Featured

Beauty

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2017

Panwascam Meral Barat

Indonesia Dalam Kehancuran atau Malaysia Dalam Kebangkitan ??

    Tidak ada komentar:


Assalamualaikum wr. wb
Salam sejahtera untuk kita semua, hari ini, Rabu, 23 Januari 2017 saya sedang berada di perpustakaan Pemkab Karimun. Sengaja saya datang ke sini hanya untuk mengambil wifi gratis, tapi bukan itu tujuan utama saya. Tujuan saya ialah ingin menanggapi isu nasional yang sedang panas dan berkembang saat ini, isu ini saya kira perlu di kaji dari berbagai sudut pandang

Tulisan ini pun sebenarnya juga berangkat dari acara TV 1 Malaysia yang disiarkan pagi tadi, judulnya Dialog Perdana Menteri TN50. Dimana Najib Tun Razak Menjadi narasumber pada forum yang dihadiri mahasiswa Malaysia dari berbagai suku dan etnis. Sayang sekali saya tidak dari awal menontonnya tetapi apa yang saya tangkap dari hasil dialog mahasiswa bersama pemimpin negaranya tersebut sudah bisa saya ambil kesimpulannya. Bahwa di tahun 2050 Malaysia harus bertransformasi menjadi negara yang lebih baik dari sebelumnya mulai dari segi Ekonomi, Teknologi, Pendidikan, Sosial, dan Persatuan (identitas bangsa).

Akhirnya yang bisa saya dengar mereka membahas tentang Pendidikan, Sosial dan Persatuan yang terjadi di negara itu dan bagaimana implementasinya ke depan pada tahun 2050. Saat menyinggung masalah pendidikan, salah satu mahasiswi keturunan Syam-Thailand mengatakan saat ini warga Bumiputra (Melayu) seperti selalu menjadi prioritas dari pada etnis/suku lain untuk mengenyam pendidikan, diskriminasinya terlihat dalam hal menempuh pendidikan Perguruan Tinggi. Baru-baru ini telah ada ketegangan antara Nasionalis-Melayu dengan sekolah yang ingin menerapkan bahasa inggris sepenuhnya. Mereka mengkritik akibat penggunaan bahasa melayu yang kurang dominan dikuasai oleh anak-anak keturuanan Tiongha.

Belum lagi isu sosial dan politik, dimana Pribumi sulit melebur menjadi satu untuk terbentuk suatu jati diri bangsanya yang kokoh. Kasus sosial-politik Malaysia tersekat menurut garis etnis. Sampai hari ini, bumiputera selalu menjadi anak emas, kelompok kesayangan dalam menikmati peluang modernisasi. Hubungan antarentnis di Malaysia jauh lebih rentan konflik lantaran pemingggiran etnis non-Melayu di Malaysia. "Nasionalisme” di Malaysia bermakna nasionalisme demi kepentingan Melayu.

Ada pernyataan menarik dari Direktur Merdeka Pusat. "Muslim di Malaysia tidak Monolitik (kesatuan terorganisasi), mereka menganggap banyak ide-ide politik yang berbeda". Kata Ibrahim yang saya kutip dari Malay Mail Online.

Bahkan media online Malaysia tersebut memberi judul begitu pesimis "Berkurang Penduduk Cina Pertanda Buruk Bagi Ekonomi dan Bangsa". Masalah sosial mempengaruhi semuanya, ekonomi dan tak terkecuali agama. Tren pelaksanaan hukum dan praktik islam juga menjadi indikator dalam penyusutan populasi non-Muslim.

Lalu apa kaitannya dengan kondisi Indonesia saat ini?
Menurut saya simpel saja, Malaysia ingin mencontohi negara kita. Sadar atau tidak negara kita sudah menjadi model percontohan oleh negara lain dalam membentuk jati diri bangsa dengan bersemangatkan nasionalisme yang tinggi.

Jika membahas nasionalisme maka tidak lepas dari persatuan. Sendiri saja memiliki nasionalisme maka belum timbul nasionalisme. Karena nasionalisme adalah konsep bersama demi terwujudnya cita-cita yang bersama pula. Dengan cara seperti inilah yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman. Bahwa kita harus bangga dengan para pendahulu kita. Dimana ketika Malaysia hari ini sibuk dengan membangun persatuannya, kita sudah lebih dulu memikirkannnya. Terbukti Pancasila merupakan hasil dari rumusan berbagai orang hebat seperti Ir. Soekarano, Moh. Hatta, Moh. Yamin, dan lain-lain.

Kini, mari kita lihat bangsa kita sekarang. Rasanya tepat kalau saya bilang ini adalah titik awal dari kehancuran Republik Indonesia. Jika Uni Soviet berganti nama menjadi Rusia akbiat pecahnya daerah yang membentuk negara-negara kecil, maka Republik Indonesia akan menjadi Negara Republik Jawasia, Negara Republik Papua Merdeka, dan Kesultanan Riau-Lingga (Bergabung bersama Malaysia). Jangan menyepelekan hal ini, suatu saat bisa saja terjadi bila masalah hari ini yang begitu rumit dan berakar tidak diselesaikan secara holistik.

Saya tidak ingin membahas Ahok, Habib Rizieq, lalu kasus penodaan bendera yang bertuliskan tauhid. Yang jelas saya ingin sampaikan bahwa negara ini, negara Indonesia sudah hampir hancur akibat perilaku rakyatnya sendiri. Narkoba, LGBT, KKN, Kekerasan anak, dan Isu Agama -sudah lama mati suri- Kini bangkit kembali dengan bungkus baru. Semua itu adalah bagian dari hasil buah tangan kita rakyat Indonesia. Memang puncanya ialah dari hasil pemikiran kelompok-kelompok asing yang memang ingin memporak-porandakan nusantara ini.

Hidup itu keras, ya memang keras, slogan tersebut sangat saya sukai. Apalagi korelasinya dengan bangsa ini, mau tidak mau suka tidak suka negara ini akan selalu berjuang, entah itu menjadi pemenang atau pecundangan, serangan-serangan besar harus siap kita hadapi di tengah persaingan perebutan kebutuhan energi di masa depan. Dan hal tersebutlah menjadi dasar pemikiran bangsa besar untuk menguasai indonesia yang kaya akan SDA-nya.

Kenyataan pahit sulit saya terima, ternyata rakyat indonesia tidak siap. Tidak cukup dewasa dalam menghadapi isu sebesar ini. Wajar, barangkali dengan usia yang belum sampai 100 tahun perlu beberapa revisi dari UU dan sistem dalam bernegara. Amerika saja haus melewati 100 Tahun baru bisa maju. Maju dalam berfikir dan bertindak.

Lalu, seharusnya dengan lebih duluan mengadopsi pemikiran "Bhineka Tunggal Ika" dari pada Malaysia, maka pemikiran yang timbul saat ini adalah lebih maju lagi. Yakni meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia - Isi Pembukaan UUD 1945.

Dengan fakta yang ada sekarang seolah kita kembali lagi ke zaman kemerdekaan, untung saja saat itu ada sosok karismatik yang dapat menghipnotis seluruh rakyat Indonesia agar kembali bersatu melawan segala bentuk ancaman. Siapa lagi kalau bukan Ir. Soekarno, bapak sang orator ulung.

Akhirnya, tidak sabar lagi menunggu tahun 2045 hadir dan menyambut saya, menyambut dengan generasi emasnya indonesia. Dimana Indonesia sudah lebih duluan maju dalam segala bidang ketimbanng negeri Jiran. Atau malah sebaliknya ?? Negara kita yang tertinggal, dan di tahun 2050 mereka sudah lebih siap, lebih matang, lebih dewasa dalam menghadapi permasalahan yang begitu besar.


"Muslim di Malaysia tidak monolitik; mereka menganggap banyak ide-ide politik yang berbeda, "kata Ibrahim Malay Mail Online - See more at: https://translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&prev=search&rurl=translate.google.com&sl=en&sp=nmt4&u=http://www.themalaymailonline.com/malaysia/article/dwindling-chinese-population-bodes-ill-for-nation-and-economy-analysts-say&usg=ALkJrhg10Adn5ITpj7OEuzACys5eWN5eCg#sthash.9W5J1zSO.dpuf
"Muslim di Malaysia tidak monolitik; mereka menganggap banyak ide-ide politik yang berbeda, "kata Ibrahim Malay Mail Online - See more at: https://translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&prev=search&rurl=translate.google.com&sl=en&sp=nmt4&u=http://www.themalaymailonline.com/malaysia/article/dwindling-chinese-population-bodes-ill-for-nation-and-economy-analysts-say&usg=ALkJrhg10Adn5ITpj7OEuzACys5eWN5eCg#sthash.9W5J1zSO.dpuf

Sabtu, 12 November 2016

Panwascam Meral Barat

Semodern Apapun Zaman Buku Akan Tetap Menjadi Rujukan Terbaik

    Tidak ada komentar:

Akhir zaman di tandai salah satunya dengan diangkatnya ilmu. Maksud ilmu disini bisa saja para wali Allah seperti ulama, kiyai, tokoh, pemimpin adil dan sebaginya yang akan di angkat ke langit. Secara tidak langsung ilmunya juga terangkat. Lalu ilmu pengetahuan hadir sebagai pencerah kehidupan manusia dalam mewujudukan peradaban yang lebih baik, jika ilmu tidak ada maka kehidupan di dunia akan vakum dengan subjeknya yang tidak dapat mengembangkan apa yang ada di bumi.

Ilmu pengetahuan di dapat dengan berbagai cara salah satunya dengan 5 indera yang ada pada manusia. Ketika ilmu yang di dapat, pada prosesnya terdapat sesuatu kekuatan begitu luar biasa yang dapat menyimpan ilmu tersebut. Sehinggalah ilmu-ilmu terdahulu masih tetap ada dan dapat dipelajari hingga sekarang, yakni kekuatan ingatan. Ingatan semua orang relatif, pada zaman Rasulullah ingatan seseorang mayoritas lebih baik dan kuat ketimbang sekarang yang menjadi minoritas. 

Untuk itulah buku hadir sebagai pengimbang dalam kehidupan masa depan. Buku bukan saja karya tulis yang sekedar untuk di baca, tetapi juga memiliki peran yang sangat vital bahkan salah satu penyebab pengatur sebuah sistem dalam setiap waktu. Buku hadir mengajarkan manusia baca dan tulis, dengan kebiasaan itu semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang panjang terlampai, lama menjadi dekat dan semua berawal dari ilmu pengetahuan yang di aplikasikan ke dalam karya tulis (buku). Begitah sifat ilmu, selalu menghasilkan sesuatu ketika dikembangkan.

Hanya sekedar ingatan kita tidak mampu, kecuali mendapat kekuatan IQ khusus atas izin Allah seperti Abu Hurairah. Namun bagaimana jika ia telah tiada? Lalu baca tulis tidak dilakukannya? Maka yang terjadi adalah bom waktu yang siap menghancurkan generasinya.

Maka kembali lagi pada sejarah terbaik di dunia, yakni di zaman Rasulullah, sahabat, tabi'in dan seterusnya. Sebuah buku -bukan saja Al-Qur'an, buku lainnya juga- di kumpulkan menjadi satu dan puncak kesadaran tersebut terjadi dikala ketakutan orang-orang akan di angkatnya para wali Allah dan orang-orang alim yang berilmu. Tujuan kesadarannya juga agar ilmu tidak di angkat ke langit dan bisa diteruskan kepada generai berikutnya.

Begitu pentingnya buku di mata sejarah manusia, sehingga layak kita muliakan buku-buku ini. Bahkan karena bukulah internet hadir dan karena buku kita bisa membaca dan menulis di era serba digital sekarang.

Jumat, 11 November 2016

Panwascam Meral Barat

Sadar, dan Bangkitlah Asia

    Tidak ada komentar:

Manusia di Asia juga mempunyai budaya yang cukup kental yaitu budaya kerukunan sehingga manusia di Asia apabila ada suatu perbedaan pendapat dengan pendapat manusia yang lainnya lebih baik diam saja daripada pendapatnya dikemukakan dan membuat suatu pertengkaran sehingga manusia di Asia tidak bisa berkembang secara optimal di banding dengan negara liberalis yang bisa mengemukakan pendapat dengan bebas walaupun pendapatnya itu berseberangan.

Peradaban modern yang tak terbendung dengan globalisasi sebagai ikon utamanya telah menghadirkan suatu paradigma baru. Pradaban modern tak lain adalah pradaban Barat yang diakui sendiri oleh mereka sebagai pradaban universal dan patut dicontoh oleh selainnya. Dan memang diakui bahwa sampai saat ini Barat unggul dalam segala bidang, mulai dari teknologi, perekonomian, keilmuan dan kesejahteraan rakyat, dibandingkan dengan negara di luarnya, terutama Asia.

Asia tidak saja ketinggalan dalam bidang-bidang itu, melainkan juga hanya menjadi konsumen atas “produk-produk” Barat, seperti kebebasan individu dan demokrasi. Keculi Jepang, China, dan Macan Asia (Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura), pola pikir masyarakat selain negara-negara tersebut masih dinilai stagnan. Fregmentasi histori peradaban yang beberapa abab lalu berjaya di bumi Asia hanya mampu menunjukkan romatisme sejarah.

Maka tak heran bila Kishore Mahbubani mempertanyakan kemampuan berpikir orang Asia dengan “Bisakah Orang Asia Berpikir?”. Pertayaan ini bukanlah melecehkan masyarakat Asia, melainkan sebuah kesadaran yang datang terlambat ketika perkembangan peradaban Asia mulai memasuki ranah yang lebih maju. Diakui atau tidak, menjelang abad 21 perkembangan Asia, khususnya Asia Pasifik, begitu pesat terutama bidang perekonomian.

Menurut Mahbubani, Timur (baca; Asia) dan Barat memiliki ciri khas perpikir. Pola pikir orang Asia besifat ‘holistik’, yakni perhatian yang lebih menekankan pada konteks, toleran pada kontradiksi, dan sedikit bergantung pada logika. Sedangkan orang Barat cendrung berpola pikiran ‘analitis’, menghindari kontradiksi, berfokus pada obyek-obyek yang berbeda dari konteksnya, dan lebih mengedepankan logika (hlm.xxxi). Atau dalam bahasa Dawam Raharjo, dalam pengantarnya, orang Barat lebih rasional, sedangkan orang Asia lebih emosional. Inilah perbedaan mendasar dari tipelogi dua masyarakat, Timur dan Barat.

Sejarah mencatat bahwa beberapa pradaban seribu tahun yang lalu begitu sukses dan tumbuh subur di bumi Asia. Saat itu, orang China, Arab dan India memimpi perkebangan paradaban. Dan diantaranya pula terjadi pertukaran kebudayaan yang saling mendukung kemajuan dari masing-masing. Sedangkan Eropa masih dalam masa “kegelapan” yang dimulai ketika runtuhnya Kekaisaran Romawi. Namun, apa yang terjadi kemudian sungguh diluar dugaan, ketiga peradaban besar Asia itu runtuh dan terpuruk dalam keterpencilan sejarah.

Sebaliknya, bangsa Eropa-lah yang maju ke depan, muncul sebagai peradaban pertama yang mendominasi dunia. Keajaiban seakan menyeruak dalam pikiran orang Eropa. Perubahan terjadi diseluruh sektor kehidupan. Perubahan yang diikuti kemajuan dan peningkatan peradaban, dari renaisan hingga pencerahan, dari revolusi saintifik hingga revolusi industri, yang akhirnya menjadikan dunia diluanya sebagai negeri koloninya. Yang paling menyakitkan pada Asia bukanlah kolonisasi fisik, tetap kolonisasi mental yang menyebabkan orang Asia menyakini superior Barat. Bila berkaca pada sejarah diatas, maka, menurut Mahbubani, jawaban dari pertayaan yang dijadikan judul bukunya adalah “tidak bisa”, orang Asia tidak bisa berpikir. Alasannya, bagaimana mungkin peradaban Asia yang begitu maju luluh lantak. Namun ia juga memberikan alasan untuk jawaban “bisa” dari pertayaannya.

Prestasi ekonomi masyarakata Asia Timur adalah salah satunya. Kedua, adanya perubahan penting yang tengah terjadi dalam pikiran-pikiran orang Asia. Mereka tak lagi percaya jika satu-satunya cara berkembang adalah dengan jalan menjiplak atau membebek. Sekarang mereka yakin bisa membuat solusinya sendiri. Peruabahan pikiran orang Asia terjadi pelan-pelan. Memang mereka tidak sempurna, tapi jelas-jelas tampak superior. Hal ini disebabkan oleh adanya kesadaran bahwa, seperti masyarakat Barat, mereka memiliki filsafat, budaya, dan sosial yang kaya yang bisa dijadikan sandaran dan digunakan untuk mengembangkan masyarakat modern dan berkembang. Ini sebagai alasan ketiga.

Namun, tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat Asia jauh lebih kompleks sebelum bisa meraih tingkat prestasi yang komprehenif. Misalnya Tantangan serius dalam bidang sosial dan keamanan, yang sampai saat ini masih sering terjadi perang sipil dan pemberontakan dalam negeri, masih memperlihatkan wajah kesuramannya. Hal ini, menurut Mahbubani memungkinkan untuk menjawab mungkin dari pertayaannya. Selain itu, yang “mungkin” adalah pemeliharaan kekuatan tradisi nilai-nilai Asia, seperti kasih sayang pada keluarga sebagai institusi, rasa hormat pada kepentingan sosial, sifat berhemat, konservatisme dalam adat istiadat sosial, dan rasa hormat pada pemimpin, menumbuhkan mind Asia yang khas.

Jika tolok ukurnya adalah peradaban Barat yang bisa diserap untuk seluruh segemen kehidupan di Asia, maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana orang Asia menyerap apa yang dimilikinya seperti ia menyerap apa yang telah diprakarsai oleh Barat. Akan tetapi yang sangat memungkin atas pilihan jawaban “mungkin” adalah optimisme orang Asia, sama halnya ketika bangsa Eropa memiliki optimisme saat memasuki renaisan. Dan kepercayaan akan perubahan ini harus dipupuk sedemikian agar tetap bersemi dan membuahkan keberhasilan.

Dalam bahasa Mahbubani, perubahan itu hanyalah masalah waktu (ketika, bukan jika), peradaban Asia mencapai perkembangan yang sama dengan peradaban Barat (hlm.xli). Artinya keniscayaan peruabahan Asia bukan ide utopis, melainkan suatu kenyataan riil. Hegemoni dan dominasi Barat atas Timur akan runtuh secara bertahap.

Bila dikaitkan dalam konteks Indonesia, pertanyaan seperti yang dilontarkan Mahbubani ini tentunya akan memberikan dampak positif untuk perkembangan Indonesia di masa depan. Sebab, munculnya pertayaan seperti tanyakan Mahbubani dari judul buku ini, tak lain hanyalah upaya merangsang masyarakat Asia untuk memulai perubahan yang sebenarnya mampu mereka lakukan. Karena merupakan kesalahan besar ketika manusia Asia hanya bisa menjiplak ‘produk’ Barat tanpa bisa mengembangkannya menjadi sebuah kritik akan stnagnasi yang telah mengkronis.

Rabu, 02 November 2016

Panwascam Meral Barat

NU Pelakon Utama Dalam Perangi Paham Radikal

    Tidak ada komentar:

Menarik sekali judul berita media online yg menegaskan lebih kurang seperti ini ; NU sebagai pelakon utama perangi mewabahnya islam radikal.

Menurut saya, islam indonesia sudah hebat bisa berdiri dengan toleransinya yang tinggi. Dan paham itu kita namakan islam moderat. Selama ini mereka yang ingin menegakkan syariat islam tersebut berfikir seolah yangg menghuni di indonesia hanya 1 agama, suku dan ras. Padahal nyatanya tidak, terbukti dengan adanya 4 pilar indonesia masih bisa eksis dengan label republiknya.

Memang, manusia pasti tidak selamanya bisa bersatu. Faktor yg mempengaruhi itu ialah dari segi pandangan, dogma/sekte, tingkat pendidikannya, lingkungan sekitar bahkan guru yang dicontohi. Tapi ingat tujuannya sama, hanya caranyalah yangg perlu di lihat apakah tepat untuk di zaman ini atau pada zaman yang akan datang. Maka, kembali lagi ke Teori Generasi.

Saya disini sebagai pemuda Nadhalatul Ulama bersikeras bahwa ajaran islam yg sesungguhnya adalah islam cintai damai. Jika kita islam terus-terusan saja brmain isu SARA, secara tidak langsung isu SARA ini sedang kita gunakan unttk memecah kemajemukan indonesia. Dimana akan ada rasa ketakutan dri suku, ras dan agama lain sikap dari intoleran kita. Jadi dimana letak islam sejati kita ?? Apakah kita secara tidak sadar telah terpngaruhi islam fanatik radikal. Yang pintar-fanatik saja tahu kalau radikal itu melanggar alias tidak sesuai dengan kultur kita (asia tenggara).

Oke. Kalau ini kasus pemimpin yang di larang non muslim. Lalu kasus penghinaan Al-Qur'an. Namun kita jangan lupa dibalik itu ada pesta demokrasi yang membungkus menjadi 1 paket.
Jadi hemat saya selesaikan 1 persatu sesuai dengan irasional (dimana tidak akan menimbulkam konflik yang berkepanjangan) sbaiknya selesaikan dahulu pilkada ini. Dan ulama bserta lembaganya berhak menyarankan utk menysariatkan ajaran islam agar tidak memilih pemimpin kafir. Lalu ktika sudah selesai pilkada -menang atau kalah- Ahok harus diadili sesuai perbuatan yang dilakukannya.

Saya rasa itu lebih baik ketimbang diperiksa disaat pilkada berlangsung, lalu jika hasilnya terbukti walhasil menyisakan 2 pasangan. Dan ini sangat tidak adil dalam budaya berdemokrasi. Lalu jika pun Ahok tidak terbukti bersalah, polisi akan jatuh pamornya sebgai pihak yang bertanggung jawab atas penodaan agama oleh umat muslim radikal.

Akhirnya, kini NU berperang melawan paham radikal!!

Rudi Saputra

Kamis, 06 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

Mengkritisi Persoalan Politik Indonesia Terhadap Potensi Anak Muda

    Tidak ada komentar:

Patut di apresiasikan sekali ketika di tengah kekaguman rakyat akan seseorang yang dipandang integritasnya melebihi kandidat lain dalam pemilihan kepala daerah atau atau pun pemilihan presiden. Munculnya muka baru yang katakanlah bersih dan jernih dari intrik-intrik kotor dari bekas masa lalunya, apa lagi para anak muda tersebut bertolak dari latar belakang yang berbeda lalu berhasrat mengabdi pada negara dan bangsa melalui jalur politik. Sudah banyak contoh potensi anak muda yang unjuk gigi di perpolitikan tanah air bahkan dunia, untuk di indonesia sendiri mungkin sudah banyak yang mengenal Anis Baswedan (calon pilgub DKI Jakarta 2017) , lalu Anis mata (presiden PKS), serta tak ketinggalan Tifatul Sembiring (mantan menkoinfo), Imam Nahrowi (menpora) lalu yang menoreh di kelas dunia kita pun punya seorang mantan menteri luar negeri yakni Marty Natalegawa.

Mereka ini memiliki backgorund yang berbeda dan kualifikasi yang dimiliki tidaklah sama, namun kehebatan skill masing-masing di sandingkan dengan keberanian mereka untuk ikut terjun politik yang selama ini hanya di isi oleh orang-orang yang berkirsar 50-an tahun ke atas sungguh hal yang sangat baik untuk diikuti. Dari sisi agama umur di bawah 50 tahun apalagi mendekati 40 tahun, adalah puncak dari kematangan pola fikir berproduktif sebagaimana kepercayaan umat islam yang di alami oleh nabi Muhammad Saw.

Sebenarnya, ini adalah sebuah terobosan yang baik sekali dalam dinamika perpolitikan di indonesia yang selalu di isi oleh para politikus senior. Memang, pengalaman adalah hal penunjang dalam berpolitik agar bisa dikatakan politikus ulung. Namun ketika bermanuver dalam perhelatan politik indonesia, politikus senior cenderung mempunyai misi ganda bahkan lebih dalam merebut kekuasaan tersebut. Katakanlah mereka telah menjadi anggota dewan pada periode sebelumnya, ketika mencalonkan yang berikutnya bahkan yang ke seterusnya cenderung mempunyai ambisi lebih dari mengabdi kepada negara. Lebih disini dalam arti negatif, seperti mementingkan suatu golongan, individu, sanak keluarga dan teman karib yang telah membantunya pasca dilantiknya menjadi dewan atau jabatan tertentu lainnya.

Seyogyanya kita berfikir bahwa politik indonesia sampai hari ini masih membangun dogma primitif, yakni kekuasaan diperalat menjadi tujuan hidup demi kesuksesan yang di anggapnya. Dogma ini akan terus berkembang jika sistem politik indonesia tidak pernah dibahas dengan serius untuk di rubah pengelolaanya, walau SDM yang berkualitas selalu bermunculan namun ketika permasalahan yang di anggap lumrah ini di tutup dengan sebelah mata, maka mereka salah satu bagian dari bandit-bandit serakah akan kekuasan, walau dengan berdalih kepentingan lain juga patut di rumuskan.

Momentum Untuk Anak Muda yang Kritis Terhadap Perpolitikan di Indonesia

Angin segar dibawa melalui partai demokrat untuk kalangan anak muda yang berhawakan semangat dan berselimut kegalauan politik buruk indonesia, belakangan ini anak muda dinilai tidak fokus terhadap politik contohnya saja dalam hal memilih pemimpin. Beda ceritanya dengan pemuda/i yang aktif dan pasif pada pentas perpolitik tanah air, politik seakan sarapan pagi bagi mereka yang bernotabane mereka dari golongan aktivis dari kampus. Namun mereka yang khususnya mahasiswa diluar konteks politik, agaknya mulai terikut arus karena suatu terobosan besar yang tidak di duga oleh para pengamat tanah air terhadap yang dilakukan oleh ahli startegi dari cikeas. Walau tidak eksklusif mengikutinya namun pengetahuan akan dunia politik di domisilinya memberikan sinyal bahwa pemuda indoesia kini telah sadar dengan pentingnya untuk individu dan keluarga dalam menumbuh-kembangkan politik secara nasional maupun lokal. Sehingga hal-hal positif seperti memotivasi kaum muda dalam berpolitik mengurusi negeri, lambat laun akan muncul seiring menariknya perpolitikan sekarang. Lalu mengurangi golput juga suatu keharusan, dan tak ketinggalan lahirnya pemuda/i dalam pentas politik indonesia.

Refleksi Sejarah Reformasi Bangsa Indonesia
Indonesia telah melakukan perubahan besar yang terjadi pada tahun 1998, artinya bangsa ini telah berumur 17 tahun dalam hal mereformasi ketatanegaraan indonesia. Dengan usia semuran jagung kita masih perlu beberapa tahun lagi untuk menjadi negara yang benar-benar menganut paham demokrasi. Lihat amerika, butuh ratusan tahun agar bangsanya menjadi negara demokrasi yang sesuai dengan kriteria adat istiadat, keberagaman suku ras agamanya. Banyak perubahan-perubahan selama ratusan tahun tersebut sehingga telah mengalami 14 kali amandemen pada era rekontruksi, dampak dari perubahan / terobosan seperti ini hasil akhirnya menemukan suatu sistem yang tepat di wilayah itu sendiri.

Ketika reformasi pada tahun 1998, kita rakyat indonesia telah terlepas dari sistem orde lama yang bertemabesarkan tentang kekuasan di pergunakan untuk kepentingan sendiri serta keluarga, rakyat dan negara belakangan untuk difikirkan. Pada masa presiden Soeharto memang banyak sekali pembangunan yang diwujudkannya, maka wajar ia populer dengan sebutan bapak pembangunan, namun terlepas itu berapa banyak kasus korupsi yang diduga pemain tunggalnya ia sendiri bahkan anaknya yang sampai sekarang belum juga tuntas. Jadi, disini selain tugas jadi presiden dalam hal mengatur negara, hal pribadi dan keluarga telah menjadi nomor satu dalam segala hal dan kebijakannya.

Alhasil tepat sekali ketika Prof. Amien Rais beserta kawan-kawan pada waktu itu berhasrat untuk merubah bentuk ketataegaraan bangsa indonesia ke arah yang lebih demokratis dan sosial. Beberapa kebijakan yang jitu terbukti telah menghancurkan sistem lama yang sangat buruk tersebut. Salah satunya ialah membatasi periode presiden menjadi 2 priode dimana setiap priode berjarak hanya 5 tahun. Serta hierarki lembaga sekarang menjadi horizontal tidak seperti dahulu vertikal. Pemimpin tertinggi bukan lagi lembaga MPR, semuanya sejajar tetapi saling mengawasi.

Politik Itu Citra dan Strategi Berada di Dalamnya

Keberanian SBY mengusung anaknya juga tidak terlepas dari kemampuan Agus itu sendiri, melihat sisi akademisnya ia merupakan orang yang selalu berada di posisi terdepan maka inteletualnya tidak diragukan lagi apalagi di bidang militer. Dengan dasar seperti ini boleh jadi ketika berhadapan pesaingnya di panggung politik, sisi intelektual Agus akan semakin melejit seiring jiwa mudanya terus membakar rasa keraguan orang lain terhadapnya.

Berbicara masa depan maka hanya teoritis saja yang di ulas, perkembangan dan kejayan peran kaum muda belumlah meroket dengan para kaum senior. Namun contoh kongkrit dari peran kaum muda bisa dilihat dari kiprah Dr. Raden Marty Natalegawa tatkala dia satu-satunya yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Iran, terkait dengan masalah sengketa atom. Resolusi itu diambil lewat voting, dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 14 negara menyetujui, hanya Indonesia satu-satunyanya.

Mungkin menurut kita itu bukan idenya karena boleh jadi ada desakan desakan dari golongan tertentu, namun terlepas dari itu semua saya yakin dan percaya bahwa sifat anak muda -apa lagi ketika dia merasa yang paling muda di suatu forum- yakni berani mengambil sesuatu yang spektakuler namun terkesan inapiratif berbalut solusi, ketimbang para senior dengan kebijakannya seperti biasa pada sebelumnya dan cenderung monoton. Jadi saya pikir hidup ini penuh yang namanya terobosan. Kemudian dengan fenomena terjunnya anak muda ke panggung politik khususnya di pilgub DKI Jakarta 2017 mengisyaratkan momentum akan terwujudnya budaya reformasi politik yang baru, dimana kedepannya di dapatkan suatu sistem politik yang bersih, aman, tidak ada praktek ilegal dan secara definitif di sahkan sebagai landasan baru dalam berpacu di kancah politik indonesia.

Seperti sesuatu momentun akan bertumbuh-kembangnya perpolitikan indonesia menjadi lebih baik. Dimana anak muda yang hari ini secara aktif akan berdampak pada masa 20 ke depan, ketika itu mereka yang hebat di generasinya beralih posisi dari politisi menjadi pengamat atau akademis politik. Siklus seperti di atas sebenarnya harus difikirkan sejak sekarang, dan sangat mutlak bila selama ini politik indonesia cenderung di anggap buruk oleh kalangan ekonom, akademisi, para dokter, pengamat, pedagang, nelayan dan lain sebagainya akibat perencanaan yang kurang tepat. Lalu, bukan hanya sistem suatu program dari perpolitikan itu saja di bentuk dan dikembangkan oleh generasi penerus, tetapi juga wadah -politik indonesia- juga patut di sadari sebagai subyek yang ia juga tak luput dijadikan bahan riset untuk berangkatnya indonesia menuju generasi emas. Serta bukan hal yang tidak mungkin generasi muda yang tergolong minim dalam dunia politik ini bisa familiar dengan konsep politik seiring semaraknya pertunjukkan politik yang di bangun.

Meski saya mendukung adanya kaum muda berpolitik, namun tidak secara berbondong-bondong, sebab khawatir aspek lain juga membutuhkan peran kaum muda. Saya sangat mendukung sekali ketika para kaum muda digalakkan untuk berbisnis. Terlalu banyaknya politikus dan birokrat boleh jadi dengan di tambahnya pemikiran primitif bangsa indonesia akan lambat untuk maju akibat birokrasi yang berbelit yang berpunca dari jatah setiap pintu.

Bisnis dalam arti berdagang berkaitan erat dengan berpolitik, 2 hal ini selama ada makhluk maka akan berjalan. Namun yang lebih utama penerapan yang begitu penting ketimbang salah satunya adalah berbisnis. Bukankah dengan perekonomian yang stabil maka politikpun akan adem, jika sebaliknya maka bisa saja politik tersebut tidak ada pergerakan yang memadai hanya berada di zona aman.
Panwascam Meral Barat

Merobohkan Budaya Mahasiswa Apatis Terhadap Hukum (Mahkamah Konstitusi)

    Tidak ada komentar:

Pernahkah kita melihat lembaga-lembaga di indonesia ini berselisih lalu mendatangi ke gedung MK?? Pasti pernah, nah dalam kasus tersebut apa sebenarnya yang di perselisihkan? Kenapa harus mengadu kepada MK? kenapa tidak diselesaikan secara politik?

Jawabannya, disebabkan oleh sistem ketatanegaraan yang diadopsi Indonesia dalam ketentuan UUD 1945 sesudah perubahan pertama(1999), Kedua (2000), Ketiga (2001), dan keempat (2002), mekanisme hubungan antarlembaga negara bersifat horizontal, tidak lagi bersifat vertikal. Sekarang tidak ada lembaga tertinggi negara seperti yang kita ketahui sebelumnya. MPR bukan lagi lembaga yang paling tinggi kedudukannya dalam bangunan struktur ketatanegaraan Indonesia, melainkan sederajat dengan lembaga-lembaga konstitusional lainnya, yaitu Presiden, DPR, DPD, MK, MA, dan BPK.

Hubungan antar lembaga diikat oleh prinsip checks and balances, dimana diakui sederajat tetapi saling mengendalikan satu sama lain. Karena sederajat timbul kemungkinan dalam pelaksanaan kewenangan masing-masing terdapat perselisihan dalam menafsirkan amanat UUD.

Jika timbul persengketaan pendapat semacam itu, maka diperlukan organ yang mengatur untuk memutuskan final atas hal tersebut. Yakni melalui proses peradilan tata negara yanv bernama Mahkamah Konstitusi.

Secara definitif, maksud dari sengketa kewenangan antarlembaga negara ialah perbedaan pendapat yang disertai persengketaan dan klaim antar lembaga negara mengenai kewenangan konstitusionalnya yang dimiliki oleh masing-masing lembaga negara tersebut.

Selain memutuskan perkara dalam sengketa kewenangan antar lembaga, MK juga berfungsi sebagai tempat mengadu bagi siapa saja selama ia warga negara indonesia terhadap undang-undang yang tidak relevan dan bermasalah dalam pelaksanaannya oleh lembaga yang terkait. Hal tersebut dinamakan pengujian materi undang-undang.

Cara penyelesaiannya dengan memberikan solusi hukum selama dipersidangan, sebab MK seyogyanya sebagai lembaga yang merdeka dari siapa saja -tidak boleh ada pihak yang mengintervensi- untuk menegakkan hukum dan keadilan di tingkat lembaga.

Melihat posisi maka Mahkamah Konstitusi ini posisinya unik. MPR yang menetapkan UUD sedangkan MK yang mengawalnya. DPR yang membentuk UU, tetapi MK yang membatalkannya jika terbukti bertentangan dengan UUD. MA mengadili semua perkara pelanggaran hukum di bawah UUD, sedangkan MK mengadili perkara pelanggaran UUD. Jika DPR ingin mengajukam tuntutan pemberhentian terhadap presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya, maka sebelum diajukan ke MPR untuk diambil keputusan, tuntutan tersebut diajukan dulu ke MK untuk pembuktiannya secara hukum.

Senin, 26 September 2016

Panwascam Meral Barat

Gelas Paling Mahal Seantero Dunia


SUATU hari seorang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kemudian ia sodorkan kepada mereka sebuah gelas yang terbuat dari berlian sembari berkata, “Bahkan jika kalian semua mengumpulkan harta untuk membeli gelas berlian ini, kalian tidak akan pernah bisa membelinya. Ini adalah benda termahal seantero negeri.”

Semua menatap kagum. Betapa mahal dan indah gelas yang ada di hadapan mereka.
Sang raja melanjutkan, “Wahai rakyatku, siapa diantara kalian yang bersedia untuk memecahkan gelas ini?”
Terkaget-kaget mereka mendengarnya. “Duhai Baginda Raja, bagaimana mungkin kami tega memecahkan benda termahal seantero negeri?” kata salah seorang dari menteri kerajaan. Yang lain menganguk setuju.
“Benar, wahai Raja, bukankah itu pusaka negeri ini? Kami sekali-kali tak akan tega merusaknya,” sahut yang lainnya.

Suasana berubah gaduh, masing-masing berbisik kepada teman di sampingnya.
Tak berselang lama, seorang pemuda muncul dari kerumunan. Ia berjalan tenang, memberi hormat kepada raja, lantas tanpa berbicara apa-apa, ia langsung ayunkan kapak di genggamannya. Maka seketika gelas berlian itu pecah berkeping-keping.

Seketika itu pula orang-orang berteriak memaki-maki, mereka benar-benar marah. Hampir-hampir mereka akan mengeroyokinya jika saja raja tak segera menenangkan mereka.
“Wahai rakyatku, mari dengar dulu alasan kenapa pemuda ini berani memecahkan gelas berlian itu?” ujar sang raja.
“Wahai Rajaku,” kata si pemuda. “Gelas berlian ini memang sangat mahal dan sangat penting, tapi perintahmu untuk memecahkannya jauh lebih mahal dan lebih penting daripada apapun.”
Sang Raja tersenyum. Betapa bijaknya pemikiran si pemuda.
Mari belajar dari si pemuda.

Jikalaupun pemimpin yang ada sekarang tidak korupsi, dermawan tiada terkira, banyak membawa perubahan. Namun jauh lebih penting perintah Allah untuk tidak memilih pemimpin nonMuslim.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (pemimpin/pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (An-Nisa’ 144).

Si pemuda meletakkan perintah Allah di atas segala-galanya. Karena hanya dengan begitu kita akan tumbuh menjadi mukmin sejati.

Jumat, 23 September 2016

Panwascam Meral Barat

Ketersesatan Sejarah Maritim Indonesia



Dari para sejarahwan hingga perwira Angkatan Laut Indonesia berkomentar mengenai penetapan resmi Hari Maritim Nasional. Polemik ini sebenarnya harus segera dituntaskan agar tidak terjadi berlarut-larut yang mengakibatkan publik terus mengalami ketersesatan sejarah.

Ketua Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahmad Pratomo menilai kinerja pemerintah dan para sejarawan tergolong lambat untuk menetapkan Hari Maritim Nasional. Dirinya menghimbau agar para pemangku kepentingan agar opini dari para sejarawan dan komunitas sejarah semakin tertampung. Secara pribadi dirinya mengusulkan Hari Maritim Nasional lebih tepatnya jatuh pada peristiwa Perang Selat Bali.
"Spirit dan roh revousi di laut harus diangkat agar bisa menginspirasi generasi saat ini. Salah satu peristiwa penting yang mendasari itu ialah tanggal 5 April 1946 saat sekelompok pasukan dipimpin oleh pemuda bernama Markadi bergerak dari Banyuwangi menuju Bali dalam misi mendaratkan pasukan dan pengibaran merah putih.” papar Ahmad.

Menurutnya, peristiwa itu sangat heroik karena pemuda yang bersenjatakan minim mampu mengalahkan 2 kapal patroli Belanda yang jauh lebih canggih kondisinya. Selain itu, lulusan Sejarah UI itu menganggap peristiwa itu jarang diangkat di dalam buku sejarah, hanya perang di tanggal 10 November 1945 lah yang akhirnya menjadi Hari Pahlawan, sementara di laut tidak pernah”

Oleh karena itu, agar membangkitkan semangat maritim terutama dalam hal menjaga kedaulatan, Ia sangat sepakat sekali bila hari itu dijadikan Hari Maritim Nasional seperti halnya Hari Pahlawan. Kendati demikian, Ia juga menerima bila ada usulan untuk menyamakan antara Hari Bahari dan Hari Maritim yang jatuh pada tanggal 23 September.

Perlu diketahui bagi mahasiswa khususnya yang memiliki kualifikasi di bidang maritim. Bahwa tanggal 23 September merupakan hari diberlangsungkannya Munas Maritim yang pertama dan terakhir kalinya. Hari itu juga bisa memberikan makna tersendiri, karena di situ ada konsep sebuah negara dan sebuah identitas bangsa yang lebih luas gerakannya, yaitu maritim.

Sementara itu, Kasubdisjarah Dispenal Kolonel Laut (P) Rony Turangan turut memberikan pandangan terkait penetapan Hari Maritim Nasional. Menurutnya Hari Maritim Nasional tidak perlu dipandang sebagai kejadian perang di laut saja tetapi bisa dengan peristiwa lainnya yang berhubungan dengan maritim.
Kesepakatan bahwa 23 September yang saat ini diperingati sebagai Hari Bahari dijadikan pula sebagai Hari Maritim Nasional, disebabkan istilah ‘bahari’ dan ‘maritim’ sebenarnya sama hanya saja berbeda asal katanya.

“Tanggal 23 september sebagai diselenggarakannya Munas Maritim pada zaman Bung Karno saya kira lebih tepat untuk dijadikan Hari Maritim nasional, jadi tidak harus digambarkan dengan peristiwa perang atau angkatan laut, karena maritim ini punya semua anak bangsa,” ungkapnya.

Kalau memang banyak pihak yang masih menginginkan Hari Maritim itu dari peristiwa perang, Rony menegaskan lebih baik hari pemberontakan para ABK pribumi di kapal perang Belanda Zeven Provincien pada 3 Febuari 1933 pimpinan Martin Paradja yang dijadikan Hari Maritim, karena itu terjadi sebelum kemerdekaan dan menunjukan keberanian pelaut kita.
Panwascam Meral Barat

Polemik Tanggal Resmi Hari Maritim


Polemik penetapan Hari Maritim Nasional di tengah berjalannya visi poros maritim dunia tak urung tuntas. Kendati ada pihak yang mengusulkan tanggal 21 Agustus sebagai Hari Maritim Nasional namun dinilai alasannya masih kurang kuat.

Mengutip kata sekjen Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahlan Zulfakhri kepada salah satu media online maritimnews.com. Beliau mengatakan penetapan 21 Agustus sebagai Hari Maritim Nasional kurang relevan dari sisi sejarah maritim nasional.

Menurutnya, alasan penyerangan rakyat kepada Gudang Militer Jepang di Pulau Nyamukan, Surabaya,  4 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dikumandangkan tidak bisa dijadikan ukuran dalam menetapkan Hari Maritim. Pasalnya banyak daerah seperti Sibolga, Cirebon, Tanjung Priok dan Tegal yang melakukan upaya yang sama untuk memperkuat persenjataan rakyat (saat itu belum ada BKR, TKR dan TNI).

“Angkatan bersenjata kita belum berdiri saat itu, BKR Laut sendiri yang merupakan cikal bakal TNI AL baru berdiri 10 September 1945. Jadi agak keliru, kalau atas dasar penyerangan rakyat ke tangsi militer Jepang dijadikan Hari Maritim Nasional,” terang Ahlan.

Kemudian timbul beberapa pembahasan di tataran nasional bahwa Hari Maritim Nasional seharusnya bertepatan dengan Musyawarah Maritim pertama dan terakhir kalinya yang jatuh pada tanggal 23 September tahun 1963 di masa Pemerintahan Bung Karno.

Keppres Nomor 249 tahun 1964 ternyata menjadi landasan hukum Hari Maritim Nasional. Dengan dasar ini, pemerintah tinggal menegaskan kembali dan jangan sampai lupa dengan sejarah. Karena akan berakibat fatal bagi perjalanan poros maritim kalau sejarah maritim saja kita tidak tuntas.

Kendati sudah ada diskusi-diskusi kecil yang menghadirkan beberapa stakeholder baik dari ahli dan pemerintah, namun sayangnya belum ada keputusan dan pengumuman secara resmi mengenai Hari Maritim Nasional.

Hal ini sekaligus mencerminkan tindakan inkonsistensi para ahli sejarah untuk mengungkapkan sikap, terhadap Hari Maritim Nasional. Ke depan seharusnya disosialisasikan kepada anak bangsa ini akan peristiwa penting yang terjadi pada 23 September 1963 itu, agar kita saat ini tidak kehilangan arah.

Untungnya polemik ini di tangani oleh deputi IV bidang Budaya, SDM dan IPTEK Maritim Kemenko Maritim yang dipimpin oleh Safri Burhanuddin. Beliau telah membentuk tim khusus untuk mempelajari polemik ini. Namun hingga kini hasil dari penelusuran tim tersebut masih ditunggu oleh 240 juta rakyat Indonesia yang sedang bertransformasi sebagai bangsa maritim. 
Panwascam Meral Barat

Kendala STIP Dalam Mewujudkan S3



Keinginan STIP sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan generasi yang kuat kompetensinya dalam hal ilmu kemaritiman tersebut, memang belum berbuah manis.

Penyebabnya, Kemdiknas pada tahun 2012 mengeluarkan rekomendasi kepada STIP untuk membuka program S2, dengan persyaratan yang relatif sangat berat. Persyaratan itu antara lain kewajiban memiliki tenaga pengajar dengan kualifikasi pendidikan S3 linear bidang ilmu pelayaran atau kemaritiman.

Pihak STIP diwajibkan memiliki tiga dosen berbasis akademis S3. Di negeri ini, jangankan tiga orang, satu orang saja susahnya bukan main untuk mencarinya, namun S2 linear banyak di STIP.

Harapan besar adanya kebijakan dari Kemdiknas, sebenarnya bisa saja terwujud kalau pihak Kemdiknas menyadari bahwa dalam statuta STIP ditegaskan Kemdiknas merupakan pembina akademis.

Perlu diketahui bahwa secara struktural, STIP di bawah Kementerian Perhubungan. Tetapi secara akademis, STIP di bawah pembinaan Kemdiknas. Dalam posisi pembina, adalah wajar saja bila memberikan kebijakan kepada StIp agar bisa segera melahirkan S2 bidang kemaritiman.

Padahal sarjana S2 kemaritiman ini merupakan bagian dari semangat bangsa ini lewat Undang-Undang Pelayaran, antara lain untuk menjaga dan melindungi lingkungan maritim.

Selasa, 13 September 2016

Panwascam Meral Barat

Berilmu Hanya Usaha Mendekatkan Kepada Allah Swt


Allah swt. memerintahkan kepada umat manusia agar berpengetahuan luas supaya manusia dapat memanfaatkan potensi yang terkandung di dalam alam semesta yang telah Allah swt. sediakan kepada manusia.

Perintah Allah swt. supaya manusia berpengetahuan sangat jelas sekali di dalam Al-Qur’an surah Al-‘Alaq ayat pertama, yaitu, Iqra’ (bacalah). Bacalah apa yang perlu dibaca, bacalah dengan hati, pikiran, dan pengamatan. Dengan banyak membaca seseorang akan menjadi banyak tahu, dengan banyak tahu ia akan menjadi berilmu dan bahkan menjadi ilmuan.

Dalam sejarahnya, ayat Iqra’ tersebut turun kepada Muhammad saw. yaitu, kepada masyarakat yang masih belum banyak mengenal baca dan tulis, namun demikian, Muhammad saw. sudah mempunyai daya pikir serta analisa yang tajam atas berbagai kejadian serta fenomena yang ada di masyarakatnya.

Kecintaan Muhammad saw. akan ilmu serta supaya ummatnya menjadi ummat yang berpendidikan salah satunya ia tunjukkan dalam kasus perang badar. Dalam perang badar kaum muslimin memperoleh kemenangan yang besar. Pasukan yang berjumlah kecil yaitu kaum muslimin dengan jumlah 313 tentara dapat mengalahkan pasukan kaum musyrikin yang berjumlah besar, yaitu 1000 tentara pasukan perang.

Banyak dari tentara kaum musyrikin yang ditawan oleh pasukan kaum muslimin. Muhammad saw. sebagai komandan tertinggi pasukan kaum muslimin dengan budi pekertinya yang luhur serta sifatnya yang lembut memerintahkan kepada kaum muslimin agar memperlakukan tawanan secara manusiawi. Para tawanan yang mempunyai harta bisa bebas dengan menebus dirinya dengan hartanya. Bagi mereka yang tidak mempunyai harta juga bisa bebas dengan ilmunya, syaratnya mereka yang pandai membaca harus mengajarkan cara baca kepada anak-anak kaum muslimin, sedangkan mereka yang pandai menulis harus mengajarkan ilmu tulisnya kepada anak-anak kaum muslimin.

Kasus di atas merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dibantah. Muhammad saw. sangat menghargai orang-orang yang berilmu serta mencintai ilmu. Ia sangat bercita-cita agar ummatnya menjadi ummat yang berpendidikan. Begitu pentingnya ilmu dalam salah satu sabdanya ia mengatakan, man salaka thariqan yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalallohu lahu thariqon ilal jannah, barang siapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menggapai ilmu maka Allah mempermudah baginya jalan menuju ke surgaNya.

Ilmu dalam hal ini tidak terbatas kepada ilmu tertentu tetapi mencakup ilmu-ilmu apa saja, ilmu-ilmu eksakta atau noneksakta (ilmu-ilmu umum atau ilmu-ilmu agama). Kaum muslimin harus menguasai ilmu dalam berbagai bidang. Sebab kemajuan tidak akan bisa tercapai tanpa ilmu. Sejarah membuktikan kemajuan dan kejayaan Islam masa lalu karena kaum muslimin menguasai ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

Di dalam ajaran Islam, ilmu apapun itu haruslah berupa ilmu yang membawa kepada pendekatan diri kepada Allah swt. Seseorang harus insaf bahwa, potensi, minat, dan bakat merupakan karunia dari Allah swt. Maka ilmu apapun yang sudah dikuasainya haruslah dibawa kepada kesadaran akan ke-Maha Besaran dan kekuasaan Allah swt.

Dengan ilmu yang dikuasainya seseorang tidak boleh sombong dan angkuh. Kemudian meremehkan orang lain dan berbuat semena-mena di alam semesta, seperti membuat kerusakan demi keuntungan pribadi. Sekali lagi ia harus ingat bahwa, potensi, minat, dan bakat yang melekat dalam dirinya hanyalah pemberian Allah swt. semata-mata. Bahkan, ilmu itu sendiri adalah milik Allah swt., sedangkan manusia hanya sekedar memakainya saja.

Seperti inilah yang dikhawatirkan oleh Muhammad saw. Manusia dengan ilmunya menjadi angkuh dan sombong, mereka merasa bahwa ilmu yang ada pada dirinya merupakan hak miliknya, ia menganggap bahwa dengan ilmunya ia menganggap sudah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya serta mampu menjawab berbagai permasalahan dalam kehidupannya, ia telah melupakan Allah swt. Ia dengan ilmunya bukan menjadi dekat kepada Allah swt. tetapi malah semakin jauh dari Allah swt.

Sumber dari : Media Portal Pks (Dakwatuna.com)

Senin, 05 September 2016

Panwascam Meral Barat

Cerita Simbolik Mengenai Pengharaman Babi


Ada persamaan babi dan manusia. Yaitu bahwa ia tidak dapat dikuliti kecuali dengan memotong sebagian dari daging yang menyertainya, berbeda dengan binatang-binatang lain. Binatang yang satu ini sangat kotor, konon lalat saja enggan hinggap di dagingnya. Sifatnya yang buruk dan nafsunya sungguh begitu besar.

Memang, makanan dan minuman dapat mempengaruhi manusia. Pengaruhnya bagi fisik sudah tidak asing lagi. Bahkan ada minuman yang juga mempengaruhi manusia, minuman keras misalnya. Jiwa manusia akan berdampak buruk dengan memberinya semangat tanpa perhitungan untuk melakukan aktivitas. Karena itu banyak penjahat meminumnya sebelum beraksi.

Jika kita tidak menemukan jawaban yang memuaskan nalar kita menyangkut pandangan agama tentang babi, maka katakanlah bahwa pengharaman babi oleh agama islam -dan sebelumnya oleh agama Yahudi- adalah berdasar satu sistem dimana rincian sistem itu tidak harus selalu dipahami nalar.  Katakanlah ia seperti sistem lalu lintas.

Di Indonesia dan di Inggris misalnya, kemudi mobil diletakkan di sebelah kanan kendaraan berbeda dengan di Amerika, Jerman, atau Timur Tengah dan banyak negara lain selain itu. Mengapa demikian? Kita tidak harus memperoleh jawaban, tetapi bila kita berada di Indonesia atau Inggris, kita harus mematuhi ketentuan yang berlaku di kedua negara tersebut. Dan juga berada di negara Amerika, Jerman atau Timut Tengah dan lainnya. Nah, demikian juga bila kita menganut agama islam, kita harus mematuhi ketetapan Allah yang menggaramkan babi, baik kita ketahui atau tidak.

Di sisi lain, perlu di ingat kisah simbolik yang dikemukakan oleh Imam Ghazali.
Seseorang ayah berpesan kepada anaknya, agar setelah kematiannya ia boleh merenovasi rumah mereka, tetapi sang ayah melarangnya menebang sebuah pohon. Setelah kematian sang ayah, anak itu merenovasi rumah. Ketika itu dia berfikir tentang pohon yang dipesankan ayahnya. "Ayah melarangku menebangnya, karena aroma kembangnya yang harum. Kini ada pohon yang beraroma lebih harum yang belum diketahui ayahku." Lalu ia menebang pohon terlarang itu. Beberapa hari kemudian, muncul seekor ular yang menyerangnya yang berasal dari pohon yang telah ditebang tersebut. Ketika itu barulah sang anak sadar, bahwa aroma pohon yang ditebang, di samping sedap dihirup manusia, dia juga menangkal datangnya ular. Demikian, nalar sabg anak terbatas dan hanya mengetahui sebagian dari tujuan larangan ayahnya. Begitu ilustraaj Imam Ghazali.

Jika demikian, tak mengapalah kita tidak mengetahui rahasia larangan Allah, bukankah masih amat banyak makanan lain yang lebih lezat dan sehar yang dapat dimakan ?
Panwascam Meral Barat

Aneka Makhluk Allah


Beraneka ragam makhluk Allah di permukaan bumi ini di alam raya, dan bertingkat-tingkat keadaan mereka. Di bumi yang kita huni ini kita melihat batu serta mengenal manusia. Batu adalah benda keras dari kumpulan benda-benda kecil yakni mineral, bewarna warni dan memiliki kualitas yang berbeda-beda, sehingga dikenal istilah batu mulia dan batu bata. Demikian juga manusia, mereka bertingkat-tingkat kualitasnya, bahkan semua mahluk memiliki peringkat kualitas.

Makhluk-makhluk ciptaan ada yang bersifat bendawi dan ada pula yang tidak demikian. Makhluk yang bersifat bendawi bertingkat-tingkat juga dan sejalan dengan sifat terpuji (baik) yang disandangnya.
Tumbuhan lebih tinggi tingkatannya dari pada batu-batuan. Karena, yang ini merasa dan bergerak -bahkan boleh jadi tahu- sedang batu-batuan tidak demikian, paling tidak demikianlah pandangan kita sebagai manusia.

Baca artikel sensasional : Rokok Haram Atau Mubah

Selanjutnya mutiara, walau dapat dinilai benda tak hidup, tetapi dia memiliki sedikit kehidupan yang menjadikannya memperoleh peringkat tinggi dari bebatuan, walau tidak setinggi tumbuhan.
Pohon zaitun atau kurma memiliki peringkat lebih tinggi lagi. Ia di nilai kehidupannya mendekati kehidupan terendah binatang sebab memiliki keistimewaan.

Binatang pun bertingkat-tingkat. Ada yang melahirkan dan menyusukan anaknya dan ini lebih tinggi dari pada yang tidak demikian. Lalu ada yang dapat dididik dan ada yang tidak dapat. Yang dapat dididik betingkat-tingkar lagi, hingga mencapai tingkatnya yang tertinggi -seperti monyet misalnya- dan dari sana beralih tingkatan itu ke tingkat manusia.

Lalu, manusia juga bertingkat-tingkat. Tingkatannya antara lain ditentukan oleh pengetahuan, kepekaan dan geraknya. Semakin dalam, haus dan bebas geraknya, maka semakin tinggi tingkatannya. Pengetahuan menuntut tanggung jawab. Karena itu, semakin tinggi tanggung jawab seseorang semakin tinggi pula kedudukannya. Contohnya perbandingan orang dewasa dengan anak-anak.

Di sisi lain, siapa yang tidak bertanggung jawab -walau dewasa dan berpengetahuan, orang gila misalnya- maka tidaklah dia memiliki kedudukan yang tinggi. Demikianlah, sehingga pada akhirnya kita menemukan bahwa keberhasilan mempertanggung jawabkan tugas adalah poko tolok ukur kedudukan manusia. Karena itu, manusia dewasa dan waras tetapi tidak bertanggung jawab, kedudukannya sangat rendah, bahkan boleh jadi lebih rendah dari pada binatang.

Rasul saw. mengibaratkan manusia dengan batu (tambang). Ada tambang emas, ada perak, batu bara dan lain-lain. Semakin tinggi nilai dan kualitasnya semakin mulia ia. Nilai dan kualitas itu -bagi manusia- adalah penyerapan nilai-nilai agama serta penghayatan dan pengalamannya. Menurut ulama di abad 21 itu adalah Takwa dalam bahasa Al-Qur'an.

Demikian, Wa Allah A'lam

Rabu, 31 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Stand Up Comedy Atau Komedi Tunggal (Khazanah Bahasa)

    Tidak ada komentar:

Setiap malam di salah satu TV swasta kita bisa menjumpai acara yang beragam dengan menyuguhkan keunikannya masing-masing. Setelah penatnya bekerja hampir seharian rugi rasanya bila tidak menikmati malam santai bersama keluarga dengan menyaksikan acara hiburan tersebut, tontonan yang diberikan sepatutnya edukatif dan informatif, bukan acara lakon atau alay yang digandrungi oleh remaja-remaja seperti sekarang.

Menariknya, bagi kalangan pengamat dunia hiburan acara Stand Up Comedy adalah acara yang sukses, sehingga merambah sampai ke stasiun TV lain, yang sebelumnya hanya Kompas TV dan Metro TV yang menyiarkannya. Selama ini dari sisi jumlah penonton di 2 stasiun televisi tersebut bisa jadi ada di kelompok terbawah, dengan adanya acara ini di Indosiar yang juga satu grup dengan SCTV (yang belakangan klaim sebagai TV dengan penonton terbanyak di Indonesia) bisa memberikan tontonan yang positif ketimbang tayangan yang monoton.

Namun dengan kesuksesan acara Stand Up Comedy, ada yang aneh. Bukan acaranya, melainkan nama acaranya yang terasa agak ke barat-baratan. Bukankah negara kita adalah negara yang menjunjung tinggi bahasa persatuan Indonesia? dan sebaiknya bahasa yang semacam ini perlu di tinggalkan karena secara historis pendapat "kita belum merdeka dari dunia barat" layak untuk di sandingkan ke dalam acara Stand Up Comedy tersebut.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi IV, 1998), kita hanya mendapati “lawak” dan “komedi”, istilah yang sangat dikenal orang ramai. Tidak ada padaran untuk stand up comedy. Secara linguistik, pengalihbahasaan dari satu bahasa ke bahasa sasaran bisa dilakukan secara harfiah atau konseptual. Namun, kenyataannya, keduanya mati kutu apabila kata asalnya lebih sering digunakan di tengah khalayak. Boleh jadi, sihir media massa jauh lebih dahsyat dibanding dengan seruan bahwa bahasa baku itu perlu. Lihat, meskipun presenter tak tertera di dalam kamus, kata ini sering digunakan di Indonesia, sementara Malaysia menggunakan kata penyampai.

Hal serupa juga terjadi dalam Kamus Dewan negeri jiran. Kita tidak menemukan padanan kata majemuk di atas. Namun, seiring dengan makin populernya acara ini, komedian dan pegiat Malaysia menyebut dengan “Lawak Berdiri”, sedangkan di saluran sebelahnya dengan kata "Lawak Sorang-Sorang", yang merupakan sebutan untuk “seorang-seorang”.

Memang, kita akan sering menemukan pengalihbahasaan bahasa Malaysia terhadap kata asing secara harfiah, seperti “muat turun” (download) dan “muat naik” (upload). Sayangnya, meskipun kita menyebut “unduh”, sebutan itu jarang digunakan malah ditulis dan lisankan menjadi donload.

Sejatinya, kita mampu menghadirkan padanan bahasa asing dalam bahasa sendiri, tapi orang ramai lebih mengutamakan menggunakan bahasa asal. Pada banyak media, baik televisi maupun koran, kita akan sering mendengar kata presenter, sehingga khalayak terbiasa dengan penggunaan kata tersebut. Sementara itu, di layar kotak kaca, sang pembawa acara sering menanyakan password dalam acara kuis, alih-alih “sandi”. Padahal, di negara tetangga, Malaysia, Singapura  dan Brunei Darussalam, “kata laluan” sebagai padanan harfiah sering mendengar, sehingga pemirsa dengan mudah membayangkan password. Di sini, mungkin penelepon akan kebingunan ketika ditanya “sandi”. Karena ia mungkin membayangkan “sandi morse” yang di pelajari dalam kegiatan pramuka.

Jadi, kalau bahasa kita sejatinya bisa membayangkan alih bahasa, tugas semua pihak untuk menyebarkan dan menggunakannya dalam pelbagai kesempatan. Namun pelaku komedi tunggal yang di sebut comic tak mudah disebut “komikus” mengingat KBBI 1998 (terakhir) hanya menerangkan “orang yang ahli membuat komik cerita bergambar”.

Untuk itu, Badan Bahasa mempunyai tanggung jawab yang besar untuk melakukan terobosan-terobosan agar sebuah kata bisa digunakan dengan ringan tanpa merasa aneh mengungkapkannya. Bukan melukai amanat konstitusi bahwa bahasa baku itu perlu, tapi tertib berkata-kata itu perlu.

Akhirnya, dibandingkan dengan “jenakata”, “komedi tunggal” lebih mudah dipahami dan dibayangkan khalayak dan dijadikan kata sinonim agar kita bisa merawat khazanah sendiri. Namun ini tidak berarti menutup pintu bagi kata lain yang dianggap sebagai cerminan kekayaan bahasa Nusantara. Tak mudah mempopulerkan sebuah istilah tanpa ada usaha bersama dari semua pihak. Pada waktu yang sama, penggunaan kata serampangan, seperti launching, dalam banyak kesempatan, baik lisan maupun tulisan, telah menyebabkan matinya kata “peluncuran”. Padahal kata”peluncuran” di negeri jiran acap digunakan untuk menandai sebuah pergelaran acara. Lalu mengapa kita mesti risi menggunakan “komedi tunggal”? Bukankah istilah serupa, seperti “orgen tunggal” yang telah sering diungkapkan?
Panwascam Meral Barat

Rokok Haram Atau Mubah ?

    Tidak ada komentar:


Bila membahas rokok tiada habisnya untuk di ulas, apa lagi bersama masyarakat awam. Rasanya membahas tentang rokok adalah perilaku yang kolot jika argumentasi mereka tidak berlandaskan agama, hanya pengetahuan tentang sosial kehidupan yang mereka rasakan. Memang benar, setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah tentunya menimbulkan efek samping. Seperti kelangsungan perusahaan rokok akan terancam, pengangguran semakin banyak, dan nasib para petani tembakau yang tidak jelas kedepannya. Namun diluar itu ada lagi masalah besar yang harus kita ketengahkan, yakni urusan agama. Rokok bukan lagi harus dipandang sebagai sesuatu yang perlu di perhitungkan, sesungguhnya ia membawa mudarat, dalam konteks islam sesuatu yang haram harus (wajib) di tinggalkan. Tak peduli bagi mereka yang menentang, toh agama yang sudah berbicara melalui ulama atas rekomendasi pakar. Masih juga memikirkan kesejahteraan? Masyarakat pengangguran? Sebaiknya itu di nomor duakan, karena bisa dilakukan kebijakan baru dengan mengkaitkan beberapa opsi, tetapi tidak rasanya untuk urusan agama yang satu ini.

Dari diskusi bersama teman-teman mahasiswa Karimun, saya pun tergerak untuk mengangkatnya ke dalam blog ini. Tujuannya bukan untuk mendiskriminasi namun lebih ke pada berdakwah, dan saya merasa dalam menyampaikan kebaikan itu perlu, apa lagi menyangkut keberlangsungan umat -generasi penerus bangsa.

Rokok berasal dari pohon Tobaco yang ditemukan pada tahun 1518 M di Meksiko, para pakar yang menemukannya membawa benih pohon ini ke Eropa dan dari sana ia tersebar ke seluruh dunia. Mereka menamainya tobacco sesuai dengan nama tempat di mana ia ditemukan dan inilah yang kemudian kita Indonesiakan dengan kata tembakau (rokok).

Rokok adalah sesuatu yang relatif baru, karena itu tidak ditemukan pandangan jelas dan tegas dari pada ulama masa lampau. Namun demikian, melalui pemahaman tentang “Tujuan Agama” kita dapat mengetahui hukum merokok dan persoalan-persoalan baru lainnya. Menurut pakar Tafsir Al-qur’an terkemuka di Indonesia, M. Quraish Shihab. Yang tertera pada judul buku “Dia Dimana-mana” dengan membahas tentang  “Pohon Terlarang (rokok)”. Beliau menjelaskan, tujuan tuntunan agama adalah memelihara lima hal pokok yaitu Ajaran Agama, Jiwa, Akal, Harta dan Keturunan. Setiap aktivitas yang menunjang salah satunya, maka pada prinsipnya dibenarkan dan ditoleransi oleh islam, dan sebaiknyapun demikian.

Di tambahnya lagi. Pembenaran itu bisa mengambil hukum wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Pandangan Islam tentang merokok dalam kategori apa ia ditempatkan dari kelima tingkatan hukum di atas, ditentukan oleh sifat rokok serta dampak-dampaknya bagi kelima tujuan pokok agama. Sebagian ulama terdahulu cenderung menilai rokok sebagai sesuatu yang mubah. Ini disebabkan karena mereka tidak atau belum mengetahui dampak negatif merokok.

Ulama-ulama kontemporer banyak merujuk kepada para pakar untuk mengetahui unsur-unsur rokok, serta dampaknya terhadap manusia. Atas dasar informasi itu, mereka menetapkan hukumnya. Al-marhum Syekh Mahmud Syaltut, Pemimpin Tertinggi Al-Azhar di tahun enam puluhan, menilai pendapat yang menyatakan merokok adalah makruh, bahkan haram, lebih dekat kepada kebenaran dan lebih kuat argumentasinya.

Ada tiga alasan pokok yang dijadikan pegangan untuk ketetapan hukum ini.
Pertama, sabda Nabi saw. Yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dan Ummu Salamah bahwa : “Rasul saw. Melarang segala sesuatu yang memabukkan dan melemaskan (menurunkan semangat)” (HR. Ahmad dan Abu Daud melalui Ummu Salamah ra.)

Seperti diketahui, seorang perokok akan kecanduan dengan rokok, yang terlihat dengan jelasa saat ia tidak memilikinya.

Kedua, merokok dinilai oleh banyak ulama sebagai salah satu bentuk pemborosan. Hal ini bukan hanya oleh orang perorang yang membeli sebatang dua batang, tetapi justru pabrik-pabrik rokok, yang mengeluarkan biaya tidak kecil untuk mempropagandakan sesuatu yang tidak bermanfaat kalau enggan berkata membahayakan. Agama melarang segala bentuk pemborosan, jangankan dalam hal buruk, atau tidak bermanfaat, dalam hal yang baik pun dilarangnya. “Tiada pemborosan dalam kebaikan dan tiada kebaikan dalam pemborosan” Demikian sabda Nabi Muhammad saw.

Ketiga, dampaknya terhadap kesehatan. Mayoritas dokter bahkan negara telah mengakui dampak buruk ini, sehingga seandainya tidak ada teks keagamaan (ayat atau hadist Rasul saw.) yang pasti menyangkut larangan merokok, maka dari segi “Tujuan Agama” sudah cukup sebagai argumentasi larangannya.

Ulasan : Perubahan Tubuh Seseorang Setelah Berhenti Merokok

Wahai teman-teman sekalian! Jangan berkata bahwa merokok adalah persoalan pribadi.
Tidak! Perokok pasif secara sengaja atau tidak, asap rokok orang lain dapat menanggung bahaya yang tidak kurang besarnya, bahkan lebih besar dari si perokok itu sendiri. Karena itu, hindarilah merokok, sebab jika tidak, memikul dosa dua kali. Pertama mengganggu orang lain, dan sebelumnya Anda menganiaya diri Anda sendiri. Di sisi lain, yang tidak merokok hindari perokok, karen itu berarti Anda menghindari bahaya, sekaligus meneguir secara tidak langsung si perokok, dan menyampaikan secara halus kepadanya bahwa Anda enggan bergaul dekat dengannya.

Kamis, 25 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Tidak Eksisnya Tuhan Berarti Keadilan Untuk Seluruh Manusia Di Dunia

    Tidak ada komentar:

Bagi manusia yang beragama ungkapan bahwa Tuhan itu maha adil sudah menjadi salah satu roh dalam berkehidupan mereka, mencari jodoh, rezeki, maupun nilai kuliah semua berpatokan dengan ungkapan “ah Tuhan itu pasti adil”. Kemudian korelasi dengan perkataan “tiada hasil yang mengkhianati usaha” yang telah menjadi hits dalam status di media sosial anak ABG kini kian menjadi suatu tolak ukur yang baik untuk menilai rasa adil Tuhan, selalu bersemangat menjalani hidup baik susah maupun senang. Itu la Adil sebuah kata yang berarti sama (tidak dibeda-bedakan).

Di salah satu artikel, saya pernah mengungkit rasa keadilan yang diberikan oleh Tuhan jauh melebihi dari hakim (manusia).  Mengingat manusia adalah tempat salah dan khilaf yang artinya tidak ada yang namanya sempurna di mata Tuhan karena hanya-Nyalah yang patut kita berikan kata sempurna. Nabi-nabi besar sekali pun di setiap agama tidak pantas dikatakan sempurna di hadapan-Nya, namun tidak menutup kemungkinan di mata kita.

Kembali ke rasa adil, mencermati keadilan di dunia ini indah rasanya bila kita menyinggung keadilan yang diberikan oleh Tuhan. Dalam konteks agama ingin saya katakan. Adilkah tuhan bila berwujud? lalu bagaimana dengan manusia yang buta, apakah ia bisa melihat sebagaimana temannya yang dapat melihat Tuhan? Ada 4 indera berada di tubuh manusia –Indra perasa tidak termasuk- yang semuanya sampai zaman modern ini tidak dapat manusia kembangkan menjadi alat untuk melihat, mendengar, mencium dan meraba zat-Nya. Bayangkan saja bila dari manusia diciptakannya terdapat yang tidak memiliki salah satu dari indra tersebut? Sangat logika jika tujuan Tuhan tidak ingin eksis adalah untuk mengisyaratkan bahwa maha adil yang dimiliki-Nya adalah keadilan yang paling Agung (Tinggi dari segala keadilan yang ada di dunia).

Kamis, 18 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

4 TIingkatan Cinta Menurut Imam Al - Ghazali

    Tidak ada komentar:

Apa itu Cinta.....?
Mungkin sebagian dari para pembaca blog irudnews.blogspot.com sudah pernah merasakan Mencintai atau Dicintai.

Menurut Imam al Ghazali, ada empat tingkatan Cinta

Pertama: Ada orang yang hanya mencintai diri sendiri, cinta diri. Segala ukuran kebaikan hanya diukur dengan kepentingan dirinya. Ini adalah cinta yang paling rendah kualitasnya.

Kedua: Ada orang yang mencintai orang lain sepanjang orang itu membawa keuntungan bagi dirinya. Jika keuntungan dari cinta itu sudah tidak ada maka cintanya putus. Cinta tingkat ini adalah cinta pedagang, cinta transaksional.

Ketiga: Ada orang yang mencintai orang baik, meski ia tidak diuntungkan (baca, tidak diterima) sedikitpun dari orang yang dicintainya itu. Cinta tingkat ini sudah termasuk cinta yang agung.

Keempat: Ada orang yang mencintai kebaikan murni terlepas dari siapapun yang memiliki kebaikan itu. Cinta tingkat ini adalah yang tertinggi, dan merekalah yang dapat mencintai Allah, karena Allah itu adalah kebaikan.


Sahabatku yang ingin segera menikah, jadikanlah sakinah mawaddah warahmah sebagai motiv cinta untuk menemukan jodoh kalian, cinta yang membawa ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga hanya dengan mengharap keridhaan Allah. Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar dan memohon kepda Allah maka Allah akan mengirimkan jodoh yg terbaik untuk kalian.

Kamis, 21 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Game Pokemon Mewabah Di Indonesia

    Tidak ada komentar:

Khotbah pada jumat (22-july-2016) terasa amat berbeda, tak seperti biasanya tema yang di angkat sang khatib hari ini. Ternyata bukan khatib yang selalu berada di mimbar masjid al-musahadah, batu lipai. Beliau hanya sekali ini tampak pada khotbah jumat.

Khatib yang tampak umur 60-an tersebut membahas mewabahnya video game pokemon ke indonesia. Sang khatib mengkhawatirkan hal ini akan mengancam demam yang tak berkesudahan. Dalam khotbahnya ia mengatakan, Kita jangan menyepelekan sesuatu yang kita sadar itu tidak baik, kalau sudah keterlaluan bagaimana dengan anak kita/generasi berikutnya. Tentu akan mengindahkan segala bentuk ibadah kecuali kebiasan yang satu ini.

Di arab saudi saja, sudah mengharamkan video game ini. Disana adalah tempat ulama-ulama berkumpul, mereka sudah paham betul akan dampak ini. Ujar khatib dengan lugas.

Cara penyampain beliau dengan tegasnya yang tidak la lazim, penuh semangat dan begitu idealis dalam memperjuangkan akidah sebagai umat islam. Memhuat para jamaah tersontak saat tiba-tiba saja game pokemon menjadi topiknya.

Untungnya jamaah sholat terdapat juga kaum pemuda, jadi penyampaiannya terasa bermakna walau golongan tua terlihat jenuh dan mulai monoton. Materi semacam ini menjadikan mereka kaum pemuda cukup antusias untuk mendengarkan khotbah jumat.

Semoga para khatib-khatib yang lain terus saja menyeruakan apa yang sedang terjadi -fenomena- sekarang. Bukan dengan membahas ilmu agama yang pada umumnya di pelajari pada tingkat sekolah dasar. Dan ekspekti kita bersama ingin adanya sebuah terobosan dari generasi baru, yakni pemuda-pemuda yang siap menyambungkan tradisi agama. Sebagai khatib yang selalu menginspirasi umat.

Minggu, 10 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Pacaran ? Nabi Muhammad Juga Mengalaminya (Tetapi Secara Islami)

    Tidak ada komentar:

Sejumlah orang masih belum mengerti mengenai pacaran dalam Islam. Mereka menyangka: “Islam hanya mengenal ta’aruf sebelum pernikahan.” Lantas untuk menolak islamisasi pacaran, mereka pun mengajukan pertanyaan: “Apakah pernah Siti Khadijah pernah pacaran dengan Nabi Muhammad SAW sebelum menikah? Apakah pernah salah satu sahabat Rasullah SAW pernah pacaran sebelum menikah? Bukankah pacaran itu merupakan produk Barat?”

Tri Minarni
Berikut adalah tanggapan dan jawaban saya :
Pacaran bukanlah produk Barat. Pada zaman Nabi Muhammad SAW pun sudah terdapat budaya “pacaran” (dalam arti “saling ekspresikan cinta”). Beliau tidak melarangnya, tetapi justru merestuinya. 


Tidaklah benar bahwa Islam mensyariatkan “ta’aruf sebelum pernikahan”. Yang disyariatkan adalah tanazhur, yang kami sebut sebagai pacaran islami. 
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pun pernah “pacaran” (dalam arti “bercinta pra-khitbah“) sebelum menikah. Metode “pacaran” yang mereka gunakan adalah tanazhur (saling menaruh perhatian). 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku telah diberi karunia dengan cintanya Khadijah kepadaku.” (HR Muslim, Bab “Keutamaan Khadijah”)

Ibnu al-Atsir menceritakan dalam Tarikh-nya bahwa setelah mendengar kabar tentang sifat-sifat Muhammad SAW, Siti Khadijah menawarkan kesempatan kepada beliau untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Tawaran ini diterima dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar (daripada bila dibawa oleh orang lain). Lantas, Ibnu al-Atsir mengungkapkan “Siti Khadijah sangat gembira menerima keuntungan yang besar itu, tetapi kekagumannya kepada orang yang telah diujinya itu jauh lebih mendalam.” (Kekaguman yang mendalam inilah yang kita kenal sebagai rasa CINTA. Sedangkan ekspresinya kita sebut sebagai “bercinta“.)

Kamis, 07 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Apa Itu Islam Moderat ?

    Tidak ada komentar:
Paham Islam yang Moderat pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan paham Islam-Liberal, Islam-Nusantara, dan paham lain yang mencoba menggandengkan istilah Islam dengan istilah yang asing dengan Islam. Bahkan istilah tersebut bertolak belakang secara diametral dengan Islam. Hakikat dari semua paham ini sesungguhnya  mencoba adalah memalingkan umat Islam dari pemahaman Islam yang sesungguhnya.
Selain untuk memalingkan pada pemahaman Islam yang sesungguhnya, umat juga dihantui dan didikotomikan dengan paham Islam radikal (menurut versi Barat) dan paham Islam-terorisme.  Semua upaya ini memiliki tujuan satu, menjauhkan umat Islam dari hakikat Islam yang akan sesungguhnya, yang akan membawa rahmat lil alamin  dengan penerapan Syari’ah dan Khilafah.
Ide Islam yang Moderat  sesungguhnya bukan pemahaman orisinil dari Islam dan  tidak memiliki historis keilmuan di kalangan fuqaha (ahli fikih). Mereka yang menggagas ide ini hanyalah orang-orang plagiat  yang terpengaruh dengan pemikiran Liberal Barat.
Tahun 1998, Hizbut Tahrir dalam kutayyib (buku kecil) dengan judul “Mafahim Khathirah li Dharbil Islam  wa tarkiizil Hadharatil Gharbiyyah”  (Pemahaman-pemahaman berbahaya untuk memukul Islam, dan menancapkan peradaban Barat), menjelaskan  akar persoalan dan kebatilah ide Islam moderat ini.
Istilah moderat (jalan tengah) adalah istilah asing yang bersumber dari trauma Barat atas agama –Kristen–. Ide ini sebagai jalan tengah konfrontasi berdarah antara kubu gereja dan pemikir (filosof).
Pihak Kristen (gereja) memandang bahwa agama –kristen– layak untuk mengatur seluruh urusan kehidupan, sementara pihak filosof memandang bahwa agama Kristen tidak layak turut campur mengatur urusan kehidupan. Bahkan dengan ekstrim para pemikir/filosof ini meyakini bahwa turut campurnya gereja dalam urusan kehidupan justru sebagai penyebab kehinaan dan ketinggalan Barat. Hanya akal manusialah yang mampu menciptakan peraturan yang layak untuk mengatur segala urusan kehidupan.
Hasil dari pertarungan sengit ini adalah kompromi, moderat, yakni jalan tengah. Artinya mengakui eksistensi agama Kristen untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhan, tetapi agama Kristen (Tuhan) tidak diberi hak untuk turut campur dalam kehidupan.  Pengaturan urusan kehidupan sepenuhnya diserahkan kepada akal manusia.
Atas dasar pemahaman ini Barat kemudian menjadikan ide pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) sebagai akidah bagi ideologi mereka. Dan atas ideologi (sekuler) ini pula Barat kemudian bangkit dan menyebarluaskan paham ideologinya –termasuk paham moderat dalam beragama– melalui jalan penjajahan (imperialisme).
Barat kemudian melakukan legitimasi atas sikap moderat ini. Mereka membuat kesimpulan filosofis bahwa segala sesuatu itu memiliki dua ujung dan titik tengah. Titik tengah adalah daerah aman, dan kedua ujung selalu dipahami dengan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan kerusakan. Dari pola berpikir seperti ini, mereka juga menganggap pemahaman radikal dalam beragama adalah sesuatu yang berbahaya.
Celakanya, filosofi  ini  kemudian dianalogkan juga ke agama Islam. Padahal antara agama Islam dan agama Kristen memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Umat Islam akan maju, memiliki identitasnya, dan bangkit saat memegang teguh dengan pemahaman radikal (kuat dan berakar) atas agamanya. Berbeda dengan Barat yang maju dengan melepaskan agama –Kristen– nya (prinsip sekuler).
Oleh muslim pengikut Barat,  titik tengah atau jalan tengah (moderat) ini dipahami memiliki keistimewaan-keistimewaan.  Maka tidak aneh jika kemudian sikap moderat dijadikan solusi dalam ajaran agama Islam.  Mereka juga menyimpulkan beberapa premis bahwa Islam adalah pertengahan antara keyakinan dan peribadatan, Islam itu adalah antara hukum dan akhlak, dan yang lainnya.
Berikutnya dicari  ayat Al Qur’an untuk  melegitimasi pendapat ini. Semisal mamaknai dengan gegabah ayat Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 143.
(وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ٌ)
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.”
Atas ayat di atas, mereka menyatakan bahwa kedudukan pertengahan umat Islam diambil dari metode (manhaj) dan peraturan hidup (nizham) umat yang bersikap tengah-tengah. Di dalamnya tidak ada sikap berlebih-lebihan ala Yahudi atau sikap meremehkan ala Nasrani. Mereka mengatakan bahwa kata “wasath” artinya adalah adil. Adil menurut sangkaan mereka, adalah pertengahan antara dua ujung yang saling bertentangan. Dengan demikian mereka mengartikan adil dalam konteks “perdamaian” (shulhu) demi mendukung prinsip jalan tengah (moderat).
Padahal makna yan sahih untuk ayat itu adalah bahwa umat Islam itu merupakan umat yang adil.  Sementara itu keadilan (al ‘adalah) adalah termasuk salah satu syarat seorang saksi dalam Islam.  Dengan kata lain, ayat di atas mengandung makna bahwa umat Islam kelak akan menjadi saksi yang adil bagi umat lain (di hari kiamat) karena umat Islam telah menyampaikan risalah Islam kepada mereka.
Jadi dalam Islam sesungguhnya tidak ada yang namanya kompromi (moderat) atau jalan tengah. Sebab Allah SWT –yang menciptakan manusia dan mengetahui hakikat yang tidak mungkin diketahui oleh manusia– adalah Zat yang satu-satunya mampu mengatur kehidupan manusia secara cermat dan teliti yang tidak mungkin dicapai oleh manusia.
Hukum-hukum Allah datang dengan batas-batas yang tegas, dan tidak ada kesan sedikitpun bahwa di dalamnya ada kompromi atau jalan tengah.  Sebab memang tidak ada kompromi atau jalan tengah dalam nash-nash atau hukum Islam. Bahkan sebaliknya, berbagai nash dan hukum Islam sangatlah teliti, rinci, terang, dan jelas batasan-batasannya. Al Qur’an menyebutnya dengan istilah (hudud/batasan) Allah. Firman Allah.
(وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ)
“itulah hukum-hukum Allah; diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui” (Al Baqarah 230).
Karenanya, ide Islam yang moderat, kompromi atau jalan tengah adalah ide yang sangat asing dalam pandangan dan sejarah intelektual Islam.
Ide seperti ini disusupkan ke dalam ajaran Islam oleh orang-orang Barat dan agennya dari kalangan kaum muslimin. Mereka memasukkan ide ini atas nama keadilan dan toleransi. Tujuanya adalah untuk menyimpangkan dan menjauhkan kaum muslimin dari ketentuan dan hukum Islam yang jelas batasannya.
Sekaligus juga ide Islam Moderat ini akan berupaya menjauhkan Umat dari upaya penerapan Islam yang akan memberi rahmat seluruh alam, yakni dengan pelaksanaan syari’ah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj Nubuwwah.