Featured

Beauty

Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2016

Panwascam Meral Barat

7 Hal Penting Sebelum Presentasi

    Tidak ada komentar:

Presentasi adalah salah satu cara menyampaikan informasi kepada orang lain secara menarik dan informatif. Presentasi sangat penting, apalagi bagi seseorang mahasiswa. Mengapa demikian? Karena setiap mahasiswa harus bisa memaparkan setiap gagasannya di depan dosen atau pun di depan orang banyak. Agar semua materi dapat tersalurkan dengan baik dan mendapat perhatian dari para peserta, maka  kita perlu melakukan berbagai persiapan agar hasil yang kita harapkan tercapai. Berikut ini merupakan beberapa metode  yang perlu dipersiapkan sebelum presentasi, khususnya bagi mahasiswa Universitas Karimun:

1. Tentukan tujuan anda presentasi
Setiap presentasi pasti memiliki sebuah tujuan yang menjadi arah bagaimana anda akan memberikan presentasi tersebut. Secara umum tujuan dari presentasi adalah untuk memberitahu dan membujuk peserta/audiens untuk melakukan sesuatu. Jika sebuah presentasi bertujuan untuk menginformasikan sesuatu maka susun materi dengan detail dan informatif sehingga audiens yang sama sekali belum tahu persoalan menjadi mengerti dan paham. Tetapi, apabila presentasi tersebut bertujuan membujuk maka presentasi harus menyajikan sesuatu hal yang memiliki sisi emosi untuk mengubah sikap audiens dan mengajak mereka melakukan sesuatu seperti menyetujui ideaAnda, dan lain sebagainya.

2. Kenali audiens
Dengan mengenali para peserta kita akan mengetahui bagaimana penyajian presentasi yang tepat dan tahu bagaimana cara pendekatan dengan mereka. Mungkin yang hadir adalah seorang penting yang sangat senang dengan grafik dan angka. Maka penyajian grafik yang baik dan penjelasan di balik apa yang terjadi pada angka-angka akan menjadi nilai tambah. Sebaliknya bisa jadi orang yang ingin anda beri tahu dalam presentasi memiliki tipe visual, sangat senang dengan gambar, diagram dan contoh-contoh nyata. Untuk orang seperti ini anda pun dapat menyesuaikan slide presentasi dengan gambar yang dibutuhkan.

3. Tentukan topik presentasi
Apa topik yang akan saya sampaikan? Apakah topik ini dibutuhkan oleh teman-teman anda yang menjadi peserta? Itulah beberapa pertanyaan yang perlu anda tanyakan pada diri anda sebelum menentukan topik presentasi. Dengan begitu anda akan mudah menemukan topik dengan tepat dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Usahakan topik nda menarik dan menggugah peserta untuk mendengarkan.

4. Susunlah kerangka presentasi
Dalam menyusun kerangka presentasi, alangkah baiknya jika kita membuat pemetaan ide. Pemetaan ide dapat menggambarkan pokok-pokok pikiran yang penting atau keyword dari hal-hal yang akan anda jelaskan dalam presentasi. Hal ini dapat mempermudah anda dalam merangkai setiap materi presentasi secara urut dan memberikan gambaran lengkap dari presentasi dan poin-poin penting yang harus disampaikan.

5. Buatlah materi presentasi
Dalam membuat materi presentasi, pilihlah sumber yang dapat dipercaya serta perhatikan pula kesesuaian isi materi yang anda susun dengan apa yang dibutuhkan oleh peserta seminar dan tidak asal-asalan. Anda bisa mendapatkan materi dari pengalaman pribadi, buku, jurnal, hasil penelitian, majalah, internet atau koran. Presentasi sebaiknya menggunakan kalimat yang ringkas sehingga kemudian Anda bisa menjelaskan dengan memberikan rangkaian materi.

Dua hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam membuat materi adalah bagian pembuka dan penutup. Karena pada bagian ini merupakan kesempatan Anda meraih perhatian dari para peserta seminar. Untuk bagian pembuka, jika perlu ingat bagian pembukaan yang Anda persiapkan berupa pernyataan, kutipan, pertanyaan, kisah atau bahkan sebuah humor. Pembukaan yang baik dan lancar akan menciptakan rasa percaya diri untuk kelanjutan presentasi. Pada bagian penutup, berikan kesimpulan yang akan diingat terus oleh audiens.

6. Tambahkan bantuan-bantuan visual
Salah satu alat bantu visual adalah slide presentasi. Buatlah slide presentasi lebih menarik. Dalam membuat slide ada beberapa prinsip yang harus Anda pahami, yaitu sebagai berikut :

• Sederhana
• Konten yang kuat
• Font yang indah
• Gambar yang menarik dan sesuai
• Penggunaan warna yang tepat
• Mematuhi prinsip CRAP, yaitu Contrast, Repetition, Alignment dan Proximity.

Prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam menyiapkan slide adalah gunakan hanya poin-poin utama dan penting. Jangan membuat slide yang terlalu detail dan berisi seluruh hal yang anda akan ucapkan. Jika itu dilakukan, peserta akan membaca slide dan mereka tidak perlu lagi mendengarkan kata-kata Anda lagi.

Beberapa tips dalam pembuatan slide adalah tidak terlalu banyak teks dalam suatu slide. Gunakan gambar, diagram dan tabel untuk membantu menjelaskan suatu konsep, data dan fakta. Jangan membuat slide yang terlalu kompleks karena akan sulit dicerna dalam waktu singkat oleh peserta dan cenderung membuat peserta lelah sehingga tidak fokus pada apa yang anda sampaikan.

7. Latihan P\presentasi
Latihan terbaik dapat dilakukan dengan mengundang beberapa teman untuk mendengarkan presentasi anda. Minta mereka untuk memberikan komentar terhadap materi yang disampaikan, cara penyampaian dan hal-hal apa yang perlu diperbaiki.

Latihan ini akan membantu anda mengetahui sejak dini apakah anda sudah cukup siap dan menguasai materi presentasi atau masih ada hal-hal lain yang perlu diperbaiki. Semua pembicara handal selalu melakukan latihan sebelum melakukan presentasi. Dengan latihan yang baik anda akan lebih percaya diri, mampu menyesuaikan materi dengan waktu, dan anda akan menemukan cara terbaik dalam menyampaikan presentasi.

Minggu, 30 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

3 Macam Sifat Mahasiswa Karimun

    Tidak ada komentar:

Saya bedakan mahasiswa dalam tiga tipologi, yaitu: Mahasiswa Aktifis, Hedonis, dan Akademisi. Berangkat dari aneka latar belakang sosial, kemandirian ekonomi, pendidikan dan kekayaan intelektual, dan ragam budaya yang berbeda-beda, secara alamiah akan membentuk watak dan kepribadian para mahasiswa baru. Namun, setelah menjajakan kaki diranah kampus yang dikenal dengan tradisi pendidikan yang kuat, idiologi yang mengakar, serta kritis, setidaknya sedikit menghentak kesiapan mahasiswa baru dilingkungan anyar mereka ini. Kebiasaan mereka di rumah, akan terkikis perlahan-lahan sebab mereka telah menemukan ruang baru dengan berbagai dinamika ke aku-an.

Ibarat peta, ragam dinamika kampus akan menuntun dan menawarkan pilihan bagi mahasiswa, mencari apa dan hendak kemana adalah mutlak bagi mereka. Dari tiga tipologi mahasiswa itu, mahasiswa akan bermetamorfosa sesuai dengan yang diinginkan, tumbuh berkembang menjadi aku-nya. Tak ayal, pilihan menjadi aktifis, hedonis, dan akademisi adalah warna tersendiri. Lalu, bagaimana gambaran dari tiga tipologi mahasiswa tersebut:

Mahasiswa Aktifis:
“Tidak aktif tidak asyik,” naluri mahasiswa adalah kritis terhadap lingkungan sosial, politik, budaya, dan ekonomi disekitar mereka, peka terhadap gejala-gejala yang timbul di lingkungan masyarakat dan negara. Tak dimungkiri, mahasiswa dengan tipologi ini rela bermandikan keringat hanya untuk berdemonstrasi menolak kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat, melayangkan berbagai tulisan dan kritik lainnya, melakukan bakti sosial di masyarakat dan bejubel kegiatan lainnya. Sekilas, ini tipe ideal. Tapi mahasiswa aktifis, harus pintar membagi waktu dan mengatur jadwal kegiatannya supaya tak bergeser dari pesan Mama “Nak kuliah yang benar, cepat selesai dan baktilah pada masyarakat” alias aktif bisa, belajar harus.

Dari corak pemikiran mahasiswa aktifis, memang cenderung berapi-api, orasi berkoar-koar dan sangat bergairah. Apalagi jika lingkungan kampus juga sarat politik, maka mahasiswa aktifis berada dijalurnya, mereka tak hanya belajar teori tapi juga merangsek lebih dalam diruang praktik, ruang publik. Tapi, tak ada yang sempurna, realita yang saya saksiskan di lingkungan kampus sendiri, banyak mahasiswa aktifis yang senang berlama-lama kuliah, mengejar impian politik dan jabatan lainnya yang dianggap prestisius.

Fenomena lainnya, mahasiswa aktifis juga tak bersih dimata mahasiswa dan lingkungan sosialnya. terkadang, idiologi mereka juga sudah ditumpangi kepentingan elite politik dan kepentingan pribadi. Tak jarang, setelah mendapat posisi di kampus, tak ada aplikasi riil kegiatan yang mengakomodir kepentingan mahasiswa di kampus. Entahlah, dibalik lantangnya orasi dan semangat mengkritisi, ternyata masih banyak kesan negatif lainnya yang melekat pada sosok mahasiswa aktifis ini.

Mahasiswa Hedonis:
Salah satu tipe paling unik adalah tipe mahasiswa hedonis. Jangan salah kaprah, mahasiswa hedonis tak semuanya borju, yang pas-pasan kekuatan ekonominya pun ada yang buruk dalam golongan ini. “Orang Kaya sombong, wajar. Lah kalau orang miskin?” begitulah kira-kira banyak orang mengomentari mahasiswa tipologi ini. Selain itu, istilah lain dalam tren tipe hedonis adalah kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), kunang-kunang (kuliah nagkring-kuliah nangkring), juga tak sedikit dari mereka yang menjadi shopaholic, hampir setiap tempat sudah di jambangi, untuk beli ini beli itu. Mulai dari Indo PN, Hawaii, pasar malam dan lain-lain

Memang tipe hedonis terlanjur dianggap jauh dari tradisi kampus, tapi inilah realitanya. Kebanyakan mahasiswa hedonis, kuliah hanya sekedar singgahan, tak peduli berapa banyak matakuliah yang mereka tinggalkan demi nongkrong bersama teman. Namun sekilas pengamatan saya, rata-rata mahasiswa hedonis berkeperibadian terbuka dan ekstrofet. Mereka cukup kreatif dalam hal tertentu, hobi otomotif, stylish, dan melek teknologi. Tak heran, selain dapat sokongan dana dari orang tua, mereka juga pandai mendulang uang.

Yaa, selalu ada kelebihan dibalik kekurangan. Secara prestasi akademik, tipe satu ini jauh dibawah mahasiswa aktifis dan akademisi tapi tingkat kreatifitas mereka boleh diadu, mungkin bisa satu level diatas kedua tipe lainnya.

Mahasiswa Akademisi:
Tak perlu membayangkan tipe mahasiswa satu ini. Tenang saja, tak semua kutubukuberkacamata dan culun. Di zaman serba maju ini, mahasiswa akademisi juga pandai memoles citra, mulai dari cara berbicara yang elegan, ilmiah dan cerdik, mereka juga cukup rapi. yaa seperti ungkapan “anda takkan bisa membuat kesan pertama untuk kedua kalinya,” jadi, kaum akademisi cenderung hati-hati dalam menciptakan tradisi, kesan terpelajar sudah tentu menjadi backgound mereka.

Mahasiswa akademisi lebih sering ke perpustakaan dari pada ke pasar swalayan, sering menggonta-ganti buku daripada ganti handphone, dll. Soal akademik, itu wilayah mereka, membaca buku dan mengelaborasi berbagai ilmu untuk suatu penemuan sudah menjadi ruh. Bergabung dalam kelompok diskusi ilmiah adalah wadah kegiatan mereka dimana pelbagai persoalan akademik akan tumpah-ruah disitu, diulas dengan tepat, dikritik secara tajam, dibincangkan, sampai diperdebatkan pun menjadi fenomena yang lazim.

Selalu ada target dari mata kuliah yang dipelajari pada setiap semester, idealnya mereka ingin mendapat nilai baik. Hitam di atas putih adalah keniscayaan, artinya; gemilang di forum harus dibuktikan dengan nilai ijazah yang baik. Intinya, khazanah kampus kental terasa dilingkungan mahasiswa akademisi.

Dari semua tipologi mahasiswa diatas, tak ada yang 100% sempurna, selalu ada celah untuk menjadi kalah. Mahasiswa aktifis lama dikampus, mahasiswa hedonis disorientasi pendidikan, mahasiswa akademisi cenderung ekslusif. Tapi kiranya, menjadi bagian dari tiga tipologi ini harus dinikmati, ditingkatkan nilai positifnya dari setiap tipe dan posisi. Hendak menjadi apa dikampus adalah hak perogratif anda. Satu pesan saya. Jadilah pemain bola atau jadilah apa kata hatimu.

Kamis, 29 September 2016

Panwascam Meral Barat

8 Hal Yang Harus Di Ketahui Bagi Mahasiswa


Kuliah itu seperti apa ya? Yang pasti kehidupan perkuliahan tentu saja jauh berbeda dengan kehidupan sewaktu SMU. Mulai dari gaya dosen menyampaikan pelajaran, menyelesaikan tugas, berpartisipasi dalam kelas dan mencari teman baru, semua adalah pengalaman baru bagi seorang pelajar yang baru memulai langkahnya sebagai seorang mahasiswa.

Ada beberapa keahlian yang perlu dimiliki mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan universitas. Terkadang ada yang sudah memiliki keahlian-keahlian ini tetapi belum memiliki kesempatan untuk menunjukkannya sehingga tidak sadar dengan potensi diri sendiri. Ada juga sebagian yang sembari menjalani kehidupan universitas berkesempatan untuk mengasah keahlian tersebut. Ya, masa kuliah memang adalah masa yang tepat untuk mencari dan membentuk jati diri kita sendiri.

Jadi apa saja keahlian yang penting untuk dimiliki seorang mahasiswa agar dapat mencapai yang terbaik di masa kuliah?

1. Fleksibel
Berpikiran terbuka itu penting. Semasa kuliah, apalagi di luar negeri, tentunya kita akan melihat banyak perbedaan pendapat dan kebiasaan hidup. Itu adalah hal yang wajar, karena latar belakang yang berbeda tentu saja akan mempengaruhi cara pikir dan kebiasaan hidup seseorang. Mengganggap perbedaan itu adalah sesuatu yang salah bukanlah langkah yang tepat. Akan lebih baik memanfaatkan kesempatan unik ini untuk mengenal kebudayaan dan kebiasaan rekan-rekan mahasiswa dari adat lain dan berbaur bersama mereka. Dengan demikian Anda telah memiliki salah satu kriteria yang diminati oleh perusahaan.

2. Tahan Banting
Mungkin sebagian mahasiswa menghadapi kesulitas pada awal kuliah. Tetapi jangan cepat menyerah. Tenanglah, di kampus anda akan memiliki dosen PA (Penasehat Akademis) walau tugasnya hanyakonsultan mengenai nilai, mata kuliah etapi lebih dari iitupun boleh dibicarakan. Jadi sewaktu menemukan masalah, berbicaralah dan carilah bantuan. Setelah itu mungkin Anda akan merasakan, sebenarnya masalah ini tidak sebesar yang saya kira.

3. Bisa menyesuaikan diri
Semakin kita dewasa, menyesuaikan diri dengan keadaan sangatlah penting. Semasa anak-anak, mungkin orang sekitar kita masih memberikan pengertian dan mengalah. Akan tetapi hal ini tidak berlaku semasa kuliah. Misalnya Anda takut untuk berpresentasi di depan umum. Dosen mungkin akan mengerti, tapi untuk mendapatkan nilai, Anda tetap harus berpresentasi dengan baik. Solusinya adalah datangi kakak tingkat anda atau sejenis perkumpulan mahasiswa yang membantu masalah ini. Disana mereka akan memberikan masukan dan melatih Anda. Salah satu pembimbing disana adalah dosen dan mungkin juga senior Anda yang juga dulunya memiliki rasa tidak percaya diri untuk berbicara di tempat umum. Masa kuliah adalah saat untuk keluar dari zona nyaman. Selalu jangan takut untuk membicarakan masalah yang dihadapi dan meminta bantuan. Pusat dukungan mahasiswa ada karena universitas/dosen mengerti,8 wajar saja mahasiswa baru menghadapi ketidaknyamanan dengan kehidupan baru mereka. Yang penting, mahasiswa mau berusaha untuk mencari solusi.

4. Menjadi anggota kelompok yang baik
Sewaktu kuliah banyak sekali tugas yang harus diselesaikan secara berkelompok. Bukan karena tugas ini tidak bisa diselesaikan sendiri, tetapi dosen memang ingin melatih kemampuan bekerja kelompok mahasiswa, dimana mereka bisa membagi tugas, menyelesaikan tanggung jawab, dan lagi yang paling penting adalah belajar untuk fleksibel dan bisa mengatasi perbedaan yang ada antara anggota kelompok. Kerja kelompok ini juga merupakan kesempatan baik untuk lebih mendekatkan mahasiswa dengan satu sama lain.

6. Bisa membaca situasi
Orang bijaksana bisa membaca situasi, sehingga mereka bisa mengajar atau bahkan memimpin. Sedangkan orang yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi hanya bisa mengikuti. Kemampuan ini akan sangat berharga pada saat memasuki dunia yang sesungguhnya: dunia kerja, dimana atasan atau orang di sekitar kita tidak akan memberitahukan dengan jelas apa yang sebaiknya kita lakukan. Jadi harus pintar-pintar baca situasi.

7. Belajar tanpa batas
Sewaktu kuliah nilai tentunya penting. Akan tetapi yang dimaksud dengan belajar disini bukan hanya sekedar ilmu tetapi juga keahlian-keahlian interpersonal lain. Ilmu itu tiada batas, begitu juga dengan dunia yang kita tempati sekarang. Perubahan selalu ada, sehingga kita harus tetap awas dan belajar supaya tidak ketinggalan.

8. Memanfaatkan kesempatan yang ada
Bagi sebagian orang, yang penting sewaktu kuliah adalah mengejar nilai, sehingga bisa mendapatkan sertifikat dengan nilai yang bagus. Tetapi ada juga juga orang yang memanfaatkan masa kuliah untuk mencari teman, menikmati kehidupan sosial sebagai seorang mahasiswa. Sebagian lagi mengerti kuliah adalah persiapan memasuki dunia kerja, sehingga memanfaatkan waktu ini dengan baik untuk membangun koneksi, baik dengan dosen, atau dengan atasan sewaktu magang, sehingga nantinya lebih gampang menemukan pekerjaan. Termasuk yang manakah Anda?

Selasa, 27 September 2016

Panwascam Meral Barat

Menyesuaikan Metode Mengajar Dosen


retret
uityi
olyioly

Minggu, 18 September 2016

Panwascam Meral Barat

Revolusi Akal Sehat


Terima kasih kawan. Kalian telah memulai membaca wacana ini. Teruskan, jangan berhenti hingga selesai. Apapun warna kulitmu, apapun agamamu, apapun jenis kelaminmu, kalian adalah sekumpulan orang yang saya sebut Maha dan Siswa. Bukan siswa, sebutan remaja yang masih berkutat dengan meja dan buku. Tapi kata yang di tambah Maha, menurut saya hebat akalnya, retrorikanya, hingga perasaan yang bernuansa kritis tanpa terkikis hingga usia menipis.

Inilah kisah Mahasiswa yang hidup di istana tempat ia meraih gelar sarjana. Kisah ini tidak selayaknya di publikasi ke umum, namun tujuan sebenarnya adalah generasi sesama, jadi apa boleh buat, wadah saja tidak disediakan, untuk menyalurkan keluh kesah kami. Mulai dari perilaku pengajar kami, lapak tanah yang tidak tahu pemiliknya, dan parahnya lagi keadaan anak didiknya yang dipaksa -walau hanya sebagian- untuk banting tulang dalam. membayar kewajibannya. Bukan salah pendidik, bukan juga yang di didik, terlebih lagi yang menciptakan serta merumuskan tempat mendidik tersebut. Semua biarlah berlalu, kini bukan lagi memikirkan yang dulu. Tetapi memikirkan hari ini, esok dan tahun depan. Bukan untuk perut, sanak, atau pun jabatan, tetapi berfikir untuk peradaban daerah yang sudah jauh tertinggal ini.

Akhirnya lagi-lagi peran Mahasiswa yang harus menjadi produser hingga aktor, lakon harus di mainkan seperti tujuan awal. Yakni menjadikan tempat calon sarjana ini menjadi lebih baik -katakanlah dari yang berswasta menjadi negeri. Dan dosen tidaklah di belakang seperti kebanyakan orang mengatakan kami di belakang mendukung kalian. Tetapi juga ikut berperan, bukan hanya berakselarasi di kala Mahasiswa telah sukses dengan tujuannya dasarnya. Dosen juga harus ikut bersama Mahasiswa menciptakan isu yang patut diperjuangkan demi kemajuan peradaban.

Jadilah seolah kalian anak tempatan, berilah sepercik harapan bagi mereka yang menginginkannya walau terkadang rasa ketidakpastian kalian terbesit. Bukan saja Mahasiswa, dosen atau para penduduk kampus yang giat menyuarakan ini, semua elemen patutnya menyadari dengan merespon dan menindaklanjuti apa yang seharusnya dilakukan -ibarat mencari jalan tengah. Bagi sesama akademisi, pejabat, pengamat dan birokrat juga tidak ketinggalan. Khusus nama yang terakhir ini, baiknya wacana yang telah dinantikan Mahasiswa diketengahkan dalam setiap agenda. Demi keberlangsungan memajukan daerah oleh Mahasiswa tempatan, bukan orang luar.

Lebih logis lagi. Tujuan pendidikan di suatu daerah demi memeratakan kemajuan berfikir, bukan hanya terfokus di satu tempat, pantaskah sebutan “kolot” dalam berfikir bagi penguasa negeri ini, jika hanya satu suku, ras, agama yang di prioritaskan?? Pemerataan itu perlu, hanya dengan hal keilmuanlah kemakmuran, kesejahteraan, ketentraman bisa tersaji. Serta konflik dan kesenjangan sosial, kebodohan atau cara pandang yang lemah boleh jadi, akan teratasi dengan adanya reformasi pendidikan.

Liat saja, sekarang gaung timur ingin dijadikan poros maritim nasional. Demi terwujudnya keinginan raja untuk mendunia dalam hal maritim. Lalu barat, bukan jawa. Kepri yang nyatanya sangat tepat dikatakan maritim karena tergugus dari pulau berpotensi sangat baik dalam menopang kemajuan nasional jika didahulukan. Adakah indikasi ketakutan dari raja, atau pusat tidak menyanggupi bila mana Kepri menjadi maju dan berani menjadi kerajaan sendiri sebagaimana kerajaan Riau-Lingga dahulu.

Bisa saja terjadi, bila anak tempatan telah berubah menjadi sarjana hukum, hingga profesor hukum. Hukum maritimpun bila berada di pundak anak tempatan tidak menutup pintu, bahwa Kepri bisa saja menjadi sebuah kerajan baru yang berlabel republik.

Akhirnya, ini hanya sebuah karya kosong, tulisan yang tak masuk akal. Penuh ketidakpastiaan, dan biarkan kata-kata ini di rajut oleh orang-orang yang peduli. Peduli terhadap peradaban indonesia barat laut terutama. Dan semoga kata yang berbingkai harapan ini kembali di muat pada hari yang di tunggu-tunggu. Yakni hari reformasi akal sehat.

Tulisan ini juga di muat pada media online Lihatkepri.com/lihat opini/Reformasi Akal Sehat

Selasa, 13 September 2016

Panwascam Meral Barat

Hari Ini Mahasiswa Tidak Tahu Bentuk Perguruan Tinggi di Kampusnya


Ternyata, masih cukup banyak mahasiswa di luar sana yang tidak tahu bentuk dan tipe perguruan tinggi di Indonesia, terlebih tempat yang ia menimba ilmu sekarang. Padahal ketika telah menyandang gelar MAHA dan SISWA yang Maha artinya lebih diagungkan, harusnya hal demikian sudah disadari sebelum memasuki dunia perkuliahan. Karena sebagai mahasiswa kita harus pandai memilah tempat mana yang baik untuk mengenyam pendidikan sesuai dengan minat dam bakat kita. Perlu diketahui, setiap perguruan tinggi berbeda dengan yang lain, dari dalam proses perkuliahannya hingga berkaitan dengan karier yang akan dijalani nanti.

Baiklah, langsung saja kita simak penjelasan yang sesederhana ini.

1. Universitas

    Universitas merupakan perguruan tinggi yang terdiri dari beberapa fakultas, dan fakultas tersebut terdiri dari berbagai jurusan. Bentuk perguruan tinggi ini juga ada yang negeri seperti Universitas Indonesia dan yang swasta contohnya Universitas Karimun kebanggaan masyarakat Kabupaten Karimun.

    Dilihat secara fisik, universitas memiliki area luas dengan banyak gedung dan kelas. Jika secara gelar yang diberikan, universitas memberikan lebih dari satu gelar sesuai dengan jenjang -S1, S2, S3- dan jurusannya masing-masing.

2. Institut

    Menyelenggarakan pendidikan untuk kelompok disiplin ilmu pengetahuan sejenis adalah pengertian dari Institut. Sama seperti universitas yang memiliki fakultas, tetapi masih tetap dalam jalur atau jenis keilmuan yang sama. Biasanya Institut menawarkan jurusan-jurusan yang sifatnya lebih spesifik.

    Salah satu institut yang terkenal adalah ITB (institut Teknologi Bandung), ITB memiliki fokus keilmuan yang berkaitan dengan teknologi dan sains. Mantan presiden kita, yakni Prof B.J Habibie dan walikota Bandung 2013-2018, Ridwan Kamil, merupakan beberapa alumni dari perguruan tinggi tersebut.

    Dalam prosesnya mahasiwa yang memiliki ketertarikan ilmu yang sama akan sering bertemu, hal ini berbeda dengan universitas yang di dalamnya terdapat berbagai mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan.

3. Sekolah Tinggi

    Sekolah Tinggi akan lebih fokus atau berkonsentrasi pada satu lingkup keilmuan saja dan cakupannya lebih kecil dari institut.Contohnya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cakrawala. Pada sekolah tinggi biasanya hanya memiliki satu fakultas saja, jurusan yang ditawarkan pun biasanya tidak terlalu banyak. Karena memiliki konsentrasi yang pada bidang tertentu, secara fisik sekolah tinggi memiliki area yang relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan universitas atau institut.

4. Akademi

    Selain perguruan tinggi yang sudah dibahas di atas, ada juga perguruan tinggi yang berbentuk akademi. Akademi merupakan bentuk perguruan tinggi yang lebih spesifik, karena hanya fokus dalam penyelenggara pendidikan untuk suatu keilmuan dan keterampilan yang bersifat khusus.

    Beberapa akademii yang di sering kita dengar di antaranya adalah akademi kebidanan, keperawatan, pariwisata, kepolisian dan akademi militer (akmil). Karena bersifat khusus mak beberapa akademi dapat menentukan bentuk seleksi dan persyaratan masuk yang diperlukan terhadap calon peserta didik. Apalagi bila akademi tersebut memiliki ikatan dinas, tentunya proses penerimaan peserta didiknya akan lebih selektif.

5. Politeknik

    Politeknik ialah penyelenggara program pendidikan dalam jumlah bidang pengetahuan khusus, dan ia juga merupakan pendidikan vokasi. yakni pendidikan yang diarahkan pada penerpan dan penguasaan kehalian terapan tertentu.

   Jenjang pendidikan pada politeknik adalah Diploma I, Diploma II, Diploma III, dan Diploma IV (setara S1). Meski saat ini sudah jarang politeknik yang menyelenggarakan pendidikan untuk Diploma 1 dan II. Jika ingin melihat secara langsung bagaimana ruang lingkupnya perguruan tinggi berbentuk politeknik, pergi saja ke Batam dan di sana ada salah satu Politeknik terbaik Indonesia yakni Politeknik Negeri Batam.

Sofian.
Kabid Humas Hima-MKP UK

Kamis, 25 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Tidak Eksisnya Tuhan Berarti Keadilan Untuk Seluruh Manusia Di Dunia

    Tidak ada komentar:

Bagi manusia yang beragama ungkapan bahwa Tuhan itu maha adil sudah menjadi salah satu roh dalam berkehidupan mereka, mencari jodoh, rezeki, maupun nilai kuliah semua berpatokan dengan ungkapan “ah Tuhan itu pasti adil”. Kemudian korelasi dengan perkataan “tiada hasil yang mengkhianati usaha” yang telah menjadi hits dalam status di media sosial anak ABG kini kian menjadi suatu tolak ukur yang baik untuk menilai rasa adil Tuhan, selalu bersemangat menjalani hidup baik susah maupun senang. Itu la Adil sebuah kata yang berarti sama (tidak dibeda-bedakan).

Di salah satu artikel, saya pernah mengungkit rasa keadilan yang diberikan oleh Tuhan jauh melebihi dari hakim (manusia).  Mengingat manusia adalah tempat salah dan khilaf yang artinya tidak ada yang namanya sempurna di mata Tuhan karena hanya-Nyalah yang patut kita berikan kata sempurna. Nabi-nabi besar sekali pun di setiap agama tidak pantas dikatakan sempurna di hadapan-Nya, namun tidak menutup kemungkinan di mata kita.

Kembali ke rasa adil, mencermati keadilan di dunia ini indah rasanya bila kita menyinggung keadilan yang diberikan oleh Tuhan. Dalam konteks agama ingin saya katakan. Adilkah tuhan bila berwujud? lalu bagaimana dengan manusia yang buta, apakah ia bisa melihat sebagaimana temannya yang dapat melihat Tuhan? Ada 4 indera berada di tubuh manusia –Indra perasa tidak termasuk- yang semuanya sampai zaman modern ini tidak dapat manusia kembangkan menjadi alat untuk melihat, mendengar, mencium dan meraba zat-Nya. Bayangkan saja bila dari manusia diciptakannya terdapat yang tidak memiliki salah satu dari indra tersebut? Sangat logika jika tujuan Tuhan tidak ingin eksis adalah untuk mengisyaratkan bahwa maha adil yang dimiliki-Nya adalah keadilan yang paling Agung (Tinggi dari segala keadilan yang ada di dunia).

Rabu, 17 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Karimun Menuju Perubahan

    Tidak ada komentar:

Salah satu manusia tercerdas di dunia “Albert Einsten” pernah berujar bahwa ukuran kecerdasan bukan terletak pada kebiasaan memakai alat-alat lama, tetapi pada kemampuan untuk merubah. Kalimat ini bagi saya harus di renungi disetiap orang yang yakin akan perlunya keberanian untuk berubah.

Dalam implementasinya setiap perubahan diperlukan percakapan. Bahasa dan cara-cara yang kita pakai dalam berkomunikasi akan menentukan suatu organisasi/komunitas, perusahaan, hubungan, dan masa depan. Kita harus memilih apakah ingin terus saling menyalahkan dengan menunjuk hidung, fokus pada apa yang tidak bisa dikerjakan orang lain. Atau sebaliknya, yakni fokus pada apa yang bisa dikerjakan orang bersama dan saling menghargai?? Ayo kawan.. saatnya kita bangun suatu peradaban yang bagus di karimun ini. Berubah dan beruba!

Meski saya bukan pakar motivasi seperti Mario Teguh tetapi saya setidaknya sudah berupaya untuk merubah melalui cara ini, yakni menyadarkan ke orang ramai-pentingnya makna perubahan-yang sibuk dengan kerutinan aktivitasnya.

Mari kita contohi penduduk jepang, negeri yang terkena musibah tsunami pada beberapa tahun yang lalu, bisa bangkit dalam sekejap dengan terlihatnya lumbung padi serta tanaman-tanaman yang siap mereka jual.

Jawaban yang langsung di kepala saya adalah mereka tidak suka bermalasan. Barang kali di setiap benak penduduk jepang bermalas-malasan adalah dosa besar. Semalas-malasnya manusia jika dibanding makhluk lain, manusia adalah makhluk yang punya nalar dan bisa belajar. So belajar adalah sarana untuk memperbarui diri. Tanpa belajar kita akan terperangkap hidup di masa lalu.

Seperti kata Albert Einstein lagi, “Kita tidak bisa memecahkan masalah-masalah baru dengan cara-cara lama.”

Senin yang lalu saya membaca buku Let’s Change karya Prof. Rhenald Kasall, Ph.D di perpustakaan daerah milik Pemkab Karimun. Beliau mengatakan rasa takut dan rasa sakit adalah dua instrument Tuhan untuk mengatur manusia. Tambahnya lagi, bagi sebagian orang rasa takut sudah bisa membuatnya berubah, tapi ada sebagian orang yang belum mau berubah meski rasa takutnya sudah amat jelas. Orang-orang seperti ini baru berubah setelah rasa sakit melebihi rasa takut.

Waww, menarik bukan kata-katanya? Saya rasa anda yang membaca kutipan dari profesor ini paham apa yang dimaksud, nah jika paham. Kapan kita ingin merubah? Apalagai sebuah perubahan besar untuk masyarakat umum. Tentunya masyarakat karimun, masyarakat yang perlu dituntun untuk berubah..

Indonesia kini, selalu menimbulkan masalah baru di berbagai daerah. Seperti kekerasan seksual, ketenagarakerjaan, kemiskinan, sampah berserakan, hingga mahasiswa yang dipandang sebelah mata. Di era ini perlu adanya orang-orang pergerakan dalam bentuk perubahan besara-besaran, bukan hanya berkutat di kursi panasnya sambil membanggakan teorinya yang tak pernah terealisasi.

Dan dari tulisan di atas, dapat kita simpulkan bahwa salah satu penghalang bagi manusia -Indonesia- untuk memperbarui diri adalah kita selalu merupakan produk dari masa lalu.

#salampergerakan.

Baca Juga : Nak Kemane? Tak ade ..

Jumat, 22 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Sejarah Universitas Karimun

    Tidak ada komentar:

Rencana awal berdirinya Universitas Karimun adalah datangnya dari beberapa orang teman yang saat itu sebagai Mahasiswa Program Doktor Ilmu Administrasi Untag Surabaya yang salah satunya adalah Bapak Bupati Karimun H. Nurdin Basirun. Waktu itu kita semua berpendapat mengapa tidak kita dirikan sebuah universitas di Kabupaten Karimun dimana secara pinansial dan kuantitas rasanya kita mampu untuk mewujudkannya apatah lagi saat ini jumlah PNS kita rata-rata sudah berpendidikan S2 dan tentunya dapat membantu dalam pemenuhan tenaga pendidik,  dan sebentar lagi ada beberapa diantara kita yang sudah bergelar sebagi DR,  serta jika dilihat secara geografis dimana penduduk Kabupaten ini rata-rata tersebar di pulau-pulau dan untuk menlanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setiap orang tua harus mengorbankan banyak materi dalam menyekolahkan atau melanjutkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yanang lebih tinggi,  harapan kita dengan berdirinya nanti Universitas akan dapat membantu keringan orang tua terutama mereka yang berada di pulau-pulau yang tersebar di wilayah kabupaten Karimun, inilah salah satu cara kita untuk memenuhi salah satu azam Kabupaten Karimun yaitu peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

Bertolak dari perbincangan tersebut di Surabaya, tanpa banyak membuang waktu setelah kita kembali ke  Karimun yaitu pada tanggal 10 Oktober 2007 kita mulai mencari dan menentukan sebuah nama yayasan  yang tepat untuk mengelola universitas, konsultasipun kita jalankan baik ke pihak legeslatif, maupun eksekutif dan unsur muspida Kabupaten Karimun .  Pada tanggal 22 Oktober 2007 terbitlah sebuah Akte Pendidirian Yayasan yaitu kita beri nama Yayasan Tujuh Juli Kabupaten Karimun yang dikeluarkan oleh Notaris Zulkarnien, SH,……. Dukunganpun mulai kita cari baik ke tinggkat pusat maupun ke tingkat provinsi.

Ibarat pepatah melayu mengatakan “Gayungpun bersambut”  pada tanggal 5 Maret 2008 kita mendapat dukungan penuh dari DPP Partai Golkar yang ditanda tangani oleh wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar yaitu Bapak H.R. Agung Laksono dan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar yaitu Bapak Sumarsono dan dukungan dari Gubernur Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 1 Pebruari 2008 yang ditanda tangani oleh Bapak Ismet Abdullah sebagai Gubernur Provinsi Kepulaun Riau, Dukungan begitu juga dukungan dari DPRD Kabupaten Karimun dan dari Bupati Karimun sendiri.

Dengan dukungan penuh dari Bapak Bupati, Assiten II saat itu Bapak Anwar Hasyim, M.Si, Ketua DPRD dan sebagian pejabat di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Karimun, kita mulai melaksanakn rapat-rapat rutin baik dalam hal pengurusan izin serta  pembentukan rektorat agar segala bidang administrasi universitas dapat berjalan pada saat awal dibuatlah suatu keputusan dimana Pihak yayasan mengintruksikan bahwa Sdr H.MS. Sudarmadi,S.Pd MM ditunjuk sebagai Rektor Universitas,  Biro administrasi akademik yang dipercayakan kepada Bapak Irwanto, S.Pd, M.Si, Biro Administrasi  Keuangan yang dipercayakan kepada Bapak Abdullah, S.Sos, M.Si serta Biro Adminstrasi Umum yang kita pecayakan kepada Bapak Helmi,SE, M.Si untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan universitas  serta Dekan-dekan di lingkungan universitas Karimun.

Pada tanggal 12 Maret 2008 secara resmi pihak yayasan tujuh juli Kabupaten Karimun menyampaikan surat usulan pendirian Universitas Karimun yang ditujukan kepada Direktur Akademik Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta, dan pada tanggal 18 April 2008 kita mendapat balasan Surat dari Direktur Akademik Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional agar kita membuat studi kelayakan. Selanjutnya pada tanggal 7 Juli 2008 Bapak Bupati Karimun, Bapak Ketua DPRD Kabupaten Karimun , Bapak Assisten II (Anwar Hasyim, M.Si) Sekdakab Karimun, dan pihak rektorat menyerahkan langsung Studi Kelayakan universitas, beberapa hari setelah penyerahan studi kelayakan tersebut dan pada tanggal tersebut pihak rektorat dan dimintakan untuk menyampaikan audiesi di depan Ditrektorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional didepan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas di Jakarta,  beberapa hari setelah itu kita mendapat lampu hijau bahwa univesitas karimun akan segera diterbitkan izinnya.

pada tanggal 25 Agustus kita mendapat lagi sebuah  surat balasan dari Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi dengan nomor surat :   ………………tentang izin pertimbangan pendirian universitas Karimun setelah itu kita mulai melakukan berbagai pembenahan, baik sarana dan prasarana yang sudah ada, penetapan lokasi pendirian gedung iniversitas  serta rencana penerimaan mahasiswa baru,  Alhamdulillah minat yang ditunjukan oleh masyarakat Karimun cukup antusian dalam satu minggu kita sudah kebanjiaran mahasiswa sebanyak lebih kurang 1800 calon mahasiswa yang mendaftar, disini menunjukkan berapa pentingnya sebuah universitas di Kabupaten Karimun dan betapa antusiasnya masyarakat menyambut universitas ini walaupun secara adminstrasi kita sepatutnya belum boleh melakukan itu tapi kami berasumsi sesuatu perkara yang baik dan untuk memulai sesuatu tentunya kita harus berani dan mempunyai pertimbangan yang matang baik, kualitas maupun kuantitas.

Bapak BUPATI
Pematangan dan perbaikan segala macam bentuk administrasi terus kita jalankan begitu juga  konsultasi di Departemen Pendidikan Nasional setiap ada kesempatan terus kita kumandangkan terutama Bapak Bupati Karimun yang cukup komit dan antusias dalam mewujudkan Universitas Karimun, sumbangsih dan pemikiran beliau menjadi insfirasi tersendiri bagi pengurus-pengurus universitas tanpa semangat dan dukungan beliau kami pengurus tidak akan dapat berbuat apa-apa, apatah lagi pada masa-masa genting segelintiran masyarakat ada yang menyambut baik berdirinya universitas dan ada juga yang tidak mendukung berdirinya universitas di Karimun tercinta ini. Pengurus-pengurus universitas saat itu hanya pasrah dan berkeyakinan bahwa apa yang kita lakukan bukanlah untuk diri kita atau ingin menampilkan ego tersendiri, Universitas Karimun adalah milik semua masyarakat Karimun jika seandainya nanti Universitas ini menjadi yang terbaik di Kabupaten ini bukan pengurus yang akan bangga tetapi semua masyarakt karimun, berawal dari asumsi tersebut kami terus maju dan pada akhirnya terbitlah izin resmi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktur Akademik Departemen Pendidikan Nasional dengan nomor izin: 214/D/0/2008, dan yang menjemput langsung surat tersebut di Jakarta adalah Bapak Bupati Karimun, Ketua DPRD Karimun, Sekda Kab Karimun, Ketua Yayasan, Rektor Universitas Karimun dan beberapa Biro di Universitas Karimun.

Begitulah cerita ringkas berdirinya universitas Karimun ini, harapan kami mari sama-sama kita bergandeng bahu bantu membantu dalam bentuk pemikiran demi terciptanya universitas karimun universitas yang akan kita banggakan nantinya yang bukan milik siapa-siapa melainkan milik semua masyarakat karimun.
Wasalammualaikum Wr.Wb

   Rektor Universitas Karimun
*Tulisan bersumber dari blog ngawondo.blogspot.co.id

Selasa, 19 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Bersabar Pada Guru

    Tidak ada komentar:



“Jika tak hendak bersabar terhadap guru, maka bersabarlah dalam kebodohanmu.”

Memang ada guru yang baik, berilmu dalam nan luas, dengan gaya mengajar yang menyenangkan banyak orang. Namun sebagaimana kita tahu, beliau tak pernah menguasai segala jenis ilmu. Sebab ilmu ibarat bangunan, takkan kita temukan satu toko bahan bangunan pun yang bisa menyediakan keseluruhan bahan yang kita butuhkan. Suka tak suka, mau tak mau, diri ini membutuhkan banyak guru untuk memenuhi kebutuhan diri akan ilmu.

Salah satu ujian bagi para pembelajar adalah guru yang tak menyenangkan hatinya. Entah gaya bicaranya, entah penampilannya, entah banyak hal lainnya. Repotnya, sang guru memiliki potongan ilmu nan diri ini butuhkan.

Serupa Khidir bagi Musa. Apa yang dimiliki Khidir tak dimiliki Musa, maka ia mesti mencari dan berguru padanya. Padahal sejarah mencatat Musa lah sang ulul azmi, sedang nama Khidir tak pernah tersebut jelas dalam kita suci. Bahasa mudahnya, sang rasul mulia dengan kisah umat terpanjang itu mesti berguru pada ‘seseorang’ yang ‘bukan siapa-siapa’. Sang guru pun mengakui, bahwa ia adalah ‘petugas’ semata, yang ilmunya dikaruniakan langsung tanpa bisa dicerna oleh akal biasa. Maka Musa yang sedang belajar dan tak sabaran mengajari kita bahwa adab memang harus lebih dulu daripada ilmu.

Bagi para pembelajar yang fakir ilmu, dan masih tertahan kebodohannya, sungguh banyak tabiat guru nan sulit dicerna. Sebab memang tak semua jenis ilmu bisa diajarkan lewat kata-kata. Jauh lebih banyak, ilmu disampaikan melalui pengalaman nyata. Dan murid yang tak sabaran, sungguh akan begitu banyak melewatkan pemahaman jika tak sungguh-sungguh meniti jalan.

Ya, mungkin, hanya mungkin, jauh lebih banyak guru yang tak sesuai dengan keinginan kita. Maka tak ada pilihan lain memang bahwa kesabaran adalah modal utama. Sebab ilmu itu bagai batu permata, yang tersembunyi adanya, mesti dikeluarkan dengan seluruh kesungguhan jiwa. Ilmu akan melekat kala ia diperjuangkan, lalu diamalkan, dan direnungkan. Tengoklan zaman ini jika tak percaya. Betapa ilmu begitu mudah didapatkan, terbentang di hadapan, namun sedikit jua yang mengambilnya. Sebab yang tak diperjuangkan, memang tak melahirkan kesan. Meski sedikit, ilmu yang diperoleh melalui kesabaran kan meresap dalam hingga relung-relung terdalam.

Maka pada banyak guru, bersabarlah, wahai diri. Jika tak hendak demikian, takkan datang ilmu padamu. Ini yang kau inginkan? Maka bersabarlah dalam kebodohanmu. Tak pernah dijumpai insan berilmu yang tak makin tenang tindak-tanduknya. Sebab perjalanannya mengumpulkan potongan-potongan ilmu telah melunakkan egonya, melenturkan perasaannya, menajamkan pikirannya, menjernihkan jiwanya, meluruskan langkahnya. Maka jika kau tak cukup sabar, wahai diri, bisa jadi perjalanan belajarmu belum cukup jauh. Mereka yang telah melanglang buana, takkan mudah cemas hanya karena kelokan kecil.

Serupa Khidir, para guru hanyalah jalan meraih ilmu. Mereka insan biasa, seperti dirimu, yang tak pernah luput dari kekurangan. Bukankah kau tetap berterima kasih pada seperti apapun orang yang menyampaikan hadiah kepadamu? Ilmu adalah cahaya, yang jiwamu rindu padanya. Masuk akalkah jika hadir syukurmu atas insan yang telah menyalakan cahaya dalam kegelapanmu


Kamis, 07 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Apa Itu Islam Moderat ?

    Tidak ada komentar:
Paham Islam yang Moderat pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan paham Islam-Liberal, Islam-Nusantara, dan paham lain yang mencoba menggandengkan istilah Islam dengan istilah yang asing dengan Islam. Bahkan istilah tersebut bertolak belakang secara diametral dengan Islam. Hakikat dari semua paham ini sesungguhnya  mencoba adalah memalingkan umat Islam dari pemahaman Islam yang sesungguhnya.
Selain untuk memalingkan pada pemahaman Islam yang sesungguhnya, umat juga dihantui dan didikotomikan dengan paham Islam radikal (menurut versi Barat) dan paham Islam-terorisme.  Semua upaya ini memiliki tujuan satu, menjauhkan umat Islam dari hakikat Islam yang akan sesungguhnya, yang akan membawa rahmat lil alamin  dengan penerapan Syari’ah dan Khilafah.
Ide Islam yang Moderat  sesungguhnya bukan pemahaman orisinil dari Islam dan  tidak memiliki historis keilmuan di kalangan fuqaha (ahli fikih). Mereka yang menggagas ide ini hanyalah orang-orang plagiat  yang terpengaruh dengan pemikiran Liberal Barat.
Tahun 1998, Hizbut Tahrir dalam kutayyib (buku kecil) dengan judul “Mafahim Khathirah li Dharbil Islam  wa tarkiizil Hadharatil Gharbiyyah”  (Pemahaman-pemahaman berbahaya untuk memukul Islam, dan menancapkan peradaban Barat), menjelaskan  akar persoalan dan kebatilah ide Islam moderat ini.
Istilah moderat (jalan tengah) adalah istilah asing yang bersumber dari trauma Barat atas agama –Kristen–. Ide ini sebagai jalan tengah konfrontasi berdarah antara kubu gereja dan pemikir (filosof).
Pihak Kristen (gereja) memandang bahwa agama –kristen– layak untuk mengatur seluruh urusan kehidupan, sementara pihak filosof memandang bahwa agama Kristen tidak layak turut campur mengatur urusan kehidupan. Bahkan dengan ekstrim para pemikir/filosof ini meyakini bahwa turut campurnya gereja dalam urusan kehidupan justru sebagai penyebab kehinaan dan ketinggalan Barat. Hanya akal manusialah yang mampu menciptakan peraturan yang layak untuk mengatur segala urusan kehidupan.
Hasil dari pertarungan sengit ini adalah kompromi, moderat, yakni jalan tengah. Artinya mengakui eksistensi agama Kristen untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhan, tetapi agama Kristen (Tuhan) tidak diberi hak untuk turut campur dalam kehidupan.  Pengaturan urusan kehidupan sepenuhnya diserahkan kepada akal manusia.
Atas dasar pemahaman ini Barat kemudian menjadikan ide pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) sebagai akidah bagi ideologi mereka. Dan atas ideologi (sekuler) ini pula Barat kemudian bangkit dan menyebarluaskan paham ideologinya –termasuk paham moderat dalam beragama– melalui jalan penjajahan (imperialisme).
Barat kemudian melakukan legitimasi atas sikap moderat ini. Mereka membuat kesimpulan filosofis bahwa segala sesuatu itu memiliki dua ujung dan titik tengah. Titik tengah adalah daerah aman, dan kedua ujung selalu dipahami dengan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan kerusakan. Dari pola berpikir seperti ini, mereka juga menganggap pemahaman radikal dalam beragama adalah sesuatu yang berbahaya.
Celakanya, filosofi  ini  kemudian dianalogkan juga ke agama Islam. Padahal antara agama Islam dan agama Kristen memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Umat Islam akan maju, memiliki identitasnya, dan bangkit saat memegang teguh dengan pemahaman radikal (kuat dan berakar) atas agamanya. Berbeda dengan Barat yang maju dengan melepaskan agama –Kristen– nya (prinsip sekuler).
Oleh muslim pengikut Barat,  titik tengah atau jalan tengah (moderat) ini dipahami memiliki keistimewaan-keistimewaan.  Maka tidak aneh jika kemudian sikap moderat dijadikan solusi dalam ajaran agama Islam.  Mereka juga menyimpulkan beberapa premis bahwa Islam adalah pertengahan antara keyakinan dan peribadatan, Islam itu adalah antara hukum dan akhlak, dan yang lainnya.
Berikutnya dicari  ayat Al Qur’an untuk  melegitimasi pendapat ini. Semisal mamaknai dengan gegabah ayat Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 143.
(وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ٌ)
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.”
Atas ayat di atas, mereka menyatakan bahwa kedudukan pertengahan umat Islam diambil dari metode (manhaj) dan peraturan hidup (nizham) umat yang bersikap tengah-tengah. Di dalamnya tidak ada sikap berlebih-lebihan ala Yahudi atau sikap meremehkan ala Nasrani. Mereka mengatakan bahwa kata “wasath” artinya adalah adil. Adil menurut sangkaan mereka, adalah pertengahan antara dua ujung yang saling bertentangan. Dengan demikian mereka mengartikan adil dalam konteks “perdamaian” (shulhu) demi mendukung prinsip jalan tengah (moderat).
Padahal makna yan sahih untuk ayat itu adalah bahwa umat Islam itu merupakan umat yang adil.  Sementara itu keadilan (al ‘adalah) adalah termasuk salah satu syarat seorang saksi dalam Islam.  Dengan kata lain, ayat di atas mengandung makna bahwa umat Islam kelak akan menjadi saksi yang adil bagi umat lain (di hari kiamat) karena umat Islam telah menyampaikan risalah Islam kepada mereka.
Jadi dalam Islam sesungguhnya tidak ada yang namanya kompromi (moderat) atau jalan tengah. Sebab Allah SWT –yang menciptakan manusia dan mengetahui hakikat yang tidak mungkin diketahui oleh manusia– adalah Zat yang satu-satunya mampu mengatur kehidupan manusia secara cermat dan teliti yang tidak mungkin dicapai oleh manusia.
Hukum-hukum Allah datang dengan batas-batas yang tegas, dan tidak ada kesan sedikitpun bahwa di dalamnya ada kompromi atau jalan tengah.  Sebab memang tidak ada kompromi atau jalan tengah dalam nash-nash atau hukum Islam. Bahkan sebaliknya, berbagai nash dan hukum Islam sangatlah teliti, rinci, terang, dan jelas batasan-batasannya. Al Qur’an menyebutnya dengan istilah (hudud/batasan) Allah. Firman Allah.
(وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ)
“itulah hukum-hukum Allah; diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui” (Al Baqarah 230).
Karenanya, ide Islam yang moderat, kompromi atau jalan tengah adalah ide yang sangat asing dalam pandangan dan sejarah intelektual Islam.
Ide seperti ini disusupkan ke dalam ajaran Islam oleh orang-orang Barat dan agennya dari kalangan kaum muslimin. Mereka memasukkan ide ini atas nama keadilan dan toleransi. Tujuanya adalah untuk menyimpangkan dan menjauhkan kaum muslimin dari ketentuan dan hukum Islam yang jelas batasannya.
Sekaligus juga ide Islam Moderat ini akan berupaya menjauhkan Umat dari upaya penerapan Islam yang akan memberi rahmat seluruh alam, yakni dengan pelaksanaan syari’ah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj Nubuwwah.

Rabu, 15 Juni 2016

Panwascam Meral Barat

Mengevaluasi proses kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan tanjung balai karimun

    Tidak ada komentar:


METODE PENELITIAN




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Memasuki kerjasama ekonomi Negara-negara Asia Tenggara melalui Kawasan Perdagangan Bebas Asean (Asean Free Trade Area/AFTA) sejak tahun 2003 dan pasar bebas dunia tahun 2020 akan menimbulkan persaingan ketat baik barang jadi/komoditas maupun jasa. Ini berarti Indonesia harus meningkatkan daya saing baik mutu hasil produksi maupun jasa. Peningkatan daya saing ini dimulai dari penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan sarana dan prasarana yang memadai. Mengenai kerja sama antar negara maka diperlukan suatu penghubung yang bisa memuluskan perdangan negara terebut. Maka pelabuhan sangat vital dalam hal ini, apa lagi pelabuhan yang berfungsi sebagai aliran masuk keluarnya barang ekspor dan impor.

Pelabuhan dalam aktivitasnya mempunyai peran penting dan strategis untuk pertumbuhan industri dan perdagangan serta merupakan segmen usaha yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional. Hal ini membawa konsekuensi terhadap pengelolaan segmen usaha pelabuhan tersebut agar pengoperasiannya dapat dilakukan secara efektif, efisien dan profesional sehingga pelayanan pelabuhan menjadi lancar, aman, dan cepat dengan biaya yang terjangkau. Pada dasarnya pelayanan yang diberikan oleh pelabuhan adalah pelayanan terhadap kapal dan pelayanan terhadap muatan ( barang dan penumpang ). Secara teoritis, sebagai bagian dari mata rantai transportasi laut, fungsi pelabuhan adalah tempat pertemuan ( interface ) dua moda angkutan atau lebih serta interface berbagai kepentingan yang saling terkait. Barang yang diangkut dengan kapal akan dibongkar dan dipindahkan ke moda lain seperti moda darat ( truk atau kereta api). Sebaliknya barang yang diangkut dengan truk atau kereta api ke pelabuhan bongkar akan dimuat lagi ke kapal.

Oleh sebab itu berbagai kepentingan saling bertemu di pelabuhan seperti perbankan, perusahaan pelayaran, bea cukai, imigrasi, karantina, syahbandar dan pusat kegiatan lainnya. Atas dasar inilah dapat dikatakan bahwa pelabuhan sebagai salah satu infrastruktur transportasi, dapat membangkitkan kegiatan perekonomian suatu wilayah karena merupakan bagian dari mata rantai dari sistem transportasi maupun logistik.

Namun jika kita melihat kenyatan yang ada, harus kita akui bahwa memang pelabuhan – pelabuhan yang ada di Indonesia masih belum dikelola dengan baik. Sebagaimana yang kita telah ketahui bersama, dua pertiga wilayah Indonesia berupa perairan. Ribuan pulau berjajar dari Sabang sampai Merauke. Posisi negeri ini sangat strategis karena berada di persilangan rute perdagangan dunia. Ironisnya, Indonesia tak mampu memanfaatkan peluang emas itu.

Sebagai negara kepulauan, peranan pelabuhan sangat vital dalam perekonomian Indonesia. Kehadiran pelabuhan yang memadai berperan besar dalam menunjang mobilitas barang dan manusia di negeri ini. Pelabuhan menjadi sarana paling penting untuk menghubungkan antarpulau maupun antarnegara. Namun, ironisnya, kondisi pelabuhan di Indonesia sangat memprihatinkan. Hampir semua pelabuhan yang ada di Indonesia saat ini sudah ketinggalan zaman.
Dari 134 negara, menurut Global Competitiveness Report 2009-2010, daya saing pelabuhan di Indonesia berada di peringkat ke-95, sedikit meningkat dari posisi 2008 yang berada di urutan ke-104. Namun, posisi Indonesia itu kalah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kelemahan pelabuhan di Indonesia terletak pada kualitas infrastruktur dan suprastruktur.
Indonesia juga kalah dalam produktivitas bongkar muat, kondisi kongesti yang parah, dan pengurusan dokumen kepabeanan yang lama. Global Competitiveness Report 2010-2011 menyebutkan, kualitas pelabuhan di Indonesia hanya bernilai 3,6, jauh di bawah Singapura yang nilainya 6,8 dan Malaysia 5,6.
Para pengusaha pun sudah lama mengeluhkan buruknya fasilitas kepelabuhanan di Indonesia. Untuk bersandar dan bongkar muat, sebuah kapal harus antre berhari-hari menunggu giliran.

Seringkali, waktu tunggu untuk berlabuh jauh lebih lama ketimbang waktu untuk berlayar. Melihat buruknya kondisi pelabuhan itu, tak heran bila investor enggan berinvestasi di bidang perkapalan. Akibatnya, distribusi barang antarpulau pun tersendat.

Pemerintah kabupaten karimun harus mengambil langkah yang tepat untuk memperbaiki masalah yang serius ini. Sebab dari tahun ke tahun belum ada perbaikan yang signifikan terhadap pengelolaan pelabuhan yang berada di depan kantor bupati karimun.

Oleh karena itu, melalui penelitian kami ini, kami ingin mengidentifikasi cara – cara yang sekiranya, meskipun kurang signifikan, dapat membantu menyelesaikan masalah pengelolaan pelabuhan ini. Kami yakin jika pelabuhan dapat dikelola dengan baik, pemasukan devisa bagi Indonesia khususnya kabupaten karimun akan mengalami pertumbuhan kearah yang lebih baik pula.

1.2 Identifikasi Masalah

Program Studi Manajemen Kepelabuhanan dan Pelayaran adalah suatu prodi yang ada di fakultas Perikanan dan Kelautan di kampus Universitas Karimun. merupakan kebijakan pendidikan perguruan tinggi yang dimulai pada saar Dr. Nursin basirun, Sos, Msi sebagai rektor Universitas Karimun tahun 2008. Sebagai prodi yang baru berkembang, belum banyak referensi atau laporan hasil evaluasi yang telah mencoba untuk melihat efektifitas prodi tersebut. Oleh karena itu agar penelitian ini tidak mengalami perbedaan yang luas, maka perlu untuk diidentifikasi dan dibatasi. Batasan-batasan konseptual mencakup pada persoalan esensial yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan badan usaha pelabuhan bongkar muat barang meliputi: masukan (anttecedents),proses (transactions)dan hasil (outcomes/output). Kemudian batasan objek penelitian ini dilaksanakan pada sebuah pelabuhan bongkar muat barang, yaitu di pelabuhan bongkar muat di kecamatan karimun kabupaten tanjung balai karimun yang merupakan salah satu pelabuhan bongkar muat barang di karimun hingga sampai sekarang.

1.3 Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang dan pembatasan masalah, maka masalah penelitian ini menitik beratkan pada evaluasi pelaksanaan program yaitu bagaimanakah efektivitas pelaksanaan bongkar muat barang dengan keadaan yang tidak mendukung seperti sempitnya area parkiran, kecilnya dermaga, tempat parkir kapal yang masih kurang panjang dan lain-lain.

Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1.Bagaimanakah pengelolaan pelabuhan sehingga banyak menimbulkan masalah?
2. Bagaimana bentuk perekonomian karimun dengan adanya pelabuhan bongkar muat barang yang seharusnya bisa di optimalkan dengan baik.
3. Bagaimana dampak jika tidak ditindaklanjuti dengan permasalahan di pelabuhan bongkar muat barang tanjung balai karimun serta jika di tindaklanjuti.

1.4 Tujuan Evaluasi

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan efektivitas dalam proses kegiatan pelaksanaan bongkar muat barang yang pada prinsipnya menuju pada perbaikan dan penyempurnaan kedepannya guna memperbaiki ekonomi karimun yang lebih maju. Sebagai penelitian evaluatif juga ingin diketahui komponen-komponen apa saja yang mempengaruhi efektivitas dalam proses pelaksaan bongkar muat barang. Secara operasional penelitian evaluasi pada setiap komponen masukan (antecedents), proses (transactions) dan hasil (outcomes) bertujuan yaitu:

1. Megetahui permasalahan dalam pelabuhan bongkar muat barang tanjung balai karimun.
2. Mengetahui efektivitas dalam proses kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan bongkar muat barang tanjung balai karimun.
3. Mengetahui dampak setelah adanya perubahan maupun sebelum adanya tindakan perbaikan.

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi pendidikan manajemen kepelabuhanan dan pelayaran baik secara teoretis maupun praktis;

1. Teoretis, diharapkan berguna sebagai bahan untuk memperjelas konsepsi tentang mengelola pelabuhan bongkar muat barang.
2. Praktis, dapat dipergunakan informasi sebagai salah satu bahan kepada pihak pengambil keputusan dalam menyelenggarakan usaha pelabuhan, yaitu;
(a) Pelayaran Indonesia (pelindo)
(b) Badan Usaha Pelabuhan (BUP)


BAB II           
Tinjauan Pustaka, Kerangka Pikir, dan Pertanyaan Evaluasi

2.1 Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Evaluasi
Berbagai macam evaluasi yang dikenal dalam bidang kajian ilmu. Salah satunya adalah evaluasi program yang banyak digunakan dalam kajian kependidikan. Evaluasi program mengalami perkembangan yang berarti sejak Ralph Tyler, Scriven, John B. Owen, Lee Cronbach, Daniel Stufflebeam, Marvin Alkin, Malcolm Provus, R. Brinkerhoff dan lainnya. Banyaknya kajian evaluasi program yang membawa implikasi semakin banyaknya model evaluasi yang berbeda cara dan penyajiannya, namun jika ditelusuri semua model bermuara kepada satu tujuan yang sama yaitu menyediakan informasi dalam kerangka “decision” atau keputusan bagi pengambil kebijakan. Terdapat beberapa definisi tentang evaluasi yang dikemukan oleh pakar, diantaranya: (Kufman and Thomas, 1980:4) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses yang digunakan untuk menilai. Hal senada dikemukakan oleh (Djaali, Mulyono dan Ramly, 2000:3) mendefinisikan evaluasi dapat diartikan sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau standar objektif yang dievaluasi. Selanjutnya (Sanders, 1994:3) sebagai ketua The Joint Committee on Standars for Educational Evaluation mendefinisikan evaluasi sebagai kegiatan investigasi yang sistimatis tentang kebenaran atau keberhasilan suatu tujuan. Evaluasi program menurut Joint Commiteyang dikutip oleh (Brinkerhof, 1986:xv) adalah aktivitas investigasi yang sistematis tentang sesuatu yang berharga dan bernilai dari suatu obyek. Pendapat lain (Denzin and Lincoln, 2000:983) mengatakan bahwa evaluasi program berorientasi sekitar perhatian dari penentu kebijakan dari penyandang dana secara karakteristik memasukkan pertanyaan penyebab tentang tingkat terhadap mana programtelah mencapai tujuan yang diinginkan. Selanjutnya menurut (McNamara, 2008:3) mengatakan evaluasi program mengumpulkan informasi tentang suatu program atau beberapa aspek dari suatu program guna membuat keputusan penting tentang program tersebut. Keputusan-keputusan yang diambil dijadikan sebagai indikator-indikator penilaian kinerja atau assessment performance pada setiap tahapan evaluasi dalam tiga kategori yaitu rendah, moderat dan tinggi (Issac and Michael, 1982:22). Berangkat dari pengertian di atas maka evaluasi program merupakan suatu proses. Secara eksplisit evaluasi mengacu pada pencapaian tujuan sedangkan secara implisit evaluasi harus membandingkan apa yang telah dicapai dari program dengan apa yang seharusnya dicapai berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Dalam konteks pelaksanan program, kriteria yang dimaksud adalah kriteria keberhasilan pelaksanaandan hal yang dinilai adalah hasil atau prosesnya itusendiri dalam rangka pengambilan keputusan. Evaluasi dapat digunakan untuk memeriksa tingka tkeberhasilan program berkaitan dengan lingkungan program dengan suatu “judgement” apakah program diteruskan, ditunda, ditingkatkan, dikembangkan, diterima atau ditolak.

2. Model Riset Evaluasi
Model evaluasi yang digunakan adalah Stake’s Countenance Model, Center for Instructional Research and Curriculum EvaluationUniversity of Illinois. Model Stake’ssama dengan model CIPP dan CSE-UCLA (Center for Study of Evaluation at the University of California at LosAngeles) dimana ketiganya cendrung komprehensip dan mulai dari proses evaluasi selama tahap perencanaan dari pengembangan program (Kaufman and Susan, 1980:123). Stake mengidentifikasi 3 (tiga) tahap dari evaluasi program perencanaan pelabuhan bongkar muat barang dan faktor yang mempengaruhinya yaitu:

a. Antecedents phase; sebelum program diimplementasikan: Kondisi/ kejadian apa yang ada sebelum implementasi program? Apakah kondisi/kejadian ini akan mempengaruhi program?
b. Transactions phase; pelaksanaan program: Apakah yang sebenarnya terjadi selama program dilaksanakan? Apakah program yang sedang dilaksanakan itu sesuai dengan rencana program?
c. Outcomes phase, mengetahui akibat emplementasi pada akhir program. Apakah program itu dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan? Apakah klien menunjukkan perilaku pada level yang tinggi dibanding dengan pada saat mereka berada sebelum program dilaksanakan? (Kaufman,1982:123). 
Setiap tahapan tersebut dibagi menjadi dua bagian aitudescription (deskripsi) dan judgment (penilian) Model Stake akan dapat memberikan gambaran pelaksanaan program secara mendalam dan mendetail. Oleh karena itu persepsi orang-orang yang terlibat dalam sistem pendidikan seperti perilaku direktur pelindo/BUP, peran direktur, peran intansi, perilaku porter dan situasi proses bongkar muat barang di pelabuhan dan pelatihan kerja di instansi terkair adalah kenyataan yang harus diperhatikan.

3. Pengangkutan
Pengangkutan dapat diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Dalam hal ini terkait unsur-unsur pengangkutan sebagai berikut :
1.Ada sesuatu yang diangkut.
2. Tersedianya kendaraan sebagai alat angkutan.
3. Ada tempat yang dapat dilalui alat angkutan.



Di dalam lalul intas arus perpindahan barang, pengangkutan barang melalui laut menjadi alternatif yang paling di minati oleh masyarakat, hal ini di karenakan unsur biaya yang relatif murah disamping angkutan melalui laut sanggup mengangkut barang-barang dalam berat dan volume yang banyak. Pengertian pengangkutan laut menurut Pasal 466 dan Pasal 521 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (selanjutnya disebut KUHD) adalah : Pasal 466 KUHD : 14 Ridwan Khairandy, Machsun Tabroni, Ery Arifuddin, Djohari Santoso, Pengantar Hukum Dagang Indonesia, Jilid 1, Gama Media, Yogyakarta, 2001, hal 195 15 Ibid. 2

Pengangkutan adalah barang siapa yang baik dalam persetujuan charter menurut waktu atau charter menurut perjalanan, baik dengan persetujuan lain, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan yang seluruhnya atau sebagian melalui lautan. Pasal 521 KUHD : Pengangkutan dalam arti bab ini adalah barang siapa yang baik dengan charter menurut waktu atau charter menurut perjalanan, baik dengan persetujuan lain, mingikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan angkutan orang (penumpang), seluruhnya atau sebagian melalui lautan. Menurut Hamdani yang dimaksud angkutan muatan laut adalah suatu usaha pelayaran yang bergerak dalam bidang jasa angkutan muatan laut dan karenanya merupakan bidang usaha yang luas bidang kegiatanya dan memegang peranan penting dalam usaha memajukan perdagangan dalam dan luar negeri.
Pengangkutan merupakan rangkaian kegiatan pemindahan penumpang atau barang dari satu tempat pemuatan (embarkasi) ke tempat tujuan (debarkasi) sebagai tempat penurunan pemumpang atau pembongkaran barang muatan.

4. Proses kegiatan yang berlangsung
Rangkaian peristiwa pemindahan itu meliputi kegiatan:
a. Memuat penumpang atau barang ke dalam alat pengangkut;
b. Membawa penumpang atau barang ke tempat tujuan ; dan
c. Menurunkan penumpang atau membongkar barang di tempat tujuan.


Hamdani, Seluk Beluk Perdagangan Ekspor-Impor,Yayasan Bina Usaha Niaga Indonesia,Jakarta, 2003, hal 323. 17 Abdulkadir Muhammad, HukumPengangkutan Niaga, Cetakan ke V, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2013, hal 42 18 Ibid, hal 423

Pengangkutan yang meliputi tiga kegiatan ini merupakan satu kesatuan proses yang disebut pengangkutan dalam arti luas. Selain itu, pengangkutan juga dapat dirumuskan dalam arti sempit. Dikatakan dalam arti sempit karena hanya meliputi kegiatan membawa penumpang atau barang dari stasiun/terminal /pelabuhan /bandara tempat pemberangkatan ke stasiun/ terminal/ pelabuhan/bandara tujuan.

Jadi, pengangkutan adalah kegiatan pemuatan penumpang atau barang ke dalamalat pengangkut, pemindahan penumpang atau barang ke tempat tujuan dengan alat pengangkut, dan penurunan penumpang atau pembongkaran barang dari alat pengangkut di tempat tujuan yang disepakati.
Angkutan di Perairan adalah kegiatan mengangkut dan/ atau memindahkan penumpang dan/ atau barang dengan menggunakan kapal.
Menurut Hamdani yang dimaksud dengan angkutan muatan laut adalah suatu usaha pelayaran yang bergerak dalam bidang jasa angkutan muatan laut dan karenanya merupakan bidang usaha yang luas bidang kegiatannya dan memegang peranan penting dalam usaha memajukan perdagangan dalam dan luar negeri.

2.2 Kerangka berfikir

1. Sebelum pertumbuhan ekonomi karimun membaik
Jauh sebelum pulau karimun dimekarkan menjadi kabupaten, pelabuhan tanjung balai karimun tidaj memberikan dampak yang begitu signiftikan bagi pertumbuhan ekonomi karimu. Sehingga menjadikan semua infrastruktur yang ada belum terfokus pada pelabuhan tersebut mengingat masih banyak lagi hal yang harus di bangun dari pada mengurusi pelabuhan yang secara nyata tidak berjalan baik akibat belum majunya pertumubhan di daratan. Oleh karena itulah dahulu pelabuhan di karimun hanya menjadi tempat transit dan bukan untuk melakukan aktivitas perdagangan seperti proses bongkar muat barang.
2. Sesudah pertumbuhan ekonomi karimun membaik
Setelah adanya regulasi baru dalam otonomi daerah, kabupaten karimun resmi berdiri dengan memiliki seorang bupati yang pertama bernama muhammad sani. Dengan pemimpin baru semua sektor maritim dikebut untuk menunjang kebutuhan akan perekonomian kabupaten karimun. Pelabuhan bongkar muat tanjung balai karimun menjadi sentral yang cukup diperhitungkan, dekat dengan pusat kota dan daerah yang sedang berkembang yaitu kecamatan karimun membuat pelabuhan ini belum di prioritaskan untuk di lakukan pemindahan atau pengembangan guna memenuhi keadikan dalam pembangunan yang bersinergi. Semua yang terjadi belum memiliki permasahan yang cukul serius, masih bisa ditangani. Arus bongkar muat relatif stabil karena banyaknya permintaan dari kebutuhan pertumbuhan ekonomi karimun. Namun dikemudian hari menjadi padat ketika pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor mulai maju menjadikan pelabuhan tanjung balai karimun terdesak akan kebutuhannya dalam memenuhi permintan pasar.
3. Permasalah yang timbul
Pelabuhan tanjung balai karimun yang berukuran kecil dari yang di harapkan mampu menaikan ekonomi karimun tidak mampu menampung kapal dalam melakuman aktivitas bongkar muat barang. Menjadikan semua aktivitas bongkar muat barang di bagi di beberapa tempat yang dalam proses pembangunan pelabuhan bongkar muat barang.
Dihadapi arus laju pertumbuhan, aktivitas bongkar muat harus di tunjang dengan sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai, kekurangan akan hak tersebut menjadikan permasalahan yang terus terjadi seiring perkembangan dunia modern.
Dan juga terjadi kedesakan di lahan parkiran penumpang pelabuhan domestik/internasional, menjadikan ini masalah baru dalam menata lahan parkir sehingga truk yang melalui lahan tersebut menjadi lambat sehingga aktivitas akan lumpuh total jika dibarengi dengan aktivitas manusia yang terlalu banyak.
4. Solusi dalam menanganinya
Dalam permasalahan ini saya memberikan solusi yang cenderung sama seperti pada umumnya, dimana pelabuhan bongkar muat barang tanjung balai karimun sebaiknya dikembangkan lagi menjadi pelabuhan yang lebih besar untuk mempersiapkan pertumbuhan yang lebih pesat, dan segala infrastruktur lebih dikembangkan ke arah modern. Seperti penggusuran area taman bunga menjadi tempat parkir truk atau sejenisnya dalam melayani aktivitas bongkar muat barang.
Atau yang lebih baiknya lagi dipindahkan ke tempat lain tetapi masih dalam lingkungan kecamatan karimun agar karimun masih stabil dengan keadaan perekonomian sekarang. Namun solusi kedua ini memakan biaya yang begitu besar sehingga mengorbankan semua yang ada, yang paling mencolok ialah aktivitas bongkar muat di pelabuhan tanjung balai karimun akan terhenti sementara dan ini semua akan menimbulkan masalah baru.

2.3 Pertanyaan Evaluasi

1. Bagaimana perkembangan pelabuhan bongkar muat barang di pelabuhan tanjung balai karimun dari segi perekonomian daerah karimun ?
2. Apa dampak jika pelabuhan bongkar muat barang tanjung balai karimun tidak dikembangkan ?
3. Apa dampak positif jika pelabuhan bongkar muat barang di perbaiki dan di pindahkan ?






BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Evaluasi

Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian evaluasi dengan menggunakan metode studi kasus (case studies). Studi kasus bertujuan untuk; (1) menghasilkan deskripsi detail dari suatu fenomena; (2) mengembangkan penjelasan-penjelasan yang dapat diberikan dari studi kasus itu; dan (3) mengevaluasi fenomena-fenomena (D. Gall & P. Gall, 2003:439). Studi kasus sering digunakan untuk menyelidiki unit sosial yang kecil seperti keluarga, klub sekolah dan kelompok remaja atau “gang” (Jacobs, Razavieh, 1999:416-417). Sedangkan Robert Stake mengemukakan, bahwa sebagai suatu bentuk penelitian, studi kasus diartikan dengan perhatian dalam kasus perorangan bukan dengan metode dari inquari yang digunakan (D. Gall & P. Gall, 2003:435). Beberapa referensi menunjukkan bahwa studi kasus merupakan bagian dari penelitian kualitatif. Metode kualitatif dimaksudkan agar dapat diperoleh pemahaman dan penafsiran yang relatif mendalam tentang makna dari fenomena yang ada di lapangan. Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh (Moleong, 2000:3), menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

3.2 Tempat dan Waktu Evaluasi

Penelitian ini dilaksanakan di pelabuhan bongkar muat di kecamatan balai kabupaten karimun. Alasan penentuan pelabuhan ini adalah karena pelabuhan tersebut ini sudah jauh dari standarisasi dalam pengoperasian bongkar muat barang dan harus segera di pindahkan ke tempat yang lebih strategis secara geografis, efisien, atau di kembangkan lagi pelabuhan tersebut.

3.3 Desain Evaluasi

Model riset evaluasi yang digunakan yaitu Stake’s Countenance Modelyang dikembangkan oleh Robert E. Steke. Evaluasi model ini terdiri dari tiga tahapan/pase yaitu; masukan (antecedents), proses(transactions), dan hasil (outcomes). Setiap tahapan dibagi menjadi dua tahapan yaitu deskripsi (description) dan keputusan/penilaian (judgment), Model Stake ini berorientasi pada pengambilan keputusan (decisionoriented) dan teknik pengambilan keputusan aktualitas pada setiap tahap evaluasi atau aspek dengan cara melakukan pengukuran pada setiap fokus evaluasi yang dirangkum dalam matrik yang diadaptasikan dalam caseorder effect matrix(Sabarguna, 2005:27).


3.4 Teknik Pengambilan Sampel/informan
Untuk keperluan penelitian ini, pemilihan informan dilakukan secara purposif, yaitu berdasarkan maksud dan tujuan penelitian. Kriteria pemilihan informan ialah semua orang yang ada dalam proses kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan tanjung balai karimun. Diantarnya porter, petugas lapangan perindo dan nahkoda kapal yang sedang bersandar.

3.5 Standar Evaluasi

Berdasarkan rumusan Joint Committee dalam rumusan penetapan standar evaluasi dibagi dalam empat kategori. Standar evaluasi dimaksud. Berkaitan dengan penelitian ini, adalah:Pertama, kemanfaatan (utility) yang merujuk kepada klien dan audiens yang akan memanfaatkan hasil evalusi program ini secara jelas sebagaimana yang tertuang pada bagian pendahuluan ; kedua, kelayakan (feasibility) yang mengacu pada standar prosedur praktis evaluasi dan independensi yang tidak berdampak negatif pada pelaksanaan proses bongkar muat barang di pelabuhan bongkar muat barang di karimun seperti terganggunya alur lalu lintas di daerah balai, terganggunya  dan sebagainya; Ketiga, kesesuaian (propriaty) merujuk bahwa evaluasi dilakukan secara sah, beretika, jujur, lengkap, dan mendukung kepentingan semua pihak yang telibat dalam evaluasi; dan keempat, Ketelitian/ketepatan(accuracy) merujuk kepada keahlian dan keandalan instrumen, analisis data, penggunaan oftware analisis kualitatif CDC EZ-Text dan informasi serta penetapan keputusan pada setiap tahapan evaluasi. 

Kriteria-kriteria standar tersebut merupakan ukuran atau patokan standar objektif. Selanjutnya hasil evaluasi atau intensitas objektif dari lapangan dibandingkan dengan standar objektif yang telah ditetapkan. Teknik pengambilan keputusan aktualitas pada setiap tahapan evaluasi atau aspek dilakukan dengan cara melakukan pengukuran pada setiap fokus evalusi yang dirangkum dalam matrik yang diadaptasikan dalam case-order effect matrix (Sabarguna, 2005:27). Model matrik khususcase-orderini memiliki karakteristik yang khas yaitu menampilkan adanya efek-efek perbandingan antara standar objektif berupa kriteria-kriteria standar normatif yang telah ditetapkan sebelumnya dibandingkan dengan intensitas objektif yaitu berupa hasil rekaman nyata di lapangan.

Perbandingan tersebut akan menghasilkan efek kesimpulan yaitu berupa aktualitas keputusan pada setiap kasus yang diambil. Sejalan dengan hal tersebut Stake menyatakan bahwa dalam setiap tahap evaluasi ada data deskriptif yang mencocokkan antara intents dengan observasi sedangkan penilaian (judgment) membandingkan secara absolut antaradata deskriptif dari setiap tahap dengan standar (Stake, 2006:6). Aktualitas keputusan per kasus yang dievaluasi ditetapkan dengan menggunakan tiga pilihan yaitu tinggi (high), moderat (moderate), dan rendah (low) (Issac and Michael, 1983:22). Kemudian, pada setiap tahapan evaluasi akan menghasilkan sejumlah rekomendasi akhir yang diajukan untuk perbaikan perencanaan pelabuhan bongkar muat barang yang lebih fleksibel, efisien secara komersial.

3.6 Instrument Penelitian

Dalam setiap penelitian, instrumen merupakan sesuatu yang mempunyai kedudukan sangat penting, karena instrumen akan menentukan kualitas data yang dikumpulkan. Semakin tinggi kualitas instrumen, semakin tinggi pula hasil evaluasinya (Arikunto dan Jabar, 2008:92). Dengan demikian kualitas suatu penelitian/evaluasi ditentukan oleh paling tidak empat kriteria berikut ini:
1.Sahih (valid), yaitu mengukur apa yang semestinya diukur (measure what it should measure).
2.Keterandalan (reliable), yaitu instrumen tersebut bisa digunakan kapanpun dengan hasil yang kurang lebih sama.
3.Practicable, yaitu instrumen tersebut mudah digunakan, mudah dimengerti, praktis, dan tidak rumit.
4.Ekonomis, yaitu instrumen tersebut tidak banyak membuang uang, waktu, dan tenaga dalam penyusunannya.
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa terdapat tiga jenis metode/teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian evaluasi ini, diantaranya adalah analisis dokumen, angket (kuesioner), dan wawancara. Untuk memberikan arah/pedoman terhadap hal-hal yang dievaluasi, peneliti terlebih dahulu menentukan komponen yangdievaluasi. Indikator yang dikembangkan berdasarkan komponen yang dievaluasi tersebut berasal, sumber diperolehnya data, metode/teknik pengumpulan data, serta instrumen yang dipakai. Selanjutnya berdasarkan komponen/indikator yang dievaluasi itulah, instrumen-instrumen penelitian di atas dirancang dan digunakan.

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Arikunto dan Jabar (2008:89) dengan tegas mengatakan bahwa evaluasi program adalah penelitian, maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam evaluasi program sama dengan metode pengumpulan data dalam penelitian. Dengan demikian, untuk memperoleh data yang menunjang penelitian evaluasi ini peneliti menggunakan beberapa metode/teknik pengumpulan data seperti analisis dokumen, angket (kuesioner), dan wawancara. Peneliti menggunakan angket (kuesioner) untuk mengumpulkan data primer, sedangkan analisis dokumen dan wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data pendukung dan sekaligus melakukan triangulasi data.

3.8 Teknik analisa data

Penelitian evaluatif umumnya bertujuan untuk memberikan rekomendasi kepada pihak penyelenggara program. Rekomendasi tersebut tentu saja berlandaskan pada data atau informasi yang diperoleh dari lapangan baik yang berasal dari tempat (place), orang (person), ataupun dokumen (paper). Informasi atau data tersebut selanjutnya diberikan perlakuan atau yang lebih dikenal dengan istilah pengolahan data. Arikunto dan Jabar (2008:128) mengatakan bahwa mengolah data adalah suatu proses mengubah wujud data yang diperoleh, biasanya masih termuat di dalam instrumen atau catatan-catatan yang dibuat peneliti (evaluator), menjadi sebuah sajian data yang dapat disimpulkan dan dimaknai. Seperti dijelaskan dalam instrumen penelitian, data atau informasi yang diperoleh dalam penelitian evaluasi ini berasal dari tiga sumber yakni: 1) dokumen yang merupakan syarat administrasi dari suatu program, 2) angket (kuesioner) yang disebarkan kepada kedua narasumber (petugas lapangan dan porter), dan3) wawancara terhadap ketiga narasumber tersebut. Selanjutnya, Arikunto dan Jabar (2008:130) menyebutkan data mentah yang diperoleh dari proses pengumpulan data sifatnya bervariasi:

a. Data yang diperoleh dengan menggunakan dokumen berupa angka-angka atau simbol-simbol yang menunjuk peringkat kondisi objek yang ditelaah.
b. Data yang diperoleh dengan menggunakan angket (kuesioner) maka data yang diperoleh berupa centangan atau tanda checklist (Ö) pada pilihan-pilihan, lingkaran-lingkaran pada angka atau huruf/kata yang disediakan dalam instrumen, atau kalimat-kalimat jawaban yang sifatnya kualitatif.
c. Data yang diperoleh dengan wawancara, wujud data yang diperoleh berbentuk centangan, lingkaran, dan kalimat jawaban yang diberikan olehresponden (interviewee) dan dicatat oleh petugas pengumpul data atau peneliti/evaluator. Data-data mentah di atas berikutnya disajikan/diolah untuk memudahkan pemaknaan/penafsiran terhadap data itu sendiri sehingga proses analisisnya menjadi lebih reliabel dan valid. Penyajian/pengolahan data mentah tersebut dilakukan melalui dua tahapan (Arikunto dan Jabar,2008:129-130), yaitu:

1. Tabulasi data Tabulasi merupakan proses menyajikan data dalam bentuk tabel. Tabulasi merupakan coding sheet yang memudahkan peneliti dalam mengolah dan menganalisis data yang diperoleh, baik secara manual maupun menggunakan komputer. Tabulasi ini berisikan variabel-variabel objek yang akan diteliti dan angka-angka sebagai simbolisasi (label) dari kategori berdasarkan variabel-variabel yang diteliti. Dalam penelitian evaluasi ini, peneliti mentabulasi data yang diperoleh melalui kuesioner, dimana kuesioner yang disebarkan tersebut menekankan pada empat aspek (yakni: konteks, masukan, proses, dan hasil) yang dijadikan acuan dalam mengevaluasi program Intensive Course (IC) di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Dalam keempat aspek tersebut terdapat beberapa komponen/variabel yang diteliti dan komponen/variabel dari masing-masing aspek tersebut selanjutnya dirinci lagi menjadi beberapa indikator. Untuk memudahkan pemaknaan/ penafsiran data, peneliti memberikan kategori dan kode/label dalam bentuk nominal maupun ordinal terhadap indikator-indikator tersebut. 2.Pengolahan/Analisis Data
Kegiatan menganalisis data merupakan kegiatan lanjutan setelah data terkumpul dan ditabulasi. Dari pengolahan data, bisa didapatkan keterangan/ informasi yang bermakna atas sekumpulan angka, simbol, atau tanda-tanda yang didapatkan dari lapangan. Informasi tersebut akan menggambarkan kondisi yang ingin diketahui tentang program pendidikan yang dievaluasi. Berdasarkan informasi itulah evaluator akan memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada para pemegang kebijakan pendidikan yang terkait maupunstakeholder(Arikunto dan Jabar, 2008:143).

I. pengecekan Keabsahan DataMenurut Moleong, kriteria keabsahan dataada empat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility), (2) keteralihan (tranferability), (3) kebergantungan (dependibility), (4) kepastian (konfermability). Dalam penelitian evaluasi ini memakai 3 macam antara lain :

1. Kepercayaan (kreadibility) kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi, sumber, pengecekan anggota, perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan, diskusi teman sejawat, dan pengecekan kecakupan refrensim
2. Kebergantungan (depandibility)Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman, waktu, pengetahuan. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggung jawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing.
3. Kepastian (konfermability)Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit.










3.1 Kesimpulan

Pengelolaan pelabuhan merupakan suatu hal yang sangat kompleks. Meskipun pemerintah telah dengan sangat baik menetapkan ketentuan pengelolaannya, masalah masih tetap ada. Hal ini umumnya dikarenakan kurangnya modal untuk mengembangkan pelabuhan yang ada. Sehingga menyebabkan kurang baiknya kepengurusan pelabuhan, seperti buruknya fasilitas pelabuhan yang ada.

Prestasi pelabuhan di Indonesia juga tidak membanggakan. Kita masih kalah jauh jika dibandingkan dengan negara – negara asia tenggara lainnya seperti Singapura dan Malaysia. Oleh karena itu kita perlu untuk mengejar ketertinggalan kita ini.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memperbaiki fasilitas dasar dari pelabuhan, yang selama ini selalu dikeluhkan. Peran serta pemerintah sangat penting guna memastikan bahwa hal ini berjalan sebagaimana mestinya.

Dengan adanya kesadaran mengenai hal ini, niscaya akan tercipta pola pengembangan pelabuhan yang berkesinambungan, yang mampu untuk memperbaiki kinerja pelabuhan di Indonesia. Namun sekali lagi kami tekankan, tahap perncanaan dan tahap pengawasan merupakan factor yang sangat mempengaruhi terwujudnya hal ini.

Tidak realistis memang mengharapkan Indonesia mampu untuk bersaing dengan Singapura atau Malysia dalam hal kualitas pelabuhan. Akan tetapi kita harus tetap optimis, pelabuhan di Indonesia suatu saat nanti akan memilikiprestasi yang membanggakan.

3.2. Saran

Jadi pada dasarnya Indonesia telah memiliki jaringan perhubungan yang cukup baik bila terurus dengan baik. Akan tetapi karena pertumbuhan penduduk, keterbatasan anggaran untuk pengurusan, serta mobilitas satuan-satuan ekonomi yang lebih cepat, tepat, selamat, maka sektor perhubungan masih dianggap sektor yang harus terus dibenahi karena memegang peranan strategis bagi pertumbuhan ekonomi. Untuk itu pemerintah diharapkan memberi prioritas penting pada sektor perhubungan khususnya perhubungan laut.






Daftar Pustaka


Berita Maritim. 2007. “Dukung Perdagangan – Perlu Revutalisasi Pelabuhan” dalam http://www.beritamaritim.com, diakses 18 Maret 2011.
Humas Setda. Kabupaten Belitung. 2008. “Master Plan Pelabuhan Tanjung Padan” dalam http://www.belitungkab.go.id, diakses 16 Maret 2011.
Investor Daily. 2011. “Ironi Pelabuhan di Negeri Kepulauan” dalam http://www.investor.co.id, diakses 16 Maret 2011.
Kompas. 2008. “Transportasi Pelabuhan Indonesia” dalam http://www.pksplipb.or.id, diakses 17 Maret 2011.
Menteri Perhubungan. 2002. Tatanan Kepelabuhan Nasional – Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 53 TAHUN 2002.