Featured

Beauty

Tampilkan postingan dengan label Delik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Delik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2016

Panwascam Meral Barat

Media Pisau Bermata Dua

    Tidak ada komentar:

Kehebatan dunia teknologi membawa angin segar dalam kemajuan di dunia dan memudahkan para penggunanya, terutama manusia, objek dari terciptanya teknologi tersebut. Namun dalam perkembangannya teknologi telah berubah menjadi senjata yang bermata dua.

Di satu sisi untuk kebaikan dan sisi lain sebagai keburukan, walau di pandang lebih banyak manfaatnya dari pada keburukannya. Namun tidak boleh dipandang dengan sebelah mata, justru secara perlahan tapi pasti akibat timbul dari keburukan itu maka kebaikan dari teknologi akan memudar ketika objeknya -manusia- telah berangsur salah dalam menggunakannya.

Contohnya dunia maya. Apasih kegunaan dari FB, Twiter, BBM, dan lain-lain? Tentunya fungsi utama dari media tersebut agar mudah berinteraksi dengan orang lain secara eksklusif walau jarak yang jauh, lalu mengirim foto, file, hanyalah sarana sebagai pendukung dalam efektivitas interaksi seseorang. Kemudian memajang foto dan mengungkapkan perasaan/status juga bagian dari opsi terhindarnya monoton pada media tersebut.

Namun, media sekarang telah salah diartikan oleh sebagian orang. Menghumbar aib orang bahkan sendiri kini sepertinya hal yang lumrah, belum lagi memajang foto yang tidak senonoh dan kata-kata kotor. Mungkin hal ini diluar sadar mereka, tetapi boleh jadi juga kesengajaannya agar terlihat sesuatu yang menarik sampai-sampai ingin mendapat suatu pujian yang diinginkan.

Memang, kita tidak bisa mendikte niat seseorang. Tetapi dari kata-kata dan argumen yang lontarkan yang melihat tentu mempunyai pandangan tersendiri. Dan kebanyakan dari mereka menginginkan pengakuan yang beragam. Pengakuan tersebut seakan mengharap sesuatu yang lebih, terkadang juga menjadi ajang tempat mencari citra.

Kamis, 18 Agustus 2016

Panwascam Meral Barat

Lagi-lagi Gedung KECC Yang di Sorot

    Tidak ada komentar:

Apa yang terjadi di atas ? foto yang diambil pada perayaan HUT RI yang ke 71 di costal area tersebut mengundang reaksi saya yang kesekian kali untuk membahasnya.
Sebenarnya tidak ada yang salah pada gambar di atas, namun tahukan anda kalau bangunan yang diduduki para penonton tersebut adalah aset Pemkab Karimun yang tidak terpakai dan tak jelas kemana arah tujuannya. Namanya adalah Karimun Exebithion and Convention Centre (KECC), bangunan milliyaran rupiah yang seyogyanya menjadi penunjang PAD Karimun namun sampai detik ini tidak ada satupun pergerakkan yang dilakukan oleh pemerintah daerah Karimun..

Kami dari PC PMII Karimun meminta pemerintah Kab Karimun untuk serius mengelola bangunan ini, dan untuk para dewan terhormat segera bertindaklah yang sebagaimana seharusnya.. 

Selasa, 19 Juli 2016

Panwascam Meral Barat

Sarjana Mengajar Calon Sarjana

    Tidak ada komentar:

Dosen adalah tenaga pengajar di lingkungan kampus yang di harapkan mampu mengembangkan kemampuan mahasiswa.
Tapi, hari ini masih banyak dosen yang mengajar hanya sekedar mengajar, hanya mengharapkan gaji dan mengisi kesibukannya yang kosong. Barangkali niat mereka mengajar hanya sebagai batu loncatan untuk mencari gelar yang lebih tinggi.
Fakta yang ada, dosen tipekal seperti ini adalah dosen yang masih menyandang gelar sarjana, tidak relevan bila di zaman ini masih terdapat sarjana mengajar calon sarjana dalam kampus Universitas Karimun.

Kamis, 16 Juni 2016

Panwascam Meral Barat

Negeri Tanpa Raja

    Tidak ada komentar:
Kampus Universitas Karimun
Pemerintah kita telah dewasa menyikapi birokrasi indonesia dalam menangani mekanisme trias politica (eksekutif, legislatif dan yudikatif), regulasi yang ada sudah baik dari yang diharapkan oleh pendahulu negeri ini. Namun penataannya masih kurang dari hasil dampak untuk pengimplementasinya.

Negeri ini bukan hanya sekedar negara yang menangani rakyat di dalamnya, banyak sekali problematika yang harus di kedepankan dalam sebuah agenda khusus. Salah satunya tingkah laku dalam menyikapi sistem yang diberikan oleh petinggi birokrat. Biasanya sikap yang diberikan selalu berbeda menurut tempat dan keadaan yang sedang berlangsung. Sementara itu, pimpinan lembaga yang cenderung menjadi objek. Sangat begitu vital dalam mempengaruhi tipikal seseorang untuk menyikapi persoalan yang hangat dan sulit. Jika proses yang tak kunjung selesai maka pemimpin menjadi tumbal moral dalam keinstitusiannya.

Di dalam negara terdapat negara-negara kecil yang di pimpin oleh orang-orang yang berasal dari prodi/jurusan dan berbagai latar belakang, layaknya sebuah negara pastinya memiliki struktur yang memiliki fungsinya masing-masing. Bukan DPR, DPD dan DPRD yang di maksud. Semua itu hanya kiasan untuk melambangkan sebuah negara dalam kampus. Badan eksekutif yang di pimpin oleh presiden BEM harus mempunyai kualifikasi serta jejak rekam yang notabane berjiwa intelek, relegius, sosial, kritis dan berfikir secara visioner demi terwujudnya kegiatan kemahasiswaan di kampus. Untuk mencari kemampuan seseorang lengkap seperti itu cukup sulit ditemukan, tetapi kriteria kesadaran akan tingkat keberhasilan dalam memimpin harus ada sebagaimana dalam ucapan sumpah jabatan. Mundur ketika gagal dan lanjut terus ketika dipandang bagus.

Nah jika sudah memiliki negara dan pemimpin intitusi di kampus maka tidak mungkin mahasiswa lain dan utusan mahasiswa tidak ikut berperan dalam menangani nasib kedepannya kampus tersebut. Sekali lagi negara yang saya sebut patut kita pahami sebuah negara kecil yang berdemokrasi, ialah  dalam ruang lingkup universitas. Jadi berdemokrasi di dalam kampus harus ada yang namanya lembaga legislatif (Badan legislatif Mahasiswa), lembaga eksekutif (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan sebagainya sesuai statuta yang ada.

Istilah demokrasi yang selalu di agungkan di negara republik pantas di ikuti oleh setiap organisasi kampus di indonesia dalam memutuskan mufakat, perbedaannya hanya dalam segi kuantitas. Namun dari aspek kualitas badan legislatif, eksekutif, yudikatif dan rakyatnya harus sama rata walau masih dalam tahap pengembangan. Demi tujuan tersebut perlu dipandang lagi peranan kampus dalam menfasilitasi kegiatan kemahasiswaan tersebut. Bukan tidak mungkin dalam perekrutan mahasiswa baru bisa dijadikan modal dalam kegiatan kemahasiswaan, caranya dengan uang pendaftaran yang ada sebagian di alokasikan ke kegiatan kemahasiswaan. Lalu dalam penentuan anggaran untuk kegiatan di atur oleh Badan Legislatif Mahasiswa (BLM). Tetapi kenyataan yang ada hanyalah buaian belaka, seperti menelan air liur ketika menuntut dana kemahasiswaan diungkit dengan persentase seberapa banyak mahasiswa yang belum membayar uang semester. Riskan sekali bukan?!.

Ingin menjadi apa kampus kita bila semua organisasi vakum dari kegiatan kemahasiswaan ?? Masihkah ingin berlanjut seperti ini dan terus apatis ? Atau yang lebih logika lagi kita adakan sebuah upaya untuk mendesak, merubah, mengganti, merombak kepemimpinan sekarang yang bertujuan selain regenerasi juga kefektifan dalam menemukan titik temu.

Seyogyanya harus ada gebrakan untuk membuka cakrawala para rakyat kita atau mahasiswa lain yang selama ini kita kenal apatis terhadap kegiatan kemahasiswaan, barang kali itu yang menjadi dasar enggannya orang kuat kampus dalam menyumbangkan kewajibannya. Namun tidak bisa seperti itu bila ingin memajukan kampus ini, semua tentu harus ada yang namanya pengorbanan dalam bentuk materi.

Akhirnya pesimislah yang menjadi akhir dari segala persoalan di kampus, semangat pelantikan, agenda besar, jiwa yang kritis, telah sirna akibat realita yang ada. Semuanya pupus dan meninggalkan kesan yang buruk di rakyat/mahasiswa lain atas gaya kepemimpinan dari hasil akhirnya.
Kembali lagi pada tulisan awal, ibarat pertandingan sepak bola. Tipikal mahasiswa Universitas Karimun hari ini telah mengikuti irama musuh abadinya, bukan jin atau setan tapi rasa pesimis. Berakibat berakhirnya institusi internal kampus, BEM UK yang di banggakan.

Maaf jika tulisan ini terlalu berat untuk dicerna, karena menurut saya mahasiswa perlu juga membaca tulisan yang berupa fakta bukan sekedar opini. Jika tulisan ini lebih ke arah membangun semangat terlebih memotivasi mahasiswa khususnya mahasiswa Universitas Karimun maka fikirkanlah baik-baik apa yang harus dilakukan demi kemajuan kampus kita. Dan jika menurut kalian ini hanya ocehan dari ketidaksenangan terhadap pucuk pimpinan kampus maka anda telah salah dalam menyikapi pemahaman penulis. Sebab ini semua dari mahasiswa oleh mahasiswa dan untuk mahasiswa.

Baca juga : Skripsi Di Tiadakan Suatu KemunduranSeluk Beluk 3 Organisasi Mahasiswa Di Universitas Karimun

Kamis, 26 Mei 2016

Panwascam Meral Barat

Infrastruktur Kurang Mahasiswa Resah

    Tidak ada komentar:
Infrastruktur yang belum memadai membuat masyarakat terhambat dalam melaksanakan kegiatannya, tidak salah bila Indonesia masih disebut negara berkembang dan sungguh menyedihkan bila negara tetangga sudah maju lebih duluan. Apa guna bila kota-kota besar di nusantara ini sudah maju tetapi kota kecil masih tetap saja berkutat dengan kekurangan infrastruktur. Seperti; tidak adanya aliran listrik, air hingga putusnya akses menuju desa yang berpotensi menjadi daya tarik wisata, serta masih banyak lagi permasalahan yang begitu amat kompleks untuk diselesaikan oleh pemerintah.

Bukan putus asa yang diharapkan oleh masyarakat untuk pemerintah, melainkan optimisme yang tinggi kepada pemerintah untuk menyelesaikan ini semua. Dimana mereka yakin dan percaya bahwa dewan yang mereka pilih mampu untuk mewujudkan keinginan masyarakat.

Tapi kenyataan yang ada pemerintah seperti tidak siap dalam menghadapi permasalahan ini. Saya menganggapnya entah itu karena kurangnya kemampuan, ketidakpedulian, atau bisa jadi karena birokrasi yang berbeli-belit sehingga memakan waktu yang cukup lama untuk merealisasikan kebijakan itu. Misalnya persoalan listrik di kabupaten karimun yang belum bisa terselesaikan, seringnya mati lampu dan tidak adanya lampu penerangan di kawasan kampung baru tebing, yang menjadi akses bagi mahasiswa yang ingin menuju ke kampus univesitas karimun. Masalah ini sudah sangat lama terjadi, dari saya masuk semester satu hingga saat ini memasuki semester empat, artinya sudah 2 tahun masalah ini belum bisa diatasi. Seharusnya dalam waktu 2 tahun cukup untuk dapat diatasi.

Bila tidak segera direlisasikan, maka tidak ada kata tidak mungkin masyarakat dan para mahasiswa akan unjuk rasa untuk yang kesekian kalinya. Tentu setiap orang tidak ada yang menginginkan itu terjadi sebagaimana dahulu kantor PLN dirusak karena kesesalan warga karimun yang kabarnya melakukan pemadaman sepihak. Hal ini tentu akan merugikan waktu dan juga materi.Ini baru dua masalah yang membuat mahasiswa resah belum lagi masalah jalan yang belum di aspal, berlubang dan lainnya.Terkadang untuk mencari jalan tengah saya ingin usulkan dan semoga saja terkabukan. Yakni, memberikan ¼ gajinya para pejabat di kota ini untuk membantu membangun infrastruktur demi terwujudnya kesinambungan ekonomi. Agaknya, harapan saya amat kecil bila dilihat dari keadaan para pejabat sekarang.
Panwascam Meral Barat

Nasib Gedung Mewah Di Bumi Berazam

    Tidak ada komentar:

Setiap kebijakan yang di berikan pasti ada sebab dan akibat, dari akibat tersebut akan ada dua jawaban. Yakni kebijakan yang memberi manfaat/kebaikan dan kebijakan yang memberikan kerugian/keburukan. Hasil dari kebijakan tersebut pastilah yang di permasalahkan kerugian/keburukannya dari pada kebaikan itu sendiri, karena kita cenderung mengadopsi pendapat yang cukup populer, yaitu ‘Yang salah diperbaiki dan yang benar diteruskan.’ Lantas timbullah sebuah pertanyaan “apa yang menyebabkan kebijakan tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan?“ Boleh jadi jawabannya adalah salah di perencanaan.

Jika di analogikan sangat tepat bila dengan permasalahan yang ada di kabupaten karimun. Contohnya banyak, ada pasar yang tidak terpakai di daerah toko buku ‘salemba’, terus rumah dinas bupati dan wakilnya yang tidak dioptimalkan dengan baik sehingga dibiarkan kosong tampa penghuni begitu saja, yang lebih parahnya lagi adalah gedung besar yang berada di tepi laut costal area. Begitu tinggi dan megahnya gedung tersebut membuat mata selalu tertuju pada bangunan itu, dari struktur bentuknya menampakkan bahwa gedung tersebut milik pemerintah yang tentu memakan dana yang tidak kecil.

Selanjutnya, dengan adanya gedung tersebut menjadikan suatu nilai kemunduran bagi Pemkab. Karimun dalam hal membangun kota yang katanya ingin bersaing dengan kabupaten lain dalam mewujudkan masyarakat sejahtera. Lokasi yang sekitarnya selalu ramai para pengunjung lokal maupun luar kota menjadikan pemandangan yang kurang menarik karena tidak adanya aktivitas apapun di dalam gedung tersebut. Kini gedung yang dibangun melalui uang rakyat itu terbengkalai tanpa ada kejelasan statusnya, sehingga membuat orang terutama dikalangan mahasiswa bertanya-tanya.

Jadi pertanyaannya apa hasil dari kebijakan pemerintah itu? Jawabannya adalah kerugian yang menimbulkan berbagai keburukan. Akan tetapi bila pemerintah sadar akan kesia-siaan mereka tentu jawabannya akan berbeda dari hari ini dan hanya waktu yang bisa menjawabnya semua. Di kala bangunan itu sudah kumuh, bau dan tidak terawat barulah mereka sadar untuk memanfaatkannya.

Menurut saya hal tersebut sangat disayangkan bila tidak di manfaatkan secara baik, mengingat gedung yang megah dan strategis itu berpotensi untuk kemajuan pertumbuhan ekonomi kabupaten karimun. Gedung tersebut bisa dijadikan tempat pemasaran hasil kerajinan tangan masyarakat untuk dijadikan buah tangan kepada pengunjung, jika di optimalkan dengan baik maka bukan saja meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) kabupaten karimun tetapi juga menjadi lahan pekerjaan bagi masyarakat karimun. Program ini bisa terealisasi bila aspirasi ini di dengar para dewan yang duduk di singgasananya, bila tidak maka untuk didiskusi saja sudah cukup kagum bagi penulis untuk apresiasinya kepada saya.

Dari : Rudi Saputra (Anggota PMII Kab. Karimun)