Featured

Beauty

Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

Arti Kehidupan Dari Sosok Merpati

    Tidak ada komentar:

Terkadang manusia tidak sadar dengan tugas dan kewajibannya baik itu kepada penciptanya maupun kepada sesama manusia. Maka dari itu, agar kehidupan kita berguna bagi orang banyak maka sudah sepatutnya kita belajar dari burung merpati. Kenapa? karena burung ini patut kita jadikan sebagai contoh untuk beberapa aspek kehidupan yang biasa kita lewati sehari harinya.

Dalam segi percintaan, burung yang satu ini tidak pernah untuk berganti ganti pasangan. Karena burung ini hanya memiliki 1 kekasih sepanjang umurnya. Banyak dikalangan anak muda burung merpati sebagai simbol kesetiaan. Kemudian, Burung merpati adalah hewan yang tahu kemana mereka harus pulang. Seberapapun jauh burung ini terbang mengudara pasti dia tahu dimana posisi rumahnya dan tempat dimana mereka menghabiskan sebagian hidupnya, karena burung merpati tidak ada yang pulang ke rumah orang lain. 

Burung merpati adalah burung yang sangat romantis. Itu pengertian bagi sebagian orang yang mengamati burung secara ekslusif. Dimana ketika burung jantan memberikan sebuah pujian pasti burung betinanya tertunduk malu, maka tak ada burung merpati yang saling mencaci maki. Dan rasa kebenciannya konon tidak pernah ada karena hewan ini tidak memiliki empedu.

Burung merpati tahu bagaimana pentingnya kerjasama. ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Mereka tak pernah sama sekali untuk melemparkan tugas yang sudah menjadi kewajiban mereka.

Jika, burung merpati saja bisa melakukan beberapa kemuliaan itu, kenapa manusia yang telah diberikan organ tubuh yang begitu sempurna oleh Tuhan tak mampu melakukan seperti apa yang di lakukan oleh burung merpati itu? Sudah seyogyanya kalian bahkan sayapun meniru apa yang telah menjadi kebiasaan dari burung merpati ini agar kehidupan kita semua lebih baik ke depannya.

Rabu, 12 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

Strukturisasi Skripsi, Tesis, atau Disertasi Dalam Satu Diagram

    Tidak ada komentar:
Menulis skripsi, tesis, atau disertasi bukan hanya sekedar menyusun kalimat untuk membangun konten dari bagian-bagian naskah ilmiah tersebut. Yang tidak kalah pentingnya adalah menjamin keruntutan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Kelancaran “aliran” ide dan penjelasan inilah yang membuat naskah skripsi, tesis, dan disertasi menjadi enak dibaca. Di atas adalah struktur strukturisasi skripsi, tesis, atau disertasi — dalam satu diagram yang dihimpun dari www.ug.ac.id
Panwascam Meral Barat

Cerita Sore ; Mobil Kecil Bapak Tua Mogok di Tengah Jalan Batu Lipai

    1 komentar:

Foto di atas tidaklah seperti cerita yang ingin aku sampaian sore ini. Bentuk mobil kecil bapak tua yang ingin aku ceritakan sangat jauh seperti foto diatas, sengaja tidak aku foto kejadian tadi. Rasa malu bukan menyelemimutiku tetapi rasa iba yang mendorong aku untuk memutuskan foto di atas sebagai kebalikannya atas apa yang aku lihat barusan.

Hari ini sengaja aku pulang melalui jalan bawah yakni melewati depan salemba, tidak seperti biasanya aku melewati jalan ini. Karena jalan yang sering kulalui adalah melewati jalan poros menuju arah batu lipai.

Saat di pertigaan lampu merah simpang tiga SMA 2 Karimun, ku melaju dengan gigi dua lalu transaksi ke berikutnya. Tiba di gang pertama rumahku, kejadian yang tidak disangka terjadi tepat disebelahku. Saat aku berpapasan dengan seorang pengendara mobil tua di jalan jalan Batu Lipai. Spontanitas aku menoleh, ternyata mobil kecil bapak tua, yang selama ini menjadi buah bibir masyarakat Karimun atas kepiawaiannya dalam mengelola mobil kecilnya menjadi mobil seperti pada umunya. Namun kali ini warnanya tidak merah seperti yang sering kita lihat di jalanan atau di SPBU Poros. Warnanya berganti menjadi warna besi tua yang berkarat.

Kembali pada cerita, pada saat kami berpapasan pada pukul jam 15.45 aku mendengar sebuah besi tua jatuh ke tanah sehingga suara nyaring tersebutlah membuat aku terkejut dan menoleh, bukan aku saja masyarakat di pinggiran jalan pun tersentak melihat apa yang sedang terjadi. Di amati dengan seksama ternyata besi tersebut adalah salah satu bagian mesin mobil tua bapak tadi yang jatuh.

Lama aku berhenti di depang gang minimarket My Mart, hanya untuk melihat apa yang akan dilakukan bapak tua itu. Saat ia keluar, aku merasakan rasa simpati yang sungguh teramat dalam. Dengan kondisi anggota tubuh yang jauh dari kata sempurna tak membuat ia malu untuk memperbaiki mobil tuanya. Hati ku semakin miris saatnya ia menyebrang sendirian hanya dengan kaki yang tidak sempurna tersebut. Tampaknya ia menuju ke bengkel yang tak jauh dari lokasi kejadian.

Akhirnya, aku merasa lega setelah beberapa warga datang ingin membantunya. Dan aku pun pulang ketika hasrat untuk membagikan cerita ini di dalam blogku terwujud.

Kemudian untuk menutup akhir cerita ini, ada kalanya kita merenung sejenak hikmah dari cerita di atas. Bahwa seorang Muslim hendaknya berupaya untuk membantu Muslim lainnya. Membantu bisa dengan ilmu, harta, bimbingan, nasehat, saran yang baik, dengan tenaga dan lainnya.



Jumat, 07 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

Evaluasi Pembelajaran Bagi Dosen dan Mahasiswa (EDOM)

    Tidak ada komentar:

Dengan mengisi EDOM berarti mahasiswa telah berpartisipasi untuk membantu meningkatkan mutu pembelajaran. EDOM bermanfaat bagi dosen untuk memperbaiki diri bila memang masih terdapat kekurangan serta mengembangkan potensi dan kelebihan yang dimilikinya. Bagi manajemen Universitas, fakultas, dan departemen (program studi), hasil EDOM dapat dijadikan acuan dalam menyusun program peningkatan mutu proses pembelajaran dan kinerja dosen. Dan yang terpenting bagi mahasiswa, dapat merasakan peningkatan mutu proses pembelajaran yang terus menerus.

Salah satu bagian untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi pedagogik (seni menjadi guru) dosen adalah penilaian dan evaluasi pembelajaran. Kuesioner menjadi salah satu alternatif cara yang bisa digunakan oleh pihak pendidik untuk menilai dan mengevaluasi kompetensi pedagogik yang dimilikinya. Cara ini tentu akan mempermudah dosen untuk melakukan perbaikan terhadap berbagai hal yang terkait dengan proses pengajaran di kelas. Metode ini bisa digunakan ketika proses perkuliahan akan selesai dalam satu semester sehingga proses penilaian dan evaluasi dilakukan setiap semester. Tidak hanya untuk menilai kompetensi pedagogik dosen, kuesioner tersebut juga bisa digunakan untuk mengevaluasi mata kuliah yang ditawarkan kepada mahasiswa. Dengan kata lain, metode ini juga bisa digunakan untuk menilai dan mengevaluasi substansi dari mata kuliah yang diajarkan dalam proses perkuliahan.

Kuesioner penilaian dan evaluasi pembelajaran tersebut juga sebenarnya bisa dijadikan sebagai survey kepada mahasiswa terhadap tingkat kepuasan mereka terhadap pelayanan yang diberikan selama proses perkuliahan. Dengan kata lain, kuesioner tersebut bisa menggunakan indikator berupa angka-angka yang menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap sebuah pernyataan. Selanjutnya, mahasiswa hanya memberikan penilaian terhadap pernyataan-pernyataan yang tertuang di dalam kuesioner tersebut. 

Kamis, 06 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

Silabus Adalah Indikator Hasil Mengajar Dosen Terhadap Mahasiswa

    Tidak ada komentar:

Setiap dosen mempunyai cara dan metode megajar yang berbeda-beda, perlu disadari bersama bahwa cara yang menoton membawa keburukan pada mahasiswa dan juga dosen itu sendiri. Ketika dosen dituntut untuk merubah metode pengajarannya dengan cara keinginan mahasiswa maka penyesuaian akan memakan waktu, sehingga kreatif dan inovasilah yang sekarang perlu diperlihatkan.

Dalam berkreasi perlu adanya pedoman/petunjuk dari mata kuliah yang di ajarkan tersebut agar tidak banyak di isi degan ilmu-ilmu di luar konteks mata kuliah. Yakni silabus, suatu rencana pembelajaran pada sebuah mata pelajaran yang wajib meliputi komponen-komponen penting, mulai dari standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, hingga sumber belajar. Alhasil dosen yang menggunakan silabus akan mengetahui dan bisa menilai berhasil atau tidaknya ia mengajar pada mata kuliah tertentu dalam satu semester, hematnya silabus dipakai sebagai pedoman para dosen untuk menyusun rencana dan menjalankan program perkuliahan.

Suatu hal kewajaran dalam proses berkuliah sesuatu ilmu yang diajarkan melenceng juga dibahas namun dalam skala yang wajar saja. Tetapi ketika seorang pengajar sudah terlalu asyik dengan mengulas bahan diluar konteks makul yang di ajarkannya patut dipertanyakan hal tersebut. Apakah ada unsur kesengajaan agar mencairnya suasana dengan komplikasi dari berbagai hal menarik seperti pengalaman, pekerjaan serta harapan? Atau spontanitas akibat kurangnya bahan serta faktor-faktor yang menunjang dalam mengajar makul tersebut??

Kamis, 29 September 2016

Panwascam Meral Barat

Hukum Alam : Dimana-Mana Mayoritas yang Mendominasi




"Melindungi minoritas adalah keharusan - tapi terus melemahkan mayoritas adalah kebodohan."

Majority (kelompok terbesar) dalam suatu wilayah sudah sepatutnya mengambil alih tampuk kekuasaan dalam bidang apapun, termasuk dalam menjalankan roda pemerintahannya. Tidak ada ceritanya di dunia ini minoritas bisa memimpin mayoritas, apapun itu alasannya sebab sudah menjadi hukum alam (sunnatullah).

Di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka wajib hukumnya untuk mengangkat pemimpin di sana adalah umat Islamnya. Demikian pula jika di negeri atau wilayah yang mayoritasnya non muslim, maka berlakulah hukum yang sama (azaz keadilan).

Tidak bisa diabaikan dan tak bisa dibolak-balik. Pengabaian terhadap “hukum” ini sama saja artinya dengan melakukan pelecehan dan merendahkan suara kaum mayoritas, akibatnya tentu saja akan menimbulkan konflik yang cukup fatal. Makanya di Bali dan Papua tak mungkin dipimpin gubernur muslim.Keseimbangan itulah yang tetap membuat kehidupan sosial berjalan dengan aman dan damai.




Rabu, 31 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Stand Up Comedy Atau Komedi Tunggal (Khazanah Bahasa)

    Tidak ada komentar:

Setiap malam di salah satu TV swasta kita bisa menjumpai acara yang beragam dengan menyuguhkan keunikannya masing-masing. Setelah penatnya bekerja hampir seharian rugi rasanya bila tidak menikmati malam santai bersama keluarga dengan menyaksikan acara hiburan tersebut, tontonan yang diberikan sepatutnya edukatif dan informatif, bukan acara lakon atau alay yang digandrungi oleh remaja-remaja seperti sekarang.

Menariknya, bagi kalangan pengamat dunia hiburan acara Stand Up Comedy adalah acara yang sukses, sehingga merambah sampai ke stasiun TV lain, yang sebelumnya hanya Kompas TV dan Metro TV yang menyiarkannya. Selama ini dari sisi jumlah penonton di 2 stasiun televisi tersebut bisa jadi ada di kelompok terbawah, dengan adanya acara ini di Indosiar yang juga satu grup dengan SCTV (yang belakangan klaim sebagai TV dengan penonton terbanyak di Indonesia) bisa memberikan tontonan yang positif ketimbang tayangan yang monoton.

Namun dengan kesuksesan acara Stand Up Comedy, ada yang aneh. Bukan acaranya, melainkan nama acaranya yang terasa agak ke barat-baratan. Bukankah negara kita adalah negara yang menjunjung tinggi bahasa persatuan Indonesia? dan sebaiknya bahasa yang semacam ini perlu di tinggalkan karena secara historis pendapat "kita belum merdeka dari dunia barat" layak untuk di sandingkan ke dalam acara Stand Up Comedy tersebut.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi IV, 1998), kita hanya mendapati “lawak” dan “komedi”, istilah yang sangat dikenal orang ramai. Tidak ada padaran untuk stand up comedy. Secara linguistik, pengalihbahasaan dari satu bahasa ke bahasa sasaran bisa dilakukan secara harfiah atau konseptual. Namun, kenyataannya, keduanya mati kutu apabila kata asalnya lebih sering digunakan di tengah khalayak. Boleh jadi, sihir media massa jauh lebih dahsyat dibanding dengan seruan bahwa bahasa baku itu perlu. Lihat, meskipun presenter tak tertera di dalam kamus, kata ini sering digunakan di Indonesia, sementara Malaysia menggunakan kata penyampai.

Hal serupa juga terjadi dalam Kamus Dewan negeri jiran. Kita tidak menemukan padanan kata majemuk di atas. Namun, seiring dengan makin populernya acara ini, komedian dan pegiat Malaysia menyebut dengan “Lawak Berdiri”, sedangkan di saluran sebelahnya dengan kata "Lawak Sorang-Sorang", yang merupakan sebutan untuk “seorang-seorang”.

Memang, kita akan sering menemukan pengalihbahasaan bahasa Malaysia terhadap kata asing secara harfiah, seperti “muat turun” (download) dan “muat naik” (upload). Sayangnya, meskipun kita menyebut “unduh”, sebutan itu jarang digunakan malah ditulis dan lisankan menjadi donload.

Sejatinya, kita mampu menghadirkan padanan bahasa asing dalam bahasa sendiri, tapi orang ramai lebih mengutamakan menggunakan bahasa asal. Pada banyak media, baik televisi maupun koran, kita akan sering mendengar kata presenter, sehingga khalayak terbiasa dengan penggunaan kata tersebut. Sementara itu, di layar kotak kaca, sang pembawa acara sering menanyakan password dalam acara kuis, alih-alih “sandi”. Padahal, di negara tetangga, Malaysia, Singapura  dan Brunei Darussalam, “kata laluan” sebagai padanan harfiah sering mendengar, sehingga pemirsa dengan mudah membayangkan password. Di sini, mungkin penelepon akan kebingunan ketika ditanya “sandi”. Karena ia mungkin membayangkan “sandi morse” yang di pelajari dalam kegiatan pramuka.

Jadi, kalau bahasa kita sejatinya bisa membayangkan alih bahasa, tugas semua pihak untuk menyebarkan dan menggunakannya dalam pelbagai kesempatan. Namun pelaku komedi tunggal yang di sebut comic tak mudah disebut “komikus” mengingat KBBI 1998 (terakhir) hanya menerangkan “orang yang ahli membuat komik cerita bergambar”.

Untuk itu, Badan Bahasa mempunyai tanggung jawab yang besar untuk melakukan terobosan-terobosan agar sebuah kata bisa digunakan dengan ringan tanpa merasa aneh mengungkapkannya. Bukan melukai amanat konstitusi bahwa bahasa baku itu perlu, tapi tertib berkata-kata itu perlu.

Akhirnya, dibandingkan dengan “jenakata”, “komedi tunggal” lebih mudah dipahami dan dibayangkan khalayak dan dijadikan kata sinonim agar kita bisa merawat khazanah sendiri. Namun ini tidak berarti menutup pintu bagi kata lain yang dianggap sebagai cerminan kekayaan bahasa Nusantara. Tak mudah mempopulerkan sebuah istilah tanpa ada usaha bersama dari semua pihak. Pada waktu yang sama, penggunaan kata serampangan, seperti launching, dalam banyak kesempatan, baik lisan maupun tulisan, telah menyebabkan matinya kata “peluncuran”. Padahal kata”peluncuran” di negeri jiran acap digunakan untuk menandai sebuah pergelaran acara. Lalu mengapa kita mesti risi menggunakan “komedi tunggal”? Bukankah istilah serupa, seperti “orgen tunggal” yang telah sering diungkapkan?

Selasa, 30 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Perubahan Tubuh Seseorang Setelah Berhenti Merokok

    Tidak ada komentar:

British Medical Journal menyebutkan bahwa setengah jumlah perokok akan meninggal karena rokok, lalu dari mereka setengahnya meninggal pada usia pertengahan, 20-25 tahun akibat merokok. Dalam tulisan Tjandra Yoga Aditama di harian Kompas Jumat 31 Oktober 2003, saya temukan tulisan yang mengulas unsur senyawa yang berbahaya pada rokok. Antara lain Seton (cat), Amonia, (Pembersih lantai), Butane (lighterfuel), Kadimun (aki mobil), Karbon  monoksida (asap knalpot), Metanol (bensin roket), Hidrogen sianoda (gas beracun) dan lain-lain.

Dalam koran tersebut juga disinggung perubahan tubuh setelah seseorang berhenti merokok. Akan terjadi setelah 20 menit berhenti merokok, yakni tekanan darah dan denyut nadi akan kembali normal, setelah 8 jam, kadar oksigen di darah kembali ke angka normal. Dan setelah 24 jam, karbon monoksida dieleminasi dari tubuh. Setelah 48 jam, nikotin tidak dapat lagi terdeteksi di dalam tubuh dan kemampuan untuk mencium dan merasa menajadi lebih baik. Setelah 72 ja, bernafas muliai lebih lega dan level energi mulai meningkat. Setelah 5 tahun, resiko terjadinya serangan jantung menjadi setengah dibandingkan dengan mereka yang terus merokok dan setelah 10 tahun, resiko menderita kanker paru menjadi saparuh dari resiko mereka yang terus merokok, dan resiko mendapat serangan jantung  menjadi lebih kurang sama dengan mereka yang sama sekali tidak perokok.

Selasa, 23 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Lewah

    Tidak ada komentar:

Benarkah di dunia ini tidak ada yang sempurna? Ternyata ada, misalnya kalimat. “Saya pergi” adalah contoh kalimat sempurna. “Saya” sebagai subyek, sementara “pergi” sebagai predikat. Begitu sederhana, tapi justru kesederhanan itulah yang menjadikannya sempurna.

Dalam teori jurnalistik, selalu dikatakan bahwa berita, agar “sempurna”, harus memenuhi unsur dasar 5W (who,what,when, where,why) dan 1H (how). Tapi penekanannya bisa berbeda-beda. Jika peristiwa yang hendak ditonjolkan, unsur what didahulukan. Bila pelaku, korban, atau saksi yang lebih penting, unsur who yang ditonjolkan. Unsur when dan where digunakan sebagai pelengkap. Sedangkan why dan how dipakai sebagai penjelasan.

Begitu pula kalimat. Kalimat sempurna sekurang-kurangnya harus memiliki subyek (who) dan predikat (what). Kalimat “Saya pergi” yang sempurna itu bisa diberi pelengkap (when dan where): “Beniat menemui seseorang, kemarin saya pergi ke Bogor menumpang mobil teman”.

Kaimat sempurna sangat berpotensi menjadi kalimat efektif, yakni kalimat yang dapat menyampaikan imformasi atau gagasan penulisnya secara tepat kepada pembaca. Kalimat efektif selalu berupa kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap dan cermat. Jika syarat itu tak terpenuhi, kalimat akan tergelincir menjadi tidak efektif.

Salah satu penyebab kalimat tidak efektif adalah pemakaian kata mubazir, yaitu kata yang bila dihilangkan tidak akan mengganggu kelancaran komunikasi. Sifatnya yang berlebihan bahkan menghasilkan kalimat rancu atau kacau.

Di media masaa, kerap saya dapati kalimat rancu semacam ini: “Dalam sebuah kemelut di sisi kanan gawang Barcelona, membuahkan tendangan pojok”. Kaimat ini kacau karena kehilangan subyek. Jika “dalam” di awal kalimat di buang. Kerancuan hilang dan kalimat itu menjadi efektif: “Sebuah kemelut di sisi kanan gawang Barcelona membuahkan tendangan pojok”.

Harus diakui, kelewahan kata bertebaran di media massa. Ironisnya, di satu sisi, media gemar menggunakan singkatan (terutama akronim). Tapi di sisi lain sering memakai kata secara berlebihan. Contoh, “Kadin meminta kepada pemerintah agar lebih serius dalam menjalankan paket kebijakan tersebut.
Silahkan buang kata-kata yang tercetak miring dalam tiga kalimat tersebut. Maka akan kita dapatkan kalimat efektif.

Ada lagi kalimat “Dua kubu pendukung saling berhadapan” dan “Masyarakat seolah-olah terbelah menjadi dua kubu yang saling berseberangan”. Imbuhan “ber-an” antara lain berfungsi menyatakan makna saling atau perbuatan timbal balik. Jadi kata “saling” sama sekali tidak dibutuhkan dalam kedua kalimat tersebut.

“Mantan” atau “bekas” juga merupakan kata yang sering dipakai padahal tak diperlukan. Kalimat “Jokowi mengaku siap berkomunikasi dengan mantan presiden kelima Indonesia, Megawati Soekarnoputri” dapat di jadikan contoh, sehingga kata “mantan” tak dibutuhkan. Kata “bekas” dalam “Bambang Pamungkas, bekas pemain timnas Indonesia tahun 1998-2014 mengunjungi Kabupaten Karimun” juga contoh kata lewah karena sampai kapan pun Bambang Pamungkas adalah pemain tim nasional indonesia tahun 1998-2014.

Ada kalimat yang jika dibaca sekilas, seolah-olah tanpa masalah, seperti “Meski mengukir sukses fantastis, SMK negeri 1 Karimun tak mau berhenti sampai di sini”. Kalau kita perhatikan, ada kejanggalan di situ. Bisakah sesuatu “berhenti sampai di sini”? Tentu tidak. Bentuk yang ringkas dan tanpa masalah adalah “berhenti di sini”.

“Ia mulai berkuasa sejak 1981” juga seperti tanpa persoalan. Padahal, bila “mulai” yang lewah itu di buang, tampillah kalimat efektif: “Ia berkuasa sejak 1981”.

Sebagian orang berpendapat, dalam menulis, yang penting adalah pesan yang kita tulis sampai kepada pembaca. Kata lewah pun bukan masalah jika pembaca memahami tulisan kita. Maka seorang teman menulis begini. “Karena saya gila, sehingga menjadikan saya mudah tertawa”. Mungkin kalimat itu dapat dipahami, tapi akan jauh lebih mudah dimengerti bila kata-kata lewahnya dibuang: “Saya gila sehingga mudah tertawa”.

Arswendo Atmowiloto, penulis banyak buku. Yang saya temukan di majalah tempo pada perpustakaan daerah Kabupaten Karimun. Mengatakan bahwa tanpa melewa, penulis itu gampang. Uu Suhardi seorang penulis majalah tempo di rubrik bahasa yang mengangkat judul “Lewah” berani mengatakan, bagi penutur aslinya, bahasa Indonesia sebenarnya persoalan gampang, tapi kerap digampang-gampangkan sehingga menjadi masalah yang rumit.

Kamis, 21 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Aturan Hanya 15 Menit Menjadi 30 Menit

    Tidak ada komentar:

Kamis (21/07/3016). Saat mengantri di SPBU poros, fikir saya waktu tidak akan lama karena yang ikut mengantri hanya 10 motor termasuk saya. Berada di conter pertama dengan seperti biasanya kami semua mendorong ketika motor yang di depan telah selesai bertransaksi.

Ada pemandangan aneh saat itu, di sebelah conter pertama terdapat conter pengisian bahan bakar pertamax. Tapi tidak ada orang yang menjaganya, sedangkan orang semakin lama semakin berjubel. Hingga akhirnya pekerja yang baik itu mengambil alih dengan merangkap, jadinya setengah jam waktu kami menunggu yang aturan hanya berdurasi 15 menit.

Dimana letak keseriusan mereka pertamina sebagai pelayan yang melayani masyarakat dalam mengelola manajemennya ? Saat di tanya, jawaban yang saya dapat dari penjaga conter,. Sebelah sedang demam. Katanya, sambil terkekeh abang ini menjawab.

Lalu dibiarkan begitu saja ? Bagaimana bila antriannya panjang, lalu berhadapan langsung dengan konsumen yang tempramen, dsb. Apa terus dibiarkan ??  Fikirku.

Entah la, yang saya lihat siang kamis itu pelayanan mereka buruk

Selasa, 19 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

1 Tahun 1 Periode BEM Universitas Karimun Vakum

    Tidak ada komentar:

BEM Universitas Karimun sudah bukan menjadi sebuah induk organisasi lagi yang berfungsi mengayomi UKM-UKM dibawahnya. Melihat perkembangan kampus UK kian hari kian berbenah dalam operasional manajemennya, BEM menjadi bagian penting ketika manajemen kampus telah berjalan baik, sebab kampus UK tidak bisa berjalan sendiri tanpa support dari mahasiswa yang duduk di kursi BEM.

Perlu di sadari, janji kalian yang di sematkan saat pelantikan adalah hutang. Dimana harapan para mahasiswa lain agar kampus ini lebih baik ke depannya masih belum terbayarkan. Walau beberapa tindakan tetapi itu hanya sebagian, belum ada manfaat yang dirasakan bagi mahasiswa Universitas Karimun. Biarlah jikalau kalian ingin menyudahi di tengah jalan. Tetapi, kami ingin satu saja perubahan nyata yang ada di depan mata kami.
Panwascam Meral Barat

Papan Reklame vs Spanduk Di Atas Jalan

    Tidak ada komentar:

Terkait dengan keindahan kota saya ingin mengusulkan perlu adanya papan iklan/reklame yang terpasang di tempat strategis dan kontennya yang berkualitas. Pantauan saya disepanjang jalan raya karimun memberikan kesan seakan kota ini jelek saat di pandang. Sebab penuh dengan tali yang bergantungan dan spanduk yang entah sampai kapan akan di turunkan, ketika hancur dimakan usiapun tak kunjung di pedulikan.

Di simpang RSUD sangat strategis bila spanduk di letakkan di papan reklame, tapi saya rasa bukan masyarakat umum yang memiliki benda tersebut, pastinya pemeritah kabupaten karimun. Tapi dalam pengelolahannya tidak seperti yang diharapkan, yang ada dinding putih papan reklame yang terus di pandang warga karimun.

Sebaiknya, demi terwujudnya kota yang indah dan penuh dengan kata inspirasi. Papan reklame tersebut disewakan pada masyarakat yang ingin menggunakannya tapi dengan bayaran yang terjangkau, bila perlu gratiskan pada bulan pertama agar yang lain tertarik untuk ikut di sebelahnya. Biarlah tekor dulu yang penting untung nanti, seperti pepatah berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian.

Utamakan kenyaman masyarakat maka kalian akan nyaman duduk di singgasana.