara lain dengan politik uang ataupun gratifikasi.

Rakyat tidak dididik untuk menjadi warga negara yang demokratis yang bukan saja siap menerima kekalahan, tetapi juga tidak disiapkan untuk berpartisipasi aktif di antara dua pemilu dan tidak dididik untuk memahami sistem politik yang ada. Terkadang rekrutmen didalam politik berlangsung secara amburadul, ad hoc, dan tidak disiapkan secara matang karena pengkaderan politik tidak berlangsung secara baik.

Ini menyebabkan terjadi asal comot calon anggota legislatif yang tidak melalui sistem rekrutmen dan kaderisasi yang matang. Rekrutmen politik atas dasar pemilikan uang, dinastiisme, popularitas hingga kader-kader politik yang berpotensi sulit untuk berkembang. Tentu ada baiknya regenerasi kepemimpinan secara demokratis dan alamiah yang memiliki ideologi yang diperjuangkan dalam kebijakan-kebijakan publik. Menjadikan para politisi partai menjadi politisi yang lebih berintegritas dan mampu memperjuangkan kebutuhan rakyat.

Mohon maaf segala kesalahan opini ini, saya terima kritik dan sarannya.Terima Kasih

Rabu, 11 Januari 2017

Panwascam Meral Barat

Inikah Sang Penguasa ?

    Tidak ada komentar:
 
Rezim-Rezim kini sangat berbahaya
Di mana, kebebasan berdemokrasi di intimidasi oleh sang penguasa
Dimana rakyatnya menjerit untuk mendapatkan pekerjaan
"Indonesia Tanah surga" katanya. Tetapi kolam susunya ternyata dirampas
Dicuri oleh orang-orang aseng ! 

Sang penguasa lebih berpihak kepada orang asing dari pada orang pribumi
Negeri ini seakan-seakan tergadai
Dimana keadilan tak lagi di perjuangkan
Di mana hukum dikerdilkan
Di permainkan oleh sang penguasa
Yang seharusnya berlaku kepada wong cilik !

Ironis tapi fakta 
Ribuan manusia kerdil berlomba-lomba menyerbu indonesia
Untuk mengeruk kekayaan sumber daya alamnya
Sang penguasa berpura-pura
Palingkan mata dan tutup telinga
Seakan-akan melihat tetapi mines 
Seakan-akan mendengar tetapi pekak 

#121 
#PMIIsalampergerakan

By : Sofian

Senin, 21 November 2016

Panwascam Meral Barat

Negara di Ujung Tanduk ; Dialog Bersama Muslim Sejati

    Tidak ada komentar:

Telah lama aku amati gerak gerik dari dosen yang satu ini. Orang lain memandangnya mungkin agak takut dengan jubah dan jenggotnya namun aku tidak begitu sama dengan mereka. Sejak malam itu aku menjadi selalu ingin berbincang bersamanya. Bahkan sehabis pulang kuliah akupun rela hingga larut malam mendengar ceramahnya.

Tiba pada malam tadi pembahasam kami amat menarik, seperti biasa kondisi mahasiswa sekarang selalu menjadi perhatiannya lalu yang tak ketinggalan isu sekarang yakni jihad melawan penistaan agama islam. Dalam ceritanya terdapat sebuah ungkapan yang menarik dari mulutnya. Dimana katanya pemimpin korupsi tidak masalah baginya tetapi yang menjadi masalah adalah pemimpin yang kafir.

Kemudian dengan idealisnya aku tanyakan kenapa begitu. Ini tauhid jawabnya. Kita telah di beri petunjuk untuk dilarang berkarib bersama non muslim apa lagi memilih menjadi peimpin. Ia menjelaskan bahwa Tauhid yang dilanggar tersebut maka akan bermuara kesyirikan. Korupsi Allah akan ampuni namun tidak untuk kesyirikan karena itu dosa amat besar.

Aku pun setuju dengan jawaban ilmiahnya, lalu ku lanjutkan dengan pertanyaan mematikan. Jadi selama ini pancasila salah dalam ideologi kita? Terkejut aku jadinya di saat dosen tersebut mengiyakan pertanyaannya saya. Menurutnya sila pertama saja tidak pantas. Seharusnya ditambah dengan beribadah atau bersyariat kepada Allah, bukan hanya sekedar mengakui keberadaan Allah.

Lalu ia mulai menyinggung organisasi-organisasi islam mahasiswa yang turun ke jalan kemaren. Katanya itu semua politik, semua organisasi mahasiswa yang belakangnya huruf I adalah alat para penguasa. Dulu para pendiri ormas islam tersebut mempunyai niat yang baik dan lurus untuk umat. Lalu sekarang oranf berada di dalam tersebut sudah melenceng dari jalurnya sebagai sebuah organisasi. Kepentingan awal untuk umat namun dalam perjalanannya mereka mudah rapuh dengan kepentingan pribadi.

Tambahnya lagi. Tidak ada jihad dengan melakukan turun ke jalan. Cara yang begitu salah seharusnya hanyak cara lain untuk menuntaskan masalah tersebut, kita ada ulama dan tokoh-tokoh muslim di bidang agama bukan politik.

Saya bukan mendukung Ahok tetapi zaman telah semakin tua, berbuatlah kepada kebaikan dan bertobatlah. Ujarnya sambil melihat ke langit gelap.

Ternyata dalam hasil perbincangan ini saya bisa menilai bahwa beliau adalah seseorang yang murni berjalan atas petunjuk Allah, tiada hal yang Ia kerjakan selain hanya untuk dirinya, keluarga beserta orang lain untuk di mengikuti syariat islam yang sebenarnya.

Dan dialog penutup aku rasa telah usai, waktu telah mendekat 00.00 Wib. Dengan sebuah pertanyakan yang ringan aku mulai dengan senyuman. Apakah bapak setuju negara ini menjadi khalifah seperti yang di inginkan oleh umar muslim radikal?? Ya saya tentu mau, tetapi liat dulu siapa yang mau mendirikan kalau organisasi jangan dulu la. Ujung-ujungnya sama malah makin hancur negara ini.

Begitu la dialog dengan seorang dosen yang murni seorang muslim sejati menginginkan kedamaian di negerinya. Lalu aku pun pamit meninggalkannya dengan teman ku yang dari tadi hanya mendengar dialog kami.

Minggu, 30 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

KURANGNYA MINAT MAHASISWA BERORGANISASI

    Tidak ada komentar:

Fenomena mahalnya biaya pendidikan, menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Sehingga segala energi dikerahkan untuk membawa gelar sarjana/diploma sesegera mungkin. Tak jarang trend ‘study oriented’ mewabah di kalangan mahasiswa.

Dunia kerja yang akan digeluti oleh alumnus perguruan tinggi tidak bisa diarungi dengan hanya mengandalkan ilmu dari perkuliahan dan indeks prestasi yang tinggi. Ada elemen yang lebih penting, yakni kemampuan softskill. Kemampuan ini terkait dengan kemampuan berkomunikasi dan bahasa, bekerja dalam satu team, serta kemampuan memimpin dan dipimpin. Untuk mendapatkan keahlian-keahlian tersebut, mahasiswa harus mempunyai minat terhadap organisasi serta aktif di dalamnya. Organisasi merupakan sebuah wadah bagi sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama. Di dalam organisasi, seseorang dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi, bekerja sama dan mengambil keputusan melalui sebuah pemecahan masalah untuk mencapai tujuan bersama.

Namun dari survei dan pengamatan yang dilakukan, ternyata masih banyak mahasiswa yang kurang menyadari pentingnya organisasi dan softskill untuk diri mereka, serta masih banyak juga yang bepikir bahwa organisasi dapat memperlama masa kuliah mereka dan mengganggu kuliah mereka, sehingga belakangan ini minat dan kesadaran akan pentingnya berorganisasi khususnya dikalangan pelajar/mahasiswa/pemuda hindu di kota Palu sangat randah

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan kuranya minat mahasiswa berorganisas diantaranya, yaitu :
Pertama, faktor kualitas aktifis dalam sebuah organisasi. dimana Aktifis sekarang cenderung tidak memiliki intelektualitas yang bagus. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kajian antar sesama aktifis. Mereka hanya cenderung membicarakan persoalan-persoalan yang tidak penting. Selain itu, aktifis organisasi tidak mau untuk belajar mandiri serta sering mengulur-ulur waktu untuk melakukan kajian keilmuan.

Kedua, faktor organisasi mencatat presentase sebesar 19,5%. Organisasi saat ini tidak memiliki SDM yang baik, sehingga kepengurusan di organisasi tidak berfungsi. Akibatnya, organisasi mengalami stagnan. Tidak ada perkembangan dalam menjalankan roda organisasinya. Buruknya manajemen dalam organisasi juga menjadi pertimbangan mahasiswa untuk tidak mau ikut bergabung. Selain itu banyak program-program organisasi yang tidak jelas arah tujuannya. Sehingga banyak mahasiswa yang belum mengerti pentingnya mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi. Hal ini bisa diakibatkan oleh minimnya komunikasi dan penyampaian informasi yang dilakukan oleh organisasi terhadap mahasiswa.

Ketiga, faktor ideologi. Mahasiswa menilai bahwa organisasi ideologi kampus cenderung hanya menonjolkan kepentingannya sendiri tanpa melihat organisasi yang ideologinya berbeda, sehingga kader organisasi tidak bisa serius dalam belajar. Mereka hanya disibukkan dengan konflik antar ideologi yang pada dasarnya memang tidak bisa disatukan, karena ideologi sifatnya subjektif, tidak bersifat objektif.

Keempat, Hal ini merupakan penilaian mahasiswa terhadap organisasi tanpa melihat aktifis, organisasi, serta ideologinya. Mereka melihat dari kaca mata diri mereka sendiri. Keterbatasan pengetahuan terhadap organisasi serta persoalan-persoalan yang ada dalam internal mahasiswa, seperti, malas berorganisasi dan ketidak pahamanan terhadap organisasi membuat mereka tidak tertarik terhadap organisasi.

Kamis, 06 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

Membangkitkan Peran Media Penerangan Secara Tepat Dalam Mendorong Semangat Budaya Literasi Di Masyarakat

    Tidak ada komentar:

*Tulisan ini adalah bagian dari kegiatan lomba esai dengan tema meningkatkan budaya literasi

A. ABSTRAK 
Membangun budaya literasi dalam konteks agama sangat di anjurkan sekali, karena Nabi Muhammad saja dalam sejarah umat muslim ketika mendapatkan wahyu yang pertama bukanlah mendengar yang ia lakukan, tetapi membaca surah Al-Alaq ketika malaikat jibril menyuruhnya. Selain membaca, menulis juga adalah bagian dari pengertian literasi. Ketika para pemuka ulama dahulu tidak melakukan budaya literasi boleh jadi ilmu apa yang kita dapati sekarang –bacaan sholat, mengaji yang baik, bacaan doa khusus, dll- belum tentu sama seperti yang diajarkan oleh Rasulullah terhadap sahabat dan para pengikutnya.

Memasuki ke abad 21, masyarakat sekarang cenderung menginginkan segala sesuatu yang bersifat instan, sehingga sifat mentalitas yang praktis tersebut membuat budaya literasi seolah menjadi tantangan yang berat dengan menilainya sebagai sesuatu yang memiliki prosedur, formal, serta sulit untuk dilaksanakan.

B. ISI
melakukan budaya literasi adalah organ terpenting dalam menciptakan masyarakat yang berilmu, lebih spesifikinya lagi seseorang yang melaksanakan budaya tersebut dapat menuju manusia yang berkepribadian unggul contohnya berfikir kritis terhadap permasalahan yang ditemukan, dapat menemukan solusi, dan juga tentunya sebagai media dalam menyampaikan informasi seluas-luasnya kepada khalayak umum.

Sekarang ini masyarakat disibukkan dengan kehidupannya yang tanpa sedikitpun pengetahuan didapati dari budaya literasi. Karena mereka pada umunya masih menggangap bahwa budaya turun temurun sudah lebih cukup mutakhir ketimbang mencari ilmu dengan membaca buku di perpustakaan. Syukur masyarakat sekarang masih ada yang semangat membaca secara online, dari pada yang sama sekali tidak, dan enggan mengunjungi perpustakaan?

Tulisan ini mengangkat judul “Membangkitkan Peran Media Penerangan Secara Tepat Dalam Mendorong Semangat Budaya Literasi Di Masyarakat” , Makna judul di atas bukanlah membangkitkan media penerangan yang dimiliki instansi penerangan terkait seperti TNI, POLRI, dan instansi lainnya dalam hal menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan berita yang panjang atau imbauan yang penuh dengan peraturan. Namun dalam arti yang lebih kecil, yakni menyampaikann pesan-pesan budaya literasi melalui dua jurus jitu yang sampai saat ini belum di optimalkan.

a) Reklame
Kecendrungan masyarakat Indonesia dalam hal membedakan antara pengertian reklame dan pengertian iklan membuat para pegiat pembaharuan literasi harus bekerja ekstra keras. Pasalnya bukan masalah seperti di atasnya saja masyarakat salah kaprah dalam memaknai suatu kata. Contohnya di daerah Kabupaten Karimun, ramai masyarakat Karimun khususnya para pemuda-pemudi yang menilai bahwa kata “honda” adalah sama seperti “sepeda motor”. Padahal “Honda” adalah merek/jenis dari sepeda motor itu sendiri, belum lagi dengan popok bayi yang disamakan dengan “pampers” yang seharusnya nama tersebut adalah sebuah nama jenis barang yang diproduksi oleh perusahaan indonesia

Budaya semacam ini sepertinya telah menjalar hingga ke anak-anak kecil dan juga tak kalah hebatnya kaum dewasa juga telah menggunakan kata-kata seperti di atas. Biarlah kata “kami” yang dalam konotasi bahasa melayu mengandung unsur “saya” namun lebih dari satu sebenarnya, digunakan oleh masyarakat Karimun karena menganggap bahwa ungkapan tersebut lebih terkesan sopan, dan halus apa lagi ketika berinteraksi kepada orang lebih tua darinya. Lalu jangan sampai kata-kata yang berikutnya menjalar menjadi bermakna plural sehingga yang menangkapnya berbeda adanya akibat golongan dan status sosial yang berkotak-kotak.

Terarahnya Pesan Reklame Membawa Angin Segar
Reklame juga ada kata-kata yang termasuk ke dalam kategori semboyan atau motto, bukan saja kata untuk mengajak dan melarang tetapi ada juga kata yang bertujuan untuk menyemangati orang lain.
Sejak perkembangannya ilmu psikologi manusia telah di perkenalkan dengan permainan kata-kata dalam hal menghibur diri secara pribadi terlebih untuk memotivasi diri sendiri, hal tersebut sering dikatakan dengan motto hidup. Motto memiliki peran yang sangat berarti dalam perjalanan manusia menuju kehidupan dunia lain, dengan adanya kata-kata yang  tersusun sedemikian menarik, heroik dan terkadang mengunggah jiwa hingga menuruti kata tersebut, tidak sedikit manusia sampai hari ini sukses dengan tetap teguh memegang semangat motto hidupnya tersebut. Lalu, tidak diragukan lagi bahwa motto tersebut bukan hanya sekedar pajangan dalam dinding rumah, yang secara sekilas hanya untuk di baca, sesungguhnya ia memiliki makna yang begitu besar bagi sang pemilik rumah.
Bila ditinjau dari etimologinya, reklame dan iklan mempunyai makna yang setara. Iklan dari kata I’lan (bahasa Arab) berarti seruan yang berulang. Maka kedua istilah yang terkait dengan media periklanan ini mengandung makna yang setara yaitu untuk kegiatan penyampaian inrformasi kepada masyarakat atau khalayak umum.

Melebihi Dari Mengajak dan Melebih Dari Menakuti
Dari data empiris yang ada, pelaku yang meletakkan iklan di papan reklame mayoritas di dominasi oleh pemerintah bukan masyarat yang memiliki bisnis untuk di pajang produknya di papan reklame. Berbagai instansi memiliki papan pengumuman, himbauan atau informasi yang terletak khusus dan sudah di atur oleh dinas yang terkait, serta lokasi yang diletakkan pun harus strategis. Mari kita papan reklame besar yang berjejeran rapi di simpang tiga RSUD Poros, Kapling, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun. Sedikit sekali yang ingin meletakkan iklan yang bertemakan menghidupkan budaya literasi. Jangankan untuk menggalakan hal ini, untuk memasarkan produknya saja pengusaha masih enggan, sebab mereka tahu bahwa budaya membaca tidak begitu tinggi di Kabupaten Karimun.
Adanya papan reklame adalah angin segar bagi dunia literasi, budaya melihat, membaca akan tersaji di suatu daerah. Dalam menyampaikan pesan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya dengan media menulis bisa disejajarkan dengan media lisan, walau budaya literasi belum optimal diterapkan. Nah, dengan terstrukturnya pesan-pesan yang disampaikan bukan tidak mungkin budaya lisan tersebut lambat laun berubah menjadi budaya menulis dalam hal menyampaikan informasi yang luasnya. Hal ini dapat terwujud jika dalam papan reklame di tampilkan “frasa” yang lebih mendalam dari segi manfaat budaya literasi, resiko buruknya jika tidak membangun budaya literasi secara gamblang, dan bentuk pemaparannya juga secara eksklusif menuju tepat ke intinya. Bahkan kalau bisa terkesan menakuti masyarakat bila hal ini di indahkan.

Kenapa sampai begitu ekstrim? Menakut nakuti masa depan bangsa ini ke pada masyarakat. Seyogyanya literasi adalah gerbang pembuka bagi terbangunnya generasi penerus pembangunan bangsa, jadi mau tidak mau suka tidak suka jalan kita hanyalah memaksa masyarakat, dengan bentuk menakuti mereka.

Contohnya iklan yang ada pada bungkus rokok “Rokok dapat menyebabkan gangguan serangan jantung, hipotermia, gangguan pada wanita hamil, dan sebagainya” kata-kata seperti ini lebih baik dari pada hanya dengan kata-kata yang maksud melarang rokok tapi tidak mendekat ke arah penyakitnya, hanya bersifat umum saja. Sekarang tema membangun karakter bangsa dengan budaya literasi, seperti “Buku adalah jendela ilmu” saya rasa belum cukup efektif, lebih baiknya dengan kata “Enggan membaca kebodohan yang didapati”

Maka pesan-pesan yang disampaikan langsung terpatri ke dalam benak masyarakat. Dalam ilmu psikologi, bahwa sesuatu yang menarik untuk dipandang –juga dibaca- akan membawa perubahan dalam pola fikir mereka. Bukan hal mustahil bila dari salah satu pembaca papan reklame akan memilik hasrat untuk mewujudkan seperti kata-kata yang ada di papan reklame tersebut. Seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Karimun. Penulis menilai bahwa dengan keberhasilan Kabid Humas Pemkab Karimun dalam mengelola media penerangan seperti slogan yang terpasang di papan reklame, membawa porubahan yang begitu besar. Terbukti dengan di raihnya piala adipura oleh kabupaten karimun, adalah berkat kerja keras dari Pemerintah Kabupaten Karimun dalam mensosialisasikan akan pentingnya Sabtu Bersih. Semboyan yang digalakkan oleh Bupati Karimun, H. Anur Rafiq, S.Sos, M.Si.

b) Slogan
Slogan terambil dari kata dari istilah dalam bahasa Gaelik, sluagh-ghairm, yang berarti "teriakan bertempur". Sama seperti motto, slogan pun dapat menjadi sebuah motto alternatif bagi orang khusus yakni mereka yang belum kenal dengan dunia literasi dan belum secara mendalam. Melihat perkembangan dunia yang begitu pesat dan serba canggih, membuat slogan amat dibutuhkan. Dimana saja perlu yang namanya slogan, di lingkungan perusahaan, perkantoran, organisasi dan lain-lain. Di manapun slogan berada tentunya mempunyai misi yang ingin di sampaikan dari sang pembuat, namu saat ini slogan sudah seperti tulisan kotor yang terpajang di tempat yang di perselisihkan. Contohnya tempat pembuangan sampah. Walau sudah di himbau untuk tidak membawa sampah di sini, namun tetap saja di indahkan oleh pembuang. Hal ini menjadi salah satu biang dalam menetapkan slogan yang berujung konflik yang mangandung unsur SARA.  Yakni seperti – maaf jika terlalu lancang. “Anjing yang membuang sampah di sini”.

Menurut saya sebaiknya slogan dengan kata yang sopan namun terkesan mendidik ke dalam agama “Alam akan marah jika sembarangan membuang sampah. Ingat!! Bencana di depan mata anda.” Memang, jika difikir-fikir mereka akan tetap membuangnya tapi apakah makna slogan yang sopan di atas bertahan lama di benak mereka dibanding dengan slogan yang bergaya kasar? Tentu iya, dan lambat laun mereka pastinya sadar sendiri, terlebih bencana benar terjadi di hadapannya.
Kini saatnya merevolusi bangsa kita dalam budaya literasi, budaya yang lama itu adalah metode kuno yang sudah bukan lagi dizamannya. Sekarang eranya beretrorika dalam hal apa pun, hanya dengan permainan kata orang bisa terpengaruh.

Tidak Ada lagi Toleransi Terhadap Makna Pada Slogan
Setali tiga uang, slogan juga selayaknya dipandang sebagai ungkapan yang langsung mengenai hati pembaca, bukan kata-kata yang bertele-tele dan masih memiliki gaya lama mengikuti kata-kata trend dulu. Seharusnya memiliki variasi khusus dan tidak disamakan dengan pengaruh zaman modern ini sehingga tidak dikatakan lebay oleh para kaum muda.

Langsung saja ke contohnya, yakni “Jika ingin terkenal membacalah“ penggunaan bahasa yang tepat dapat membuat masyarakat terpengaruh dengan isi slogan tersebut. Walau dalam konteks agama salah karena ingin terkenal, tetapi bila rutin membaca bahkan menulis apa lagi, bukan tidak mungkin ia bisa mendikte sendiri bahwa slogan yang di temukan salah. Dan benar bahwa itu salah, bagi masyarakat yang menyadarinya berarti masih termasuk dalam orang yang terpelajar. Dari sini kita bisa lihat respon dari mereka, dan perbedaan dari yang apatis dan kritis akan terlihat.

Kemudian, semboyan-semboyan yang membangkitkan semangat membaca dan menulis, lalu juga bahaya bila tidak menerapkan budaya literasi boleh jadi akan menjelma sebuah ketakutan yang tidak ingin di rasakan. Seperti “Tidak Membaca sesat di jalan. Malu menulis goyah fikiran” Rasanya pesan yang harus di sampaikan dalam hal menakuti bukan lagi dengan maksud untuk “Mencegah” tetapi dengan maksud “Menghilangkan”. Hilangkan kebiasaan apatis mereka, tumbuhkan semangat keingintahuannya setelah melihat tulisan semacam tadi.

Contoh kata slogan yang mencegah “Ilmu adalah jendela dunia“ dengan kata jendela dunia dapat di indikasikan ia bermakna pengetahuan besar untuk mengetahui semuanya. Namun apakah masyarakat awan bisa menerima dengan akalnya? Alhasil, tulisan yang kurang eksklusif seperti ini bisa-bisa di sepelekan oleh para pembaca.

C. PENUTUP
Sebenarnya untuk menyampaikan penerangan kepada masyarkat dapat digunakan lebih dari media slogan dan papan reklame seperti radio, televise, film dan pers. Tapi yang lebih dimudah dalam pelaksaannya dan memakan waktu dan biaya yang tidak begitu lama dan besar adalah media yang di ulas di atas. Mengingat metode pendekatan hanya bisa diterapkan di dua media tersebut, bayangkan jika di televis semboyan untuk membangun budaya literasi di tampilkan. Apakah akan bertahan lama? Lalu bagaimana dengan iklan yang sudah menunggu jauh hari. Jadi media ini masih ada ketergantungan bisnis dalam menghidupi medianya ke depan, sedangkan tujuan pegiat literasi adalah murni bukan untuk sambilan berbisnis.

Dalam kesempatan ini saya sangat berterimakasih kepada pihak penyelenggara terutama dinas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau. Harapan saya dengan adanya program yang bertemakan “Membangun Karakter Bangsa melalui Budaya Literasi” dapat membantu mahasiswa/i kita (KEPRI) untuk bersaing dalam membentuk Mahasiswa yang kreatif, inovatif serta mampu membangun dan mengembangkan budaya Literasi terhadap masyrakat luas, Jadi semoga tahun depan digalakkan kembali dan bukan hanya sampai disini saja –ketika telah menemukan program yang tepat- tapi juga terus dan berkelanjutan.

Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat di simpulkan bahwa perlu adanya sebuah reformasi dalam hal penyampaian maksud melalui media reklame dan slogan, yakni lebih tepat ke inti permasalahannya serta tidak lagi memakai kata-kata lama yang sudah terlanjur masyarakat pahami sebagai angin lalu. Semoga dengan adanya karya ini bisa menumbuhkan sebuah gerakan yang bisa mengobati penyakit sosial dan berbagai penyakit lainnya. Mungkin banyak cara lain selain ini, namun hanya Tuhanlah yang menentukannya, kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan berusaha untuk yang terbaik.
Demikian karya saya yang khusus dipersembahkan untuk panitia dalam memenuhi Lomba Menulis Esai untuk Mahasiswa Se-Provinsi Kepulauan Riau, serta juga untuk menunaikan hak saya sebagai seorang penulis pemula. Dimana saat ini saya juga tengah membangun sebuah wadah untuk mahasiswa karimun dalam hal meningkatkan budaya literasi di lingkungan mahasiswa Kabupaten Karimun melalui blog saya Irudnews.blogspot.com.

Akhir kata tidak ada gading yang tidak retak, dan tidak ada kata sempurna kecuali hanya milik-Nya. Kesalahan dalam penulisan, baik itu bahasanya dan bentuk pedoman penulisan harap dimaklumi karena saya hanyalah manusia biasa.


Selasa, 04 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

Bahaya : Tertular Oleh Rasa Pesimis Mahasiswa Lain

    Tidak ada komentar:


Kurang percaya diri adalah suatu hal yang harus di hilangkan bagi seorang mahasiswa, salah satu penujang untuk berkarir di dunia kerja maka rasa kepercayaan yang tinggi perlu di galakkan sejak berada di lingkungan kampus. Rasa percaya diri bukan hanya seperti berani berdiri di depan lalu berbicara dihadapan puluhan bahkan ratusan orang, tetapi juga rasa percaya diri terhadap apa yang ingin kita lakukan, lebih tepatnya rasa optimisme.

Optimsme mahasiswa didapatkan ketika proses yang ia lalui sebelumnya, belajar dari pengalaman diri sendiri dan kesalahan orang lain. Terlepas itu ada juga dari pembawaan kharakter yang bisa di dapat melalui lingkungan rumah atau pengaruh gen orangtuanya. 

Optimisme akan terlahir ketika semangat mengebu-ngebu untuk menginginkan sesuatu, lalu ketika di arahkan kepada orang sekelilingnya rasa optimis itu sendiri akan semakin meningkat seiring dukungan orang sekitar.

Nah, jiwa-jiwa optimisme seperti harus banyak di lahirkan dan tularkan kepada mahasiswa lain. Sebagai mahasiswa kritis, tentunya mereka tidak hanya memikirkan persoalan kampus, birokrasi daerah, serta politik nasional semata. Tetapi juga teman yang dianggap 1 angkatan ataupun 1 almamater perlu di ulas juga karena rasa kepedulian tadi lahir terhadap besar kecilnya dogma kritis yang dianut.

Sangat disayangkan ketika agenda-agenda baik telah direncakan dengan optimisme yang tinggi, sementara kelompok lain melakukan manuver dengan berdalih mencari kekurangan agenda yang di susun. Alih-alih ingin menampakkan kelemahan kepada orang, timbul rasa pesimis akan mengalir ke semua orang termasuk yang sang penggagas pesimisme. Semua tertular rasa pesimisme akibat dalil-dalil yang dipakai masuk akal. Namun tidak melihat kebaikannya dulu sebelum "mengkartu matikan" agenda tersebut.

Memang tujuannya bukan untuk "mengkartu matikan" agenda tersebut, hanya untuk sebagai koreksi akan kelemahan-kelemahan bila regulasinya seperti itu. Tetapi sebagai mahasiswa kita harus bisa membaca situasi, layak tidak kata-kata yang berdampak buruk akan merubah segalanya atau baiknya selain mengungkapkan rasa pesimis juga diganti dengan agenda baru dengan catatan memotivasi dan memberikan harapan serta optimisme tinggi.

"Jika masih banyak rasa kemungkinan-kemungkinan menyelimuti diri anda maka yang terlahir ialah rasa pesimis dan bisa-bisa harapan tersebut akan terkubur"

Rabu, 28 September 2016

Panwascam Meral Barat

Organisasi Bagi Mahasiswa


Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah, namun bisa dipermudah jika kita mau untuk menjalaninya dengan baik. Caranya, kita harus menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa dengan semestinya. Menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas mahasiswa biasa. Kita harus mengikuti arus pergaulan kampus, tentunya pergaulan yang memberikan dampak positif bagi perkuliahan kita.contoh positif kita bisa melakukan kegiatan sosial kepada masyarak.

Aal Aulia

Jumat, 23 September 2016

Panwascam Meral Barat

Menghargai Proses Secara Tidak Langsung Hasil Telah Terbeli (Menulis 1)


“Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga” (HR. Muslim)

Kalau dipikir-pikir untuk menuangkan gagasan atau ide kita dalam sebuah tulisan itu susah, dan tidak gampang. Tapi, apakah memang demikian? TIDAK, sejatinya, menulis sangat mudah, asalkan kita mau mengeksplor semua apa yang ada dalam pikiran kita, mencoba menuangkan seluruh ide yang kita punya, yang akhirnya membentuk 'lakon" yang menarik.

Memang menulis dituntut untuk mempunyai keahlian, kecakapan, dan kecerdasan. Namun, hal demikian hanya metode klasik yang sering digembor--gemborkan oleh mereka, para pecandu "methode" menulis, katanya itu syarat untuk menjadi penulis yang handal. TIDAK!! Salah besar.!

Syarat utama untuk jadi penulis cuman satu, asalkan kita hapal huruf-huruf alphabet "A sampai Z", kita sudah memenuhi syarat untuk jadi seorang penulis, karena ketika kita sudah hafal itu di luar kepala kita. Otomatis kita sudah bisa membaca dan menulis, sudah sangat, sangat, dan sangat cukup sebagai perangkat dasar manusia, untuk memulai karir sebagai penulis.

Selain itu, syarat utama yang lain adalah penulis harus menguasai bahasa manusia, entah itu bahasa indonesia, bahasa melayu, bahasa jawa, bahasa batak, bahasa inggris, atau apalah bentuknya.

Ketika kita sudah memenuhi dua kriteria tersebut, maka kita sebenarnya telah mampu untuk menulis. sebagai bukti: Menulis SMS, Menulis email, Menulis Status di Facebook, Chating, dan teman-temannya. Nah, model tulisan tersebut adalah gambaran bahwa manusia sesungguhnya punya bakat semua untuk menjadi penulis. Pasti dalam hal ini, akan terlontar pernyataan, "Gaya penulisan itu kan tidak masuk kategori dalam penulisan buku (ilmiah, novel, cerpen, dan sebagainya), jadi harusnya dibedakan, mana tulisan sehari-hari, mana tulisan yang benar-benar tulisan?".

Memang demikian. Tapi, Apakah kita akan mampu menulis, jika kita tak hapal A-Z, apakah kita mampu untuk menulis jika kita tak menguasai bahasa manusia? Semua orang pasti akan serempak menjawa, "IYA". Lantas apa hubungannya dengan yang tadi di contohkan (SMS, Chat, Surat, dan sebagainya)? Jawabnya, model tulisan SMS, Chat, dan surat--tidak bisa dipungkiri, tulisan macam itu terlahir dari pikiran dan rasa yang ada dalam diri kita. Karena dalam menulis apapun, sudah pasti kita dipaksa untuk berpikir.

Nah, berangat dari situ--untuk penghantar sebagai penulis, sejatinya kalian sudah memenuhi kriteria dan syaratnya, tinggal dikembangkan saja. Asalkan kita mau berproses, pasti bisa menulis. Lantas apa yang harus kita tulis sebagai langkah awal?

Permulaan, kita menulis jangan dulu yang susah-susah, coba kita cari tema yang benar-benar kita kuasai, apapun itu temanya--entah hobi kita, kebiasaan kita, biodata kita, dan sebagainya yang kita pahami. Pada saat proses menulis, sebaiknya kita jangn dulu membacanya, sebelum kita menganggap bahwa tulisan kita telah selesai, yang ditakutkan, kalau baru satu kalimat atau satu paragraf lalu kita baca, pasti kita akan merasa tidak sesuai dan jelek. Secara otomatis kita akan menghapusnya, dan hapus, serta hapus terus.

Maka, apa yang kita tulis tidak akan pernah selesai, oleh karena itu alangkah baiknya jika pada saat kita menulis sebagai pemula, jangan dulu kita baca sebelum kita merasa bahwa tulisan yang sedang kita tulis benar-benar selesai. Nah, setelah selesai semuanya, baru tulisan kita edit, mana yang tidak sesuai dan tidak nyambung, bisa langsung kita ganti, dan begitu seterusnya. Di samping itu, agar kita selalu istiqomah atau konsisten dalam menulis, sebaiknya dalam mengasah kreativitas kita menulis, kita membuat target, semisal: 1 hari 1 halaman, maka 1 bulan kita bisa dapat 30 halaman, hitung saja jika 3 bulan kita sudah dapat berapa halaman. Tetapi, kalau kita ingin terus memperbanyak target halaman dalam satu bulan, kita bisa menaikan target itu menjadi 2/3 halaman dalam satu hari, mungkin bisa lebih.

Bisa ditarik kesimpulan, kalau semisal kita mau memanfaatkan hari dan waktu yang kita punya, serta memperdayagunakan setiap kata yang kita keluarkan dari mulut kita, atau mau memanfaatkan semua pikiran kita dalam setiap kata dan tulisan, maka tidak menutup kemungkinan kreatifitas kita dalam menulis akan benar-benar terukir, dan akhirnya kita menjadi penulis yang profesional.

Perlu di ingat, bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Takdir bisa kita rubah dengan sebuah usaha yang maksimal, dan usaha itu disebut dengan proses, so sebagai makhluk yang selalu bersyukur seyogyanya proses itu dinikmati, jangan sampai patah semangat hanya karena tulisan yang dibuat tak kunjung seperti yang diharapkan. Dan jangan sampai berfikir bahwa ingin sesuatu secara instan, karena proseslah yang akan menjadi guru terbaik dalam kehidupan manusia.

Selamat menulis :)

Kamis, 22 September 2016

Panwascam Meral Barat

Alasannya Organisasi Mahasiswa Merosot


Pada dasarnya, organisasi mahasiswa memiliki peran yang signifikan dalam sejarah bangsa. Namun sejak 1998, tidak ada lagi gerakan mahasiswa yang dihasilkan organisasi mahasiswa, yang berakibat besar terhadap bangsa. Pengurus organisasi mahasiswa, sebuah jabatan sakral dimasa lalu, sekarang tidak lebih dari "orang aneh sok sibuk yang tak dipeduli" oleh rekan rekannya. Ia bukan lagi tokoh yang diidolakan, dihormati dan dihargai. Gerakan mahasiswa, momok bagi para status quois sekarang tak lebih keren ketimbang demonstrasi bayaran.

Organisasi mahasiswa, intra maupun ekstra kampus, secara umum mengalami beberapa kemunduran. Antara lain, kurangnya kuantitas kader. Kurangnya kualitas kader. Dan terlalu banyaknya dinamika yang kurang produktif yang menghambat perkembangannya.

Organisasi mahasiswa pada dasarnya, "sekolah ekstra" tempat menempa mental dan kemampuan manajerial mahasiswa, menjadi sangat penting untuk dijaga. Sebab kita dapat bayangkan, betapa lemahnya bangsa ini kedepan jika mahasiswa saat ini yang kelak melanjutkan estafet pembangunan, minim pengalaman organisasi.

Cara pandang 70-80an
Agar organisasi dapat bertahan, ia harus mampu menghadapi tantangan zaman. Organisasi mahasiswa di era 80-an, berada dibawah tekanan. Militansi adalah karakter utama gerakannya. Kader ditekankan memiliki militansi yang kuat. Militansi disini dalam artian, kuat memperjuangkan kepentingan umum. Bila dispesifikkan lagi, kuat demo. Cukup modal isu (yang bahkan belum terverifikasi validitasnya), rapat aksi, maka terjadilah demo besoknya. Militan bukan?

Model pengelolaan kaderisasinya yaitu dengan mengandalkan senioritas. Seniorlah yang pegang kendali. Bukankah senior tak pernah salah, dan bila salah kembali ke pasal satu ? Mengapa demikian, karena pada zaman itu, belum ada batasan masa kuliah. Hal wajar bila orang kuliah S1 sampai belasan tahun.

Saat itu, pengurus apalagi ketua lembaga, bagaikan Dewa. Ia dipuja oleh para yunior. Ia menjadi suri teladan yang dihormati dan disegani. Selalu dikawal oleh kawan kawannya, bak artis saat ini.

Memandang tahun 2016
Sejak reformasi 98, banyak perubahan mendasar dalam sistem tata negara kita. Kemudian berdampak pada sistem sosial. Sebagai contoh, terbitnya UU kebebasan pers dan terlepasnya rakyat dari represi orde baru (tuduhan komunis, tuduhan tindak subversif, penculikan, petrus dsb), menjadikan media kita sangat bebas. Ditambah lagi perkembangan teknologi informasi, sehingga informasi semakin mudah diakses. Perang isu menjadi hal lumrah saat ini.

Perubahan lain misalnya dihapuskannya ospek dengan alasan melanggar HAM. Walhasil, taring para senior menjadi ompong. Senior yang mencoba sok jagoan didepan yuniornya, akan menjadi bahan tertawaan. Beda, bila hal itu dilakukan beberapa puluh tahun lalu.

Generasi hedon, sesuatu yang amat langka di era 70, 80 dan 90an, menjadi hal umum saat ini. Budaya hedonisme, membuat banyak mahasiswa tidak lagi mementingkan berorganisasi. Tantangan semua organisasi adalah bagaimana membuat organisasi mahasiswa menarik bagi mahasiswa ditengah budaya hedonisme.

Merosotnya Organisasi Mahasiswa
Jelas, peran organisasi mahasiswa makin merosot akibat terlalu banyaknya dinamika yang tidak produktif, terutama saat suksesi. Selain itu organisasi mahasiswa kurang tanggap terhadap tantangan zaman. Organisasi yang hidup di tahun 2016, tapi paradigma pengelolaannya masih tahun 70-80an. Bila dibiarkan, organisasi mahasiswa diambang kehancuran. Pada gilirannya, akan melemahkan bangsa. Sebab sebuah kekuatan penting, yaitu mahasiswa, tidak lagi memiliki saluran energi positifnya.

Penguatan intelektual
Tradisi membaca, harus kembali dihidupkan. Organisasi mahasiswa semestinya mewadahi hal tersebut. Melalui kegiatan bedah buku atau sejenisnya. Pengadaan perpustakaan. Diskusi berkala. Dan hal hal ilmiah lainnya.

Bukan hal tabu, bila organisasi mahasiswa mengundang pejabat publik untuk meminta klarifikasi atau pencerahan tentang sebuah kebijakan. Ketimbang terburu buru turun kejalan atas isu yang lemah argumentasinya. Sehingga ada perbandingan antara isu, realitas lapangan, regulasi dan kebijakan. Menjadi mahasiswa yang bijak membaca situasi itu lebih baik ketimbang gampang dikompori dengan maksud agar dianggap militan.

Rabu, 21 September 2016

Panwascam Meral Barat

Dilema Kata "Petahana" Bagi Mahasiswa


Kurun waktu 1928-2016 ditetapkannya bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928, banyak sekali pembaharuan dalam upaya mewujudkan bahasa indonesia yang baik dan benar. Mulai dari peralihan bentuk kata dulu yang dimodernkan, penyerapan kata asing, dan munculnya kata-kata baru khususnya di kata baku.

Contoh timbulnya kata baru yakni, "Petahana". Banyak orang awan bertanya-tanya kepada orang yang lebih pintar apasih petahana itu? Mereka yang rutin mengikuti perkembangan perpolitikan di indonesia menjadi bingung dengan munculnya kata yang melekat pada Cagub DKI Jakarta Ir. Basuki Cahya Purnama tersebut.

Pasalnya selain tidak tahu maknanya, mereka tentunya harus membagi konsetrasi antara makna "Petahana" dan mentafsir kata yang sesudah ataupun sebelum kata asing itu. Agar pesan yang disampaikan media bisa ditangkap dengan cerna oleh telinga masyarakat. Sungguh dilema bagi masyarakat kita, dan ini harus kita sadari bentuk perbedaan yang nyata antara mahasiswa dengan masyarakat.

Tetapi, agaknya di kalangan mahasiswa pun begitu juga. Sebab tidak semua mahasiswa pernah menjumpai kata tersebut pada mata kuliahnya. Namun, perlu ditekankan mahasiswa bukanlah seseorang yang kolot, pengertian harus pintar-pintar pun harus kita aplikasikan. Apa lagi terhadap masalah sepele ini yang mengenai pemaknaan kata-kata asing. Pastinya mereka mencari melalui internet, lalu bertanya pada dosen dan paling mudah bertanya pada teman sejawat. Ini juga menjadi dilema bagi mahasiswa, bagi mereka yang belum tahu sampai saat ini terhadap bahasa baku yang digunakan politisi-birokrat indonesia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Petahana berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan, dalam politik, adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat. Contohnya Ahok yang sekarang sedang menajabat Gubernur DKI Jakarta ingin kembali manju pada Pilgub 2017

Jadi petahana adalahh pemimpin yang sedang menjabat pada saat pemilihan umum untuk pelaksanaan pemilihan berikutnya. Dalam persaingan kursi-terbuka (di mana sang petahana tidak mencalonkan diri), istilah "petahana" terkadang digunakan untuk merujuk kepada kandidat dari partai yang masih memegang jabatan kekuasaan.

Mungkin kata asing berikutnya akan muncul seiringnya kebutuhan akan kata-kata yang baru, tugas kita sebagai mahasiswa ya mau tidak mahu harus mencari makna kata tersebut. Walau kita bukalah mahasiswa hukum atau politik yang dituntut untuk mengetahui, namun apa salahnya kita mengetahui kata baru indonesia, toh untuk kebaikan kita juga ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih hebat dari kita. Dan juga bisa sebagai ladang mencari pahala ketika bersedekah kepada yang tidak tahu.

Baca juga artikel : Sedikit Banyak Mahasiswa Harus Tahu Politik

Dunia sekarang telah canggih, internet dimana saja. Mudah untuk kita mencari tahu segala sesuatu. Kemudian, politik pada dasarnya harus di ikuti perkembangannya sebab dengan mengetahuinya kita jadi bisa mengaitkan segala permasalahan yang terjadi di pemerintahan daerah, dilema kampus hingga kebutuhan pribadi sendiri.

Selasa, 13 September 2016

Panwascam Meral Barat

Budaya Mahasiswa Mulai Terancam Hilang


Semua mahasiswa pastinya mengerti akan perubahan zaman, karena mereka merupakan bagian dari objek yang merasakannya. Namun apa mahasiswa sekarang masih tetap idealis sebagai mana dengan mahasiswa dulu.

Sudah saatnya dipertanyakan apakah masih ada jiwa semacam itu bersarang di dalam diri mereka. Gelar prestisius yang disandang mahasiswa, seperti agent of social change, agent of control, agent of transformation, dan intelektual muda kini sudah kurang populer untuk ditempelkan di atas nama mereka. Agaknya motivasi bung karno yang terkenal dengan "Mengguncang dunia hanya dengan 10 pemuda" telah menjadi buian kosong dan tidak logika menurut akal mereka. Wajar saja seandainya demikian, karena zaman menuntut mereka untuk di ikuti dan kesadaran cinta tanah air untuk memajukan bangsa hanya sebatas pandai menyanyikan lagu indonesia raya.

Mari kita mencoba untuk melakukan refleksi singkat sekaligus membandingkan aktivitas mahasiswa dahulu dengan aktivitas mahasiswa zaman sekarang. Jika ada sebagian orang mengatakan bahwa aktivitas-aktivitas mahasiswa dahulu sudah tidak relevan untuk dipraktekkan mahasiswa zaman sekarang, pada level tertentu mungkin itu benar adanya, tapi tidak seluruhnya benar. Sebab, ada beberapa aktivitas atau budaya mahasiswa yang memang harus tetap dijaga kelestariannya serta berkesinambungan, seperti membaca buku, berdiskusi, melakukan advokasi masyarakat, melakukan kritik terhadap pemerintah, menyampaikan aspirasi, melakukan pertemuan-pertemuan antar mahasiswa, serta agenda-agenda positif lainnya.

Mahasiswa pekerja sosial. Bukan! Tetapi mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa, mereka agen yang siap menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, dan siap memberikan gagasan cerah pada saat menghadapi suatu persoalan. Minimal, mahasiswa harus jeli melihat sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai sebuah permasalahan, atau jangan-jangan mahasiswa zaman sekarang sudah tidak mengerti sesuatu yang disebut masalah?

Penyebab akibatnya pergeseran budaya bisa saja karena faktor internal maupun eksternal mahasiswa itu sendiri. Dalam perspektif psikologi perkembangan, lingkungan adalah faktor kuat yang dapat mempengaruhi pola pikir serta tingkah laku seorang individu. Artinya, perubahan pola pikir serta tingkah laku individu sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan di mana ia hidup, sebab kondisi lingkungan mengikuti perubahan zaman, dan itu merupakan hukum alam, meskipun sebenarnya manusia itu sendirilah yang membuat perubahan-perubahan tersebut.

Manusia harus mampu memproteksi diri dengan menggunakan akal serta mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Melihat relita aktivitas mahasiswa -kecuali belajar-, menjadikan kegiatan tersebut termasuk ke kategori keinginan. Padahal dalam konteks bermasyarakat kedepannya mahasiswa akan berbaur bersama rakyat, sehingga dengan banyaknya wadah dan aktivitas maka akan menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang. Maka suatu keharusan keinginan di ganti dengan makna kebutuhan!

Sebagian orang menganggap wajar pergeseran-pergeseran itu terjadi akibat perubahan arus zaman. Dan sebagian lainnya menyalahkan proses pembelajaran di kampus yang tidak mampu menumbuhkan kesadaran (kognitif) mahasiswa. Ada lagi sebagian lain justru menyalahkan individu-individu mahasiswa itu sendiri karena dianggap lebih memilih gaya hidup hedonis nan pragmatis, enggan untuk diajak berpikir dan berjuang. Bahkan, ada lagi sebagian lain yang justru beranggapan agak ekstrim, bahwa mahasiswa zaman sekarang tidak cerdas dan jika boleh dikatakan, bodoh

Terlepas dari hal itu, apa pun faktor yang menjadi penyebab pergeseran budaya mahasiswa tersebut harus kita akui bahwa realitas seperti itu memang sungguh-sungguh terjadi dan jangan mencoba tutup mata, terutama kepada mereka yang memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan peran serta fungsi mahasiswa. Karakteristik mahasiswa zaman sekarang memang sudah jauh berbeda dengan karakteristik mahasiswa zaman dahulu, dan itu sangat mudah menilainya dari aktivitas yang mereka pertunjukkan sehari-hari, baik di kampus maupun di luar kampus.

Masih segar ingatan kita ketika mahasiswa menjadi pelaku sejarah dalam menumbangkan rezim orde lama, kalau tidak ada Mahasiswa mungkin parlemen kesulitan dalam menumbangkan pemeritahan di bawah presiden Soeharto. Artinya, ada beban sejarah yang dipikul mahasiswa sekaligus ada suatu harapan yang membumbung tinggi atas keberadaan mereka di negeri ini. Mau di bawa ke mana citra, beban sejarah serta harapan besar itu?

Panwascam Meral Barat

Kelompok Baru di Dunia Mahasiswa | Komunitas Alfa Sejarah


Masyarakat Indonesia saat ini, terlebih yang muslim tampaknya tengah terserang demam komunitas alpa sejarah. Apa itu komunitas alpa sejarah? Komunitas alpa sejarah adalah sebuah kelompok atau elemen masyarakat yang tidak mempunyai sejarah, itu bahasa kasarnya. Kalau bahasa halusnya berarti masyarakat yang melupakan sejarahnya atau sengaja dibuat lupa oleh pihak luar.

Presiden pertama kita, Bung Karno, pernah berpesan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” alias jas merah. memang benar pesan Bung Karno tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika sejarah otentik sulit untuk didapatkan, apa yang harus dilakukan?

Saat ini, harus kita akui bersama bahwa sejarah Indonesia dan Melayu telah raib digondol tuyul. Bukti-bukti yang berupa prasasti hanya sedikit, itupun dari zaman Hindu Buddha. Apalagi bukti artefak yang sengaja dibom oleh Belanda agar masyarakat Indonesia, khususnya muslim tidak tahu akar sejarahnya.

Coba tanyakan pada mahasiswa kita, apa itu Kesultanan Aceh, Samudra Pasai, Perlak, Pelembang, Banten, Demak, Pajang, Mataram, Girinata, Tidore, Gua Talo, Buton, dan kesultanan-kesultanan lain, apakah mereka tahu? Atau jangan-jangan mereka hanya tahu Majapahit, Kediri, Singosari, Mataram Kuno, Sriwijaya, dan sejenisnya?

Manusia yang histori akan gila. Terombang-ambing. Begitulah masyarakat Indonesia. Mereka sibuk caplok sana caplok sini dalam mencari pedoman hidup. Padahal, mereka telah memiliki sejarah dalam sosial, sejarah dalam politik, sejarah dalam ekonomi. Namun sekali lagi, masyarakat kita terlahir dari komunitas alpa sejarah.

Mari kita bandingkan dengan Eropa Timur. Dalam sejarah Eropa Timur kita mengenal Emperium Ottoman. Sebuah kesultanan islam yang selama enam abad mengenggam peradaban dunia.

Pada tahun 1942, Ottoman runtuh dan digantikan oleh sistem sekuler yang dibawa oleh Mustafa Kamal, seorang Yahudi. Setelah lama berjalan, kurang lebih 80 tahunan, ternyata sistem sekuler kamalistik malah membuat Negara Turki terpuruk. Moralnya, ekonominya, politiknya, demokrasinya, semuanya terpuruk. Hingga akhirnya muncul sosok presiden yang saat ini ingin mengembalikan sejarah keemasan Turki masa lalu.
Dan ternyata benar saja, di tangannya Turki menjadi negara terkuat peringkat 16 dunia. Luar biasa. Mengapa demikian? Karena dalam kamus orang Turki, negara mereka pernah maju dengan sistem Islam, dan hancur karena sistem sekuler.

Rakyat Turki benar-benar paham sejarah mereka dan mereka tidak bisa ditipu. Terbukti jutaan rakyatnya turun untuk membela sang Presiden yang hendak dikudeta dan dibunuh militer, 15 Juli yang lalu. Kalau bukan karena paham sejarah, melek sejarah, saya yakin rakyat Turki tidak akan bangun dari tidur malamnya untuk membantu sang Presiden.

Sekarang kita lihat Negara kita. Sejarah kita telah diperkosa, dilecehkan, dilenyapkan dan dibunuh. Sejarah kita telah hancur oleh Snouck. Dalam sejarah kita, hanya dikisahkan bahwa Nusantara dan Melayu ini hanya pernah berjaya ketika Sriwijaya dan Majapahit berkuasa. Namun tidak pernah dikisahkan bahwa kesultanan Islam Nusantara jauh melebihi keberhasilan Majapahit dan Sriwijaya.

Peradaban Islam kalah itu pun gemilang. Terbukti dengan ribuan karya Ulama Nusantara yang tersimpan rapi di Perpustakaan Oxford University. Dan nahasnya, yang ditinggalkan kepada kita hanya kisah-kisah klenik Walisongo tanpa bisa merasakan karya-karya tulis para Ulama kita.

Apa maksud mereka? Mereka paham, sejarah bisa menjadi racun peradaban jika diselewengkan dan menjadi obat jika terjaga kemurniannya.

Dan orang-orang luar tersebut berhasil menjadikan sejarah kita sebagai racun untuk membunuh kita. Sekarang apakah kita berani untuk merubah racun tersebut menjadi obat? 

Rabu, 07 September 2016

Panwascam Meral Barat

Mahasiswa Bukan Mahakuasa


Hari ini yang di takuti orang -pengacau- hanya ada dua, yang pertama adalah Mahakuasa dan kedua ialah Mahasiswa. Begitulah ungkapan para kaum intelektual dalam upaya menghibur diri dari keterasingan mereka. Terlalu dini bila mengatakan mahasiswa bagian dari momok para pengacau dalam bernegara, liat saja mahasiswa bukan 1 seperti tuhan, ia banyak dan tak terhingga. Sehingga watak, dan kharakter yang dihasilkan pun berbeda. 

Terkadang sulit untuk disatukan, butuh proses yang tidak sebentar untuk mewujudkannya. Tetapi, jika keresahan sudah sepenanggung maka kata perasatuan rasanya sulit untuk di elakkan.

Data empiris menunjukkan fenomena mahasiswa berdasarkan lingkungan mengakibatkan pengaruh besar bagi perkembangan mahasiswa itu sendiri. Dari perilaku dosen yang ia terima pun tak luput dari tumbuhnya asupan gizi intelektual seorang mahasiswa. Memang pada dasarnya, kembali lagi pada mahasiswa itu sendiri. Jika rasa dorongan tersebut belum timbul akibat dari masih labilnya -baru beranjak dari masa transisi menuju remaja dewasa (SMA)- seyogyanya dosen sebagaimana sama dengan orang tua, yakni terbuka melalui inisiatif untuk membuka lebih dalam lagi cakrawala dunia ini melalui pendekatan-pendekatan gaya khasnya  tersendiri.

Mahasiswa bukanlah mahakuasa, ia tidak bisa apa-apa kecuali hanya bisa berteriak di kala ia tertekan. Beralaskan semangat juang membela kebenaran dan harapan untuk mewujudkan sesuatu yang terbaik, bersenjatakan karton dan toa yang menjadi pembeda antara perusuh dan pendemo. Seakan mereka seperti tuan-tuan yang mereka hadapai sendiri, mereka belagak tahu hingga detail apa permasalahannya. Selama aksi berlangsung dogma yang mereka pegang ialah "praduga tak bersalah". Karena label mahasiswalah yang menyebabkan semuanya dapat terjadi.

Namun harus di ingat, mereka hanya manusia biasa seperti kita -masyarakat, pejabat, konglomerat- yang mempunyai perasaan juga, tidak semestinya langsung jadi, butuh proses, jadilah mereka merenung meratapi nasib aspirasinya. Beda dengan Tuhan yang dengan hanya berkendak maka jadila apa yang Ia mau. Tapi tidak untuk mahasiswa. Mereka harus menunggu, terkadang masa suntuk tersebut sirna begitu saja seiring liciknya dunia dengan berbagai loby atau tarik ulur dari yang berperan penting. Boleh jadi ketua dari para ketua, dan hampir-hampir boleh jadi semuanya jika di imingi-imingi dengan berbagai kekayaan duniawi.

Kamis, 18 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Laut Karimun Tercemar Oleh Limbah Warganya Sendiri

    Tidak ada komentar:

Selama ini perhatian terhadap kelautan sangat sedikit bila dibandingkan dengan perhatian terhadap daratan. Padahal, laut merupakan bagian terbesar -mencakup 70 %- dari planet bumi. Potensi sumber daya alam laut juga jauh lebih besar dan beranek ragam, termasuk sumber daya hayatinya. Namun, implikasi darei rendahnya perhatian terhadap laut maka kemampuan memanfaatkannya juga rendah.

Foto yang di ambil pada siang kamis tadi (18-08-2016) tepat di selokan/parit salah satu hotel di Kabupaten Karimun adalah bukti ketidakpedulian masyarakat bumi beerazam terhadap ekosistem laut. Laut masih dijadikan tempat pembuangan akhir sampah dan limbah, minimnya sarana pengelolahan limbah dan sampah, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menangani sampah dan limbah secara baik dan benar telah menjadikan laut ini sebagai sarana buangan limbah dari berbagai macam aktivitas mansuia.

Dengan kondisi air seperti ini maka mutunya menjadi tidak layak untuk di minum. Akar penyebabnya adalah pengelolaan limbah yang salah. Kesalahan itu tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai yang masih tradisional, tapi juga oleh fasilitas pariwisata yang sudah dikelola dengan cara modern. Banyak hotel, tempat penginapan, cottage modern, namun tetap tradisional dalam pengelolaan limbah.

Jika kebiasaan ini tidak segera diubah dengan memperbaiki pola pengelolaan limbah, lambat laun wisatawan enggan berkunjung karena lokasinya sudah tercemar. Pencemaran laut oleh limbah dan sampah memang telah menjadi persoalan dunia dewasa ini. Sebab selain dapat mengurangi mutu obyek wisata, juga menjadi ancaman bagi kehidupan fauna dan flora laut.

Beberapa laporan penelitian menyebutkan, sampah plastik kini telah menjadi faktor pembunuh beberapa jenis hewan laut, termasuk terumbu karang. Pengelolaan limbah dan sampah di kawasan pesisir terutama di kawasan wisata memang tidak bisa sembarangan. Dengan cara pengendapan ke dalam tanah, jelas tidak cukup, sebab pasti kandungan racun yang mengendap ke tanah, bakal terbawa aliran air hujan ke laut. Dengan demikian, sama saja dengan tidak diolah. Pengelolaan limbah seperti ini jelas salah, dan akibatnya kelestarian fauna dan flora laut terus terancam, apalagi bila kemudian bercampur dengan olie dan minyak buangan kapal-kapal.

Mengubah kebiasaan membuang limbah dan sampah ke laut memang tidak mudah. Namun tentu bukan hal yang mustahil, sebab sesungguhnya perilaku masyarakat dapat diubah asalkan ada upaya serius dari semua pihak. Salah satu pendekatan kearah perubahan perilaku adalah dengan penegakkan hukum yang konsisten dan kontinyu, dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara Lingkungan Hidup tampak berusaha menyiapkan perangkat hukum, seperti Undang-Undang Pengelolaan Sampah, dan sebagainya yang dapat dijadikan acuan bersama. Uje.

Selasa, 19 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Evaluasi Praktik OSPEK Di Kampus

    Tidak ada komentar:

Tahun ajaran baru segera tiba, kita mahasiswa karimun tak sabarnya menanti mahasiswa-mahasiswi yang sebentar lagi baru masuk. Ketua BEM STIE Cakrawala sauadara Aal Aulia telah mempersiapkan semua acara untuk menggelar ospek. Tak ingin ketinggalan kampus UK juga menerima cama dan cami mereka. Namun Desas desus untuk menggelar ospek belum terdengar, mungkin sudah dipersiapkan tapi infonya yang belum tersiar.

Harapan tahun ini, ospek di gelar dengan gaya yang lebih edukatif, inovatif dan kreatif. Tidak lagi menggunakan otot serta kegiatan melelahkan yang membuat badan bukan sehat namun terasa sakit, terlebih dengan timbulnya kekerasan. 

Dua tahun silam ketika OSPEK pernah saya di suruh menghitung panjang jalan dari tempat saya berdiri hingga pintu gerbang UK. Sebuah tindakan bodoh yang tidak ada hasil, fikir saya. Hanya menurutkan kegeraman kakak tingkat yang tidak adanya edukasi.

Lebih baik dengan mengadakan tes menyanyikan lagu mars UK, memberikan materi arti dan tanggubg jawab seorang mahasiswa, melihat cuplikan film pendek/video/foto yang menginspirasi, melakukan games yang terkait unsur kebersamaan, keseragaman, kepemimpinan, membangun karakter dan membubuhkan rasa cinta almamter dengan menuliskan harapan dan ide kedepannya, kemudian menjawab soal dari panitia yang di buat sedemikian apik. Lalu, agar cama dan cami lebih idealis perlu mengundang yang narasumber yang berkompeten. Bahkan tak tanggung-tanggung orang penting di daerah dan pusat perlu di ajak untuk membangkitkan semangat kuliah mereka.

Ketimbang kekerasan, kelak ketika aktif di kuliah mereka akan ada gesekan yang di sebabkan jarak antar senior dan junior di pisahkan saat ospek. Salah satu faktor inilah yang membuat menteri pendidikan dan kebudayaan R.I mengusulkan di tiadakannya OSPEK di lingkungan pendidikan.

Minggu, 17 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Costal Area Dalam Perspektif Mahasiswa Karimun

    Tidak ada komentar:
Pemandangan costal area di malam hari
Costal area, sebuah nama yang penuh kenangan bagi masyarakat karimun. Khususnya masyarakat tempatan, mereka tentunya bangga dengan keberhasilan kampungnya dalam membangun tempat wisata baru buatan. Coba lihat batam dengan barelangnya, indah, megah dan cukup berkelas jembatan yang dibangun selama enam tahun (1992-1998) ini. Karimun juga punya, ya mana lagi kalau bukan jembatan leho. Jembatan ini tergolong baru, di bangun pada era bupati Karimun H. Aunur Rafiq, S.Sos, M.si, sudah bisa dicicipi oleh masyarakat setelah selesai pada awal tahun 2016.

Dalam proses pembangunan costal area yang memakan biaya APBD Rp 300 milliar, terdapat masalah dalam pembangunannya, satu diantaranya yang semua orang tahu adalah lambatnya proses pengerjaannya. 

Penyebabnya adalah, anggaran yang dikucurkan tidak semuanya cair, perlu bertahap. Hal ini terkait dengan upaya terbentuknya pembangunan yang merata di semua sektor, jadi bukan pariwisata saja yang harus di bangun. Banyak juga yang perlu di prioritaskan, seperti pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, kesejahteraan ekonomi masyarakat, dan sebagainya. Lalu, juga sulitnya menyelesaikan lahan yang belum terbebaskan oleh pemkab karimun terhadap pemilik tanah.

Sayang sekali bila pembangunan ini tersendat hingga terhenti, karena bukan saja menjatuhkan marwah karimun tetapi juga merugikan ekonomi dengan menghamburkan uang tanpa hasil yang konkret. Belum lagi gedung di samping costal yang tidak tahu arah tujuannya untuk dibangun, malah dijadikan tempat warga memancing ikan pada sore dan malam hari. 

Jumat, 15 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Mereka Yang Telah Tinggi Tak Perlu Meninggi

    Tidak ada komentar:
Apa yang seseorang perlukan adalah apa yang tak ia miliki. Maka dia yang gemar dihormati adalah yang masih kekurangan kehormatan. Sedangkan diri yang terhormat, tak pernah peduli, akankah ia diberi.

Maka kenalilah, wahai diri, apa-apa yang kau perlukan. Semakin tinggi tumbuh jiwamu, sejatinya semakin tak perlu pada apa-apa yang diberikan oleh sesamamu. Sebab, ketinggian jiwa hanyalah hasil dari kedekatanmu dengan Sang Pencipta. Lalu adakah lagi yang kau butuhkan dari manusia, jika setiap detik terasa kehadiran-Nya?

Benarlah kiranya, bahwa mereka yang telah tinggi, tak perlu meninggi. Bahkan ia tak peduli dimanakah ia berdiri, sebab ketinggian jiwa tidaklah sama dengan apa-apa yang fana. Ketinggian jiwa, tak terbatas pada ruang, karenanya bisa dimiliki siapapun yang menempuh jalan-Nya. Lihat Video Kegiatan HIMA-MKP Universitas Karimun

Kemulian diri, ada pada pengabdian. Pada tiap pengabdian, Dia kan tunjukkan jalan. Takkan pernah Dia biarkan para pengabdi dihinakan. Kalaupun makhluk menganggapnya hina. Semata hanyalah jalan agar sang diri melepaskan diri dari dari apa yang tampak, menjelajahi jiwanya, terus menembus langit, menjelajahi keabadian.

Duhai, betapa jemari penulis ini, masih jaih dari itu.

*mencoba menulis dengam genre baru

Rabu, 08 Juni 2016

Panwascam Meral Barat

Sedikit Banyak Mahasiswa Harus Tahu Politik

    Tidak ada komentar:
Percaya atau tidak kondisi politik yang ada pasti mempengaruhi semua sektor, khususnya faktor ekonomi. Apa yang kita makan hari ini dan kita dapatkan dari hasil keringat sendiri adalah buah dari hasil kebijakan politik itu sendiri. Bbm naik, minyak motor kita jadi korbannya. Semua harga pangan naik karena ulah bbm. Orang pintar yang menaikkan bbm. Di bidang keamanan banyak juga kepentingan politik ikut ambil andil, seperti alutsista kita berkembang, negara kita mandiri. Orang pintarlah yang menyusun konsepnya secara sistematis hingga bisa menembus pasar internasional. Lalu kejahatan asusila marak, hukum kebiri segera muncul. Lagi-lagi orang pintar yang menyusun regulasinya untuk diterapkan.

Meskipun kebijakan-kebijakan tersebut bukan berasal dari sitem politik jika dilihat secara kasar, yang terlihat ialah secara halus dan tidak terendus akan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Namun tidak untuk pengamat politik di negeri ini. Ia tentunya selalu mengamati kaum birokrat, politisi, DPR, DPRD, dsb.

Pada dasarnya tujuan orang-orang hebat tersbut ialah merubah bangsa indonesia ke arah yang lebih baik, tetapi seiring dalam perjalanan di tengah-tengah selalu akan ada rute-rute yang harus di lewati demi kepentingan partai, oknum, sanak saudara, orang dalam, dan lain-lain.

Jadi, apakah kita masih apatis terhadap politik di indonesia saat ini?
Yah jawabannya mayoritas iya, sebab ngurusi hidup sendiri saja rumit apa lagi ngurusi hidup orang yang sebenarnya ngurusi hidup kita juga. Haha jadi pusing ya..

Tetapi tidak untuk mahasiswa, seperti judul di atas. Kita mahasiswa calon penerus bangsa, sedikit banyak harus memahani kondisi politik yang ada. Bahkan kita di tuntut untuk berperan dalam bidang tersebut. Bukan meregulasinya namun cukup hanya dengan memberikan masukkan/opini hingga kritikan bila perlu, terhadap ketetapan yang di berikan jika  bertentangan dengan kaum lemah.

Dan yang paling akhir. Ujung-ujungnya pasti mikirin nasib orang bila masuk ke ranah politik. Beginilah rumus politik. Dari rakyat untuk rakyat dan dari saya untuk saya.

Sabtu, 28 Mei 2016

Panwascam Meral Barat

Ketua PMII Karimun Jelaskan Makna Sikap Profesional

    Tidak ada komentar:
Aminuddin Ma'ruf (Ketua PB PMII) dan Parizal (Ketua PC PMII Kabupaten Karimun)

Profesional merupakan kata yang sangat lazim kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Pastinya kata tersebut sering kita ucapkan dalam berinteraksi bersama teman, masyarakat dan bersama lainnya. Profesional menurut Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah bersangkutan dengan profesi yang memerlukan kepandaian khsusus untuk menjalankannya, sedangkan menurut Lisa Anggraeny profesional adalah suatu tuntunan bagi seorang yang sedang mengemban amanahnya agar mendapatkan proses dan hasil yang optimal.

Pada dasarnya profesional merupakan orang yang memiliki profesi atau pekerjaan yang dilakukan dengan memiliki kemampuan yang tinggi dan berpegang teguh kepada moral yang mengarahkan serta mendasari perbuatan. Profesional biasa dicirikan dengan memiliki kemapuan yang cukup baik, bertanggung jawab serta mempunyai integritas yang tinggi. Bertindak dan bersikap profesional dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting karena akan menjadi sebuah nilai dan tolak ukur kepribadian seseorang.

Kini profesional tidak hanya berfokus kepada profesi semata yang di kuasai. Akan tetapi profesional telah menjadi kata yang sangat luas yang mencakup segala aspek kehidupan sehari-hari. Seperti bersikap profesional dalam menjalankan tugas, pengambilan keputusan yang benar-benar baik tanpa harus mementingkan kepentingan individu maupun kelompok. Jadi sudah sangat jelas sekali bahwa bersikap profesional bukan hanya didalam dunia pekerjaan akan tetapi mencakup pada setiap aktivitas yang kita jalani.

Orang-orang yang komitmen dan terus berusaha bersikap profesional biasanya mengalami tantangan yang sangat besar. Ada fase dimana akan merasakan posisi yang sangat dilematis yang akan di hadapi. Misalnya seseorang yang dipercaya menjadi pemimpin sebuah perusahaan yang dituntut mencari profit besar untuk perusahaan, ketika mengambil keputusan yang baik tetapi memberikan dampak buruk yang terhadap orang lain. Padahal apa yang telah dilakukannya adalah sebagai bentuk dari profesional dalam bekerja sesuai dengan tugas yang telah di amanahkan. Inilah yang terkadang menjadi sebuah tantangan.

Lalu bagaimanakah dengan kita saat ini..? apakah kita sudah bersikap profesional dalam bekerja atau menjalankan aktivitas kita sehari-hari baik di pemerintahan, organisasi, maupun didunia kampus. Beranikah kita sebagai seorang aktivis mahasiswa berbicara karena ada kesalahan fatal yang dilakukan senior, dosen bahkan rector kita..? Mampukah kita sebagai seorang aparat menegakan hukum seadil-adilnya meski yang salah adalah teman sejajaran pimpinan daerah maupun nasional. Mampukah kita sebagai seorang pemimpin negeri mengatakan dengan tegas antara yang benar dan yang salah tanpa harus segan karena dia berjasa. Ketika kita ragu untuk menjawab maka otomatis kita masih belum bisa bersikap profesional.
Pada dasarnya ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan jika kita bersikap profesional baik dalam bekerja maupun beraktifitas lainnya. Tentunya akan terbentuk karakter maupun sikap mental yang baik dalam menyikapi masalah. Menjadi sosok yang bijaksana dan tentunya ahli dalam setiap pekerjaan yang dihadapi. tentunya masih banyak lagi manfaat yang akan kita dapatkan. Jadi bersikaplah profesional lah dalam segala tindakan maupun sikap tentu manfaatnya akandatang dengan sendirinya.

Semoga bermanfaat
Salam pergerakan..
Parizal ( Ketua Umum PC PMII Kabupaten Karimun )

Kamis, 26 Mei 2016

Panwascam Meral Barat

Nak Kemane ? Tak Ade...

    Tidak ada komentar:


TULISAN yang saya suguhkan tidaklah amat serius, namun cukup lumayan untuk dinikmati per kata-katanya. Ibarat kerupuk sibumatus yang murah disantap sangat sedap walau hanya dengan nasi putih. Tetapi jangan terkejut dengan gaya penulisan yang saya gunakan agak ke melayuan namun masih sejalur dengan kata-kata yang berada dalam kamus besar republik indonesia, Hal ini saya sengajakan karena agar tidak dikatakan plagiat. Perlu diketahui bahwa tema ini sebenarnya luas dan saya tidak akan membatasinya sebagaimana karya ilmiah seperti proposal penelitian, skripsi, tesis, dan sebagainya. Jika mempunyai opini, saran atau kritikan yang membangun silahkan letakkan di bawah agar kesannya kita-mahasiswa-ataupun masyarakat karimun kini tidak begitu apatis. Baiklah, agar tidak memperpanjang mukadimah langsung saja kita membahasnya.

Pendidikan pada hakekatnya merupakan kebutuhan disetiap orang, dengan adanya pendidikan dunia akan terasa aman, tentram yang disebabkan semua orang menjadi cerdas (IQ), pintar dan pandai dalam hidup bersosial serta tidak akan pernah ada peperangan yang akan memakan biaya (iwan fals-pesawat tempur). terlepas dari semua itu, kata pintar/cerdas tidak bisa menjamin kesuksesan hidup seseorang akan tetapi harus didukung beberapa faktor seperti kecerdasan perasaan (EQ) dan kecerdasan spritual (SQ).

Sangat riskan bila pendidikan di negeri ini khususnya di bumi berazam masih terdapat siswa-siswi yang tidak bisa bersekolah hanya karena kurang biaya, bukankah pemerintah sekarang ini telah memiliki program wajib sekolah 12 tahun. Agaknya hal ini bukanlah yang menjadi penyebabnya siswa-siswi kabupaten karimun tidak bersekolah. Ada faktor lain yang di khawatirkan akan menjalar ke masyarkat luas bak virus H1N1 yang mematikan. Saya menduga fenomena ini disengajakan karena pengaruh orang tua itu sendiri, sebuah paradigma bahwa "tamat sekolah langsung kerja" telah tertanam di benak anak mereka sewaktu masih mengantar pergi sekolah hingga anaknya bisa bersekolah dengan sendiri.

Alih-alih mendambakan sebuah pekerjaan baik yang diwariskan oleh orang tuanya, dengan rasa jiwa muda yang membara mereka para pelajar pun tidak tahan lagi untuk menunggu lama-lama dalam belajar dan bosan dengan keadaan semacam demikian. Akhirnya banyak anak-anak di kampung lendot ini yang tidak tuntas mengenyam pendidikan sesuai regulasi yang diberikan pemerintah. Seyogyanya peran orang tua adalah menyemangati kepada anaknya agar bersekolah yang tinggi agar dapat merubah nasib keluarga. Namun kenyataannya sedikit metode yang diberikan seperti ini, tetapi tidak menutup kemungkinan sebaliknya karena saya sebagai penulis hanya melihat hasil akhirnya dengan hanya mendikte di kulit tanpa memasuki ke dalam-wawancara, suvei, dan sebagainya.

Baca Juga : KARIMUN Menuju Perubahan

Terkadang saya miris melihat sebuah ungkapan yang sudah menjadi tabu di hadapan khalayak. Harapan saya pastinya sama dengan pemerintah untuk menghapus dan menenggelamkan kata-kata pesimis terlebih guyonan-guyonan yang tidak bermutu tersebut, supaya terbentuknya anak-anak karimun yang cerdas di segala bidang. Nasi sudah menjadi bubur saya pun hanya bisa berharap dari tulisan ini walau tidak banyak. Seandainya saya seorang Bupati masalah ini akan saya ketengahkan di hadapan para dewan-dewan yang bijak. Terbesit di kepala bahwa teman saya selalu mengatakan bahwa cita-cita yang saya harapkan tadi dikatakan hanya sebuah mimpi, tetapi teman disebelahnya mengatakan dengan kata amin. jadilah perasaan saya bercampur aduk antarara rawit dan gula merah (rujak), diskusi ini terjadi pada sela-sela jam istirahat kami yang sungguh melelahkan karena ulah superviosor yang sok memerintah.

Ets.. satu lagi yang saya ingin sampaikan kepada teman-teman yang saya kira sungguh-sungguh amat penting untuk dipahami, ada semboyan yang selalu melakat pada anak-anak SMA se-derajat yang tidak ada niat untuk meneruskan jenjang yang berikutnya, "Buat apa kuliah? S1 aja masih banyak yang menganggur". Saya katakan lagi bahwa ini bukan salah yang orang mengucap semboyan tersebut, bukan juga salah orang tuanya, tetapi salah objek itu sendiri yakni mahasiswa strata 1. Dia tidak mampu mengoptimalkan atau mempertanggung-jawabkan kemampuan akademiknya yang dikarenakan daya kemampuan -IQ- yang kurang sewaktu kuliah dahulu, sehingga proses mencari kerjanya tersendat yang diakibatkan masa lalu tersebut. Lalu timbul pertanyaan bagaimana dengan Mahasiswa yang cerdas, rajin, IPK-nya tinggi tapi tidak juga mendapatkan pekerjaan, nah itu kembali lagi pada yang di atas. dimana kita harus meyakini bahwa adanya keterlibatan campur tangan Tuhan. Jadi solusi terbaik yang saya rujuk dari berbagai sumber ilmu agama adalah selalu bersyukur yang disertai tawakal dan pecaya seyakin-yakinnya bahwa tuhan akan selalu menolong kepada umatnya.

INGAT! : Tuhan tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.